Suku Bunga AS Bertahan di 3,75–4 Persen, Pasar Menanti Keputusan The Fed 28 Oktober

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 21 Oktober 2026 - 01:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Suku bunga Amerika Serikat menjadi perhatian pelaku pasar menjelang rapat Federal Reserve (The Fed) pada 27–28 Oktober 2026. Bank sentral AS sebelumnya menaikkan suku bunga acuan menjadi 3,75–4,00 persen pada 16 September 2026.

Data terbaru menunjukkan tekanan inflasi masih menjadi tantangan bagi perekonomian AS. Indeks Harga Konsumen (CPI) pada September 2026 meningkat 0,6 persen secara bulanan. Secara tahunan, inflasi mencapai 3,7 persen, naik dari 3,4 persen pada Agustus.

Kenaikan harga energi turut mendorong tekanan tersebut. Harga bensin melonjak 7,1 persen selama September. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa inflasi Amerika Serikat belum kembali terkendali.

Meski demikian, The Fed belum tentu langsung menaikkan suku bunga pada Oktober. Survei Reuters pada 16–20 Oktober menunjukkan 94 dari 100 ekonom memperkirakan suku bunga tetap pada kisaran 3,75–4,00 persen dalam rapat mendatang.

Baca Juga :  Harga Ethereum Hari Ini 28 April 2026 Turun 3,5%, Ini Analisis dan Prediksi Terbarunya

Namun, arah kebijakan Desember menghadirkan risiko berbeda. Seluruh 100 ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan The Fed kembali menaikkan suku bunga pada Desember. Proyeksi tersebut mencerminkan kekhawatiran terhadap inflasi yang bertahan di atas target bank sentral sebesar 2 persen. Perkiraan ini bukan keputusan resmi The Fed.

Perubahan kebijakan The Fed dapat memengaruhi pergerakan dolar AS dan rupiah. Suku bunga AS yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar. Namun, pergerakan kurs tetap bergantung pada kondisi ekonomi, arus modal, serta kebijakan Bank Indonesia.

Baca Juga :  Investor Asing Berbalik Net Buy di BEI, Saham BUMI Jadi Buruan Utama

Pasar emas juga menghadapi risiko perubahan ekspektasi suku bunga. Kenaikan imbal hasil obligasi AS dan penguatan dolar dapat menekan harga emas karena meningkatkan biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil. Sementara itu, Bitcoin dan aset kripto berpotensi menghadapi tekanan jika investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

Investor kini menantikan keputusan The Fed pada 28 Oktober 2026 serta petunjuk mengenai kebijakan Desember. Perkembangan inflasi, harga energi, dan kondisi pasar tenaga kerja akan menjadi faktor penting. Pelaku pasar perlu membedakan keputusan resmi bank sentral dari proyeksi ekonom sebelum mengambil keputusan investasi. (Tim)

Editor : FANDA YOSEPHTA

Berita Terkait

Harga Toyota Fortuner Bekas Oktober 2026, Mulai Rp 135 Juta, Ini Daftar Lengkapnya
IHSG Melejit 5,65% ke 5.278, Saham BBCA, BBRI, dan BMRI Kompak Menguat
Rupiah Menguat ke Rp17.995 per Dolar AS, Pasar Menanti Keputusan BI Rate 21 Oktober 2026
BI Siapkan Intervensi dan Hedging untuk Jaga Rupiah, Dana Masuk Capai US$9 Miliar
Rupiah Menguat ke Rp18.038 per Dolar AS pada 20 Oktober 2026, Investor Menanti Keputusan BI
Harga Emas Antam, UBS, dan Galeri 24 Hari Ini di Pegadaian 20 Oktober 2026: Cek Harga 1 Gram dan Buyback
Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini 20 Oktober 2026, 1 Gram Rp2.613.000
Harga Emas Perhiasan Hari Ini 20 Oktober 2026: 24 Karat Rp2,191 Juta per Gram
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 01:00 WIB

Suku Bunga AS Bertahan di 3,75–4 Persen, Pasar Menanti Keputusan The Fed 28 Oktober

Selasa, 20 Oktober 2026 - 21:02 WIB

Harga Toyota Fortuner Bekas Oktober 2026, Mulai Rp 135 Juta, Ini Daftar Lengkapnya

Selasa, 20 Oktober 2026 - 16:30 WIB

IHSG Melejit 5,65% ke 5.278, Saham BBCA, BBRI, dan BMRI Kompak Menguat

Selasa, 20 Oktober 2026 - 15:47 WIB

Rupiah Menguat ke Rp17.995 per Dolar AS, Pasar Menanti Keputusan BI Rate 21 Oktober 2026

Selasa, 20 Oktober 2026 - 14:26 WIB

BI Siapkan Intervensi dan Hedging untuk Jaga Rupiah, Dana Masuk Capai US$9 Miliar

Berita Terbaru