IMF Peringatkan Perlambatan Ekonomi Global 2026, Apa Artinya bagi Asia Tenggara

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 5 Januari 2026 - 21:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

JAKARTA- Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund kembali mengeluarkan peringatan terkait potensi perlambatan ekonomi global pada 2026.

Proyeksi ini muncul di tengah tekanan suku bunga tinggi, konflik geopolitik, dan ketidakpastian perdagangan internasional yang masih membayangi perekonomian dunia.

IMF menilai bahwa pertumbuhan ekonomi global berpotensi melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Negara maju menghadapi tantangan inflasi dan biaya pinjaman tinggi, sementara negara berkembang harus beradaptasi dengan arus modal yang lebih selektif dan kondisi keuangan global yang ketat.
Bagi kawasan Asia Tenggara, perlambatan ekonomi global dapat berdampak pada kinerja ekspor.

Baca Juga :  Iuran BPJS Kesehatan 2026 Dipastikan Tidak Naik, Ini Penjelasan Pemerintah

Permintaan dari negara mitra dagang utama berpotensi melemah, sehingga memengaruhi sektor industri dan perdagangan di kawasan ini.
Indonesia sebagai salah satu ekonomi terbesar di Asia Tenggara tidak lepas dari dampak tersebut.

Penurunan permintaan global dapat memengaruhi ekspor komoditas dan manufaktur. Namun, konsumsi domestik yang kuat diharapkan menjadi penyangga utama pertumbuhan ekonomi nasional.

IMF juga menyoroti pentingnya kebijakan fiskal yang hati-hati. Di tengah perlambatan global, pemerintah diharapkan menjaga keseimbangan antara stimulus ekonomi dan disiplin anggaran agar stabilitas makro tetap terjaga.

Selain itu, reformasi struktural dinilai menjadi kunci untuk memperkuat daya tahan ekonomi kawasan. Peningkatan produktivitas, investasi infrastruktur, dan penguatan sektor keuangan menjadi faktor penting dalam menghadapi tantangan global.

Baca Juga :  Uang dan Personel Sudah Siap, APBN 2026 Langsung Jalan di Awal Tahun

Bagi pelaku usaha, peringatan IMF menjadi sinyal untuk lebih berhati-hati dalam menyusun strategi bisnis. Efisiensi operasional dan diversifikasi pasar menjadi langkah yang semakin relevan di tengah ketidakpastian global.

Meski menghadapi tantangan, Asia Tenggara masih memiliki peluang pertumbuhan jangka menengah. Dengan fundamental ekonomi yang relatif kuat dan pasar domestik yang besar, kawasan ini tetap dipandang menarik oleh investor global. (fyo)

Berita Terkait

PT Bank Maybank Indonesia Tbk Raup Laba Bersih Rp1,70 Triliun Sepanjang 2025
Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini 27 Februari 2026 Naik, 1 Gram Tembus Rp3,283 Juta
Anak Usaha BRI Sumbang Rp10 Triliun Laba
Resmi Masuk Indonesia, Ini Harga Galaxy S26, S26 Plus, dan S26 Ultra
LPDP Terapkan Sanksi, Empat Alumni Kembalikan Dana ke Kas Negara
Bukan 31 Maret, ASN Harus Lapor SPT Paling Lambat 28 Februari
Di Balik Performa Apik Maarten Paes: Nilai Transfer dan Gajinya Bikin Penasaran
Tarif Trump Dibatalkan Mahkamah Agung AS, Ini Sikap Pemerintah Indonesia
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 27 Februari 2026 - 09:53 WIB

Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini 27 Februari 2026 Naik, 1 Gram Tembus Rp3,283 Juta

Jumat, 27 Februari 2026 - 08:04 WIB

Anak Usaha BRI Sumbang Rp10 Triliun Laba

Kamis, 26 Februari 2026 - 19:01 WIB

Resmi Masuk Indonesia, Ini Harga Galaxy S26, S26 Plus, dan S26 Ultra

Kamis, 26 Februari 2026 - 17:09 WIB

LPDP Terapkan Sanksi, Empat Alumni Kembalikan Dana ke Kas Negara

Kamis, 26 Februari 2026 - 08:09 WIB

Bukan 31 Maret, ASN Harus Lapor SPT Paling Lambat 28 Februari

Berita Terbaru

Nasional

Fenomena Blood Moon Akan Terangi Langit Indonesia Awal Maret

Sabtu, 28 Feb 2026 - 03:02 WIB

Teknologi

Layak Ganti? Ini Beda Galaxy S26 Ultra dan S25 Ultra

Jumat, 27 Feb 2026 - 23:30 WIB