Jakarta-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit setelah sempat anjlok lebih dari 1% pada perdagangan Rabu, 21 Oktober 2026. Indeks Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya ditutup menguat 0,94% ke level 5.328,36.
Pemulihan ini menjadi perhatian investor setelah IHSG bergerak sangat fluktuatif sepanjang perdagangan. Indeks sempat menguat sekitar 0,6% pada pembukaan, sebelum berbalik melemah dan masuk zona merah.
Tekanan jual bahkan membawa IHSG terkoreksi lebih dari 1%. Pada penutupan sesi pertama, indeks masih melemah sekitar 0,8%. Namun, kondisi pasar berangsur membaik hingga IHSG kembali menguat menjelang penutupan.
Salah satu sentimen positif yang menjadi perhatian pasar adalah keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 5,75% pada Oktober 2026. Kebijakan tersebut memberikan kepastian mengenai arah suku bunga dalam jangka pendek.
Bagi investor saham, keputusan BI memiliki arti penting karena suku bunga dapat memengaruhi biaya pinjaman, konsumsi, dan keputusan investasi perusahaan. Namun, dampaknya terhadap harga saham berbeda-beda, bergantung pada kondisi keuangan dan prospek bisnis setiap emiten.
Saham perbankan juga menjadi perhatian setelah BI mempertahankan suku bunga. Stabilitas suku bunga dapat memengaruhi biaya dana dan margin bunga bank, meskipun hasil akhirnya bergantung pada strategi pendanaan serta kualitas kredit masing-masing perusahaan.
Di sisi lain, kenaikan IHSG belum otomatis menandakan pasar memasuki tren penguatan yang berkelanjutan. Investor masih perlu mencermati pergerakan rupiah, arus modal asing, sentimen global, serta volume transaksi pada perdagangan berikutnya.
Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya mengejar saham yang naik tajam dalam satu hari. Memeriksa laporan keuangan, valuasi, dan risiko investasi tetap penting sebelum membeli saham. Kemampuan IHSG mempertahankan penguatan juga menjadi salah satu indikator yang layak diperhatikan. (*)
Editor : FANDA YOSEPHTA









