JAKARTA- Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund kembali mengeluarkan peringatan terkait potensi perlambatan ekonomi global pada 2026.
Proyeksi ini muncul di tengah tekanan suku bunga tinggi, konflik geopolitik, dan ketidakpastian perdagangan internasional yang masih membayangi perekonomian dunia.
IMF menilai bahwa pertumbuhan ekonomi global berpotensi melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Negara maju menghadapi tantangan inflasi dan biaya pinjaman tinggi, sementara negara berkembang harus beradaptasi dengan arus modal yang lebih selektif dan kondisi keuangan global yang ketat.
Bagi kawasan Asia Tenggara, perlambatan ekonomi global dapat berdampak pada kinerja ekspor.
Permintaan dari negara mitra dagang utama berpotensi melemah, sehingga memengaruhi sektor industri dan perdagangan di kawasan ini.
Indonesia sebagai salah satu ekonomi terbesar di Asia Tenggara tidak lepas dari dampak tersebut.
Penurunan permintaan global dapat memengaruhi ekspor komoditas dan manufaktur. Namun, konsumsi domestik yang kuat diharapkan menjadi penyangga utama pertumbuhan ekonomi nasional.
IMF juga menyoroti pentingnya kebijakan fiskal yang hati-hati. Di tengah perlambatan global, pemerintah diharapkan menjaga keseimbangan antara stimulus ekonomi dan disiplin anggaran agar stabilitas makro tetap terjaga.
Selain itu, reformasi struktural dinilai menjadi kunci untuk memperkuat daya tahan ekonomi kawasan. Peningkatan produktivitas, investasi infrastruktur, dan penguatan sektor keuangan menjadi faktor penting dalam menghadapi tantangan global.
Bagi pelaku usaha, peringatan IMF menjadi sinyal untuk lebih berhati-hati dalam menyusun strategi bisnis. Efisiensi operasional dan diversifikasi pasar menjadi langkah yang semakin relevan di tengah ketidakpastian global.
Meski menghadapi tantangan, Asia Tenggara masih memiliki peluang pertumbuhan jangka menengah. Dengan fundamental ekonomi yang relatif kuat dan pasar domestik yang besar, kawasan ini tetap dipandang menarik oleh investor global. (fyo)









