Hack Binance Terbesar? Ini Kronologi Dugaan Pencurian Aset Kripto Rp114 Triliun

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 00:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KAYONEWS.CO.ID – Bursa aset kripto Binance dilaporkan mengalami insiden keamanan besar pada Jumat (30/10/2026). Serangan yang masih dalam penyelidikan ini diduga melibatkan laptop seorang karyawan yang telah disusupi peretas, sebelum akses tersebut dimanfaatkan untuk melakukan transaksi aset kripto tanpa izin.

Berdasarkan laporan awal yang dikutip dari sejumlah perusahaan keamanan blockchain, nilai aset yang terdampak diperkirakan mencapai US$6,3 miliar atau setara Rp114 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar US$3 miliar atau Rp54,5 triliun dilaporkan telah dibekukan melalui koordinasi dengan sejumlah pihak di industri kripto.

Meski demikian, angka tersebut masih perlu dipahami sebagai estimasi berdasarkan laporan awal. Nilai kerugian akhir, jumlah aset yang berhasil dipulihkan, serta penyebab pasti insiden masih menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut.

Kasus ini menjadi perhatian karena memperlihatkan bagaimana perangkat kerja karyawan berpotensi menjadi pintu masuk serangan terhadap sistem perusahaan yang mengelola aset digital bernilai besar.

Kronologi Peretasan Binance: Serangan Diduga Disiapkan Sejak 28 Oktober

Laporan perusahaan keamanan blockchain Blockaid menyebutkan bahwa persiapan serangan diduga telah berlangsung sejak 28 Oktober 2026.

Pada tahap awal, alamat dompet kripto yang dikaitkan dengan pelaku menerima dana melalui Tornado Cash. Layanan tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan privasi transaksi dengan menyamarkan hubungan antara transaksi masuk dan keluar.

Setelah itu, pelaku diduga melakukan serangkaian pengujian transaksi dan menyiapkan smart contract, yakni program yang dapat menjalankan instruksi secara otomatis di jaringan blockchain.

Aktivitas tersebut kemudian berlanjut pada Jumat dini hari.

Sekitar pukul 03.20 WIB, pelaku dilaporkan mengirimkan 50 percobaan otorisasi menggunakan mekanisme Ethereum Improvement Proposal 7702 atau EIP-7702. Targetnya adalah Binance Hot Wallet 14, salah satu dompet yang digunakan untuk mendukung transaksi aset kripto.

Menurut analisis Blockaid, hanya satu dari 50 percobaan otorisasi tersebut yang berhasil. Keberhasilan itu diduga membuka jalan bagi pengalihan kewenangan transaksi ke smart contract yang telah disiapkan.

Sekitar empat menit kemudian, tepatnya pukul 03.24 WIB, aset senilai kurang lebih US$2,5 miliar dilaporkan dipindahkan dari dompet tersebut. Aset yang terdampak mencakup Ethereum (ETH) dan sejumlah token lainnya.

Dalam sekitar 12 menit berikutnya, aktivitas transfer tambahan terdeteksi dari beberapa dompet Binance di jaringan blockchain berbeda.

Setelah menemukan aktivitas yang mencurigakan, Binance mengumumkan penyelidikan terhadap potensi insiden keamanan. Perusahaan juga menghentikan sementara layanan deposit dan penarikan aset kripto serta layanan Binance Alpha untuk melakukan pemeriksaan.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya membatasi risiko dan mengevaluasi dampak serangan terhadap sistem.

Laptop Karyawan Diduga Menjadi Titik Awal Serangan

Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam kasus ini adalah dugaan penyusupan terhadap laptop milik seorang engineer DevOps Binance.

DevOps merupakan bidang pekerjaan yang berkaitan dengan pengembangan perangkat lunak, pengelolaan infrastruktur teknologi, serta proses operasional sistem.

Berdasarkan keterangan awal Binance, perangkat tersebut diduga telah dikompromikan oleh pihak yang tidak berwenang. Akses yang diperoleh pelaku kemudian diduga dimanfaatkan untuk memasuki lingkungan sistem internal perusahaan dan menjalankan transaksi penarikan tanpa izin.

Baca Juga :  Airlangga Ungkap Bantuan Baru untuk Desil 4, Tidak Diberikan dalam Bentuk Uang Tunai

Jika dugaan ini terbukti, insiden tersebut menunjukkan bahwa keamanan bursa kripto tidak hanya bergantung pada perlindungan dompet digital, tetapi juga pada keamanan perangkat kerja, pengelolaan hak akses, dan sistem operasional internal.

Laptop karyawan yang memiliki akses ke lingkungan penting perusahaan dapat menjadi sasaran bernilai tinggi bagi pelaku serangan siber.

Namun, mekanisme pasti yang menghubungkan dugaan penyusupan laptop dengan transaksi aset kripto tersebut masih harus dibuktikan melalui penyelidikan teknis.

Binance juga menyatakan belum menemukan bukti kebocoran private key atau kunci privat yang digunakan untuk mengendalikan aset kripto.

Pernyataan tersebut penting, tetapi tidak serta-merta menjelaskan seluruh jalur serangan. Investigasi masih diperlukan untuk memastikan bagaimana pelaku memperoleh kewenangan yang memungkinkan transaksi tidak sah dilakukan.

Mengenal EIP-7702 yang Diduga Dimanfaatkan Peretas

Analisis Blockaid menyoroti penggunaan EIP-7702 dalam serangan terhadap salah satu dompet Binance.

EIP-7702 merupakan mekanisme pada jaringan Ethereum yang memungkinkan akun tertentu memberikan kemampuan eksekusi kepada kode kontrak pintar melalui proses otorisasi.

Mekanisme ini dirancang untuk mendukung pengembangan fitur akun yang lebih fleksibel. Namun, seperti fitur teknologi lainnya, penggunaannya membutuhkan pengamanan dan pemahaman yang tepat mengenai kewenangan yang diberikan.

Dalam kasus Binance, pelaku diduga memanfaatkan mekanisme otorisasi tersebut untuk mengalihkan kendali transaksi kepada kontrak pintar berbahaya.

Kontrak itu disebut memiliki fungsi sweep(), yang diduga digunakan untuk memindahkan ETH dan token berbasis Ethereum dari dompet yang terdampak.

Apabila otorisasi berbahaya berhasil diberikan, aset dapat dipindahkan melalui kewenangan yang telah diperoleh kontrak tersebut. Karena itu, pemeriksaan terhadap proses otorisasi menjadi salah satu bagian penting dalam mengungkap bagaimana serangan terjadi.

Meski demikian, detail teknis serangan tetap perlu merujuk pada hasil investigasi yang telah dikonfirmasi. Keberadaan mekanisme EIP-7702 sendiri tidak berarti seluruh dompet Ethereum otomatis rentan terhadap pencurian.

Kelompok Peretas Korea Utara Diduga Terlibat

Selain menelusuri jalur masuk serangan, perusahaan analitik blockchain TRM Labs mengaitkan insiden tersebut dengan TraderTraitor, kelompok peretas yang oleh sejumlah otoritas dan perusahaan keamanan dikaitkan dengan Korea Utara.

TRM Labs menyebut penilaiannya didasarkan pada analisis transaksi on-chain, informasi di luar blockchain, serta kemiripan pola serangan dengan insiden sebelumnya.

Salah satu kasus yang menjadi pembanding adalah peretasan Bybit pada Februari 2025. Insiden tersebut menyebabkan kerugian sekitar US$1,5 miliar dan dikaitkan dengan kelompok peretas Korea Utara oleh sejumlah pihak, termasuk FBI.

TRM Labs menyoroti sejumlah kemiripan pola, seperti persiapan serangan sebelum pencurian, penggunaan layanan pencampur transaksi, serta pemindahan aset dalam waktu relatif singkat.

Dalam analisisnya, TRM Labs memperkirakan sekitar US$6,36 miliar aset telah dipindahkan dari dompet Binance di 10 jaringan blockchain.

Sebagian besar perpindahan aset tersebut dilaporkan berlangsung dalam waktu sekitar 20 menit.

Walaupun analisis perusahaan keamanan dapat membantu mengidentifikasi pola serangan, atribusi kepada kelompok tertentu tidak selalu sama dengan konfirmasi identitas pelaku secara hukum.

Oleh karena itu, dugaan keterlibatan TraderTraitor masih perlu dipahami sebagai hasil analisis keamanan yang harus dinilai bersama bukti penyelidikan lainnya.

Baca Juga :  Harga Kripto Hari Ini 7 Juni 2026: Bitcoin Bertahan di Atas Rp1 Miliar, Apakah Masih Menarik untuk Investasi?

Binance Berupaya Membekukan Aset dan Menelusuri Dana

Setelah aktivitas mencurigakan teridentifikasi, Binance dilaporkan berkoordinasi dengan penerbit stablecoin, perusahaan analitik blockchain, serta aparat penegak hukum untuk melacak dan membatasi pergerakan aset yang diduga dicuri.

Berdasarkan pembaruan yang dikutip dari Binance, sekitar US$3 miliar aset terdampak telah dibekukan.

Tether dilaporkan membekukan lebih dari US$1,5 miliar dalam bentuk USDT. Sementara itu, Circle disebut membekukan sekitar US$800 juta dalam USDC.

Pembekuan aset dapat membantu mengurangi kemungkinan dana dipindahkan atau digunakan lebih lanjut. Akan tetapi, pembekuan tidak otomatis berarti seluruh aset telah dikembalikan kepada pemilik yang sah.

Proses pemulihan tetap membutuhkan penelusuran, koordinasi antarpihak, serta prosedur yang berlaku pada masing-masing jaringan dan penyedia layanan.

Binance juga menyatakan akan menanggung kerugian akibat insiden tersebut menggunakan dana perusahaan dan Secure Asset Fund for Users (SAFU).

SAFU merupakan dana perlindungan yang disiapkan Binance untuk menghadapi keadaan darurat tertentu dan membantu melindungi pengguna.

Perusahaan turut menyatakan bahwa dana pengguna tetap aman. Meski demikian, perkembangan lebih lanjut perlu merujuk pada pembaruan resmi Binance dan hasil investigasi yang dapat diverifikasi.

Pelajaran Keamanan bagi Pengguna Aset Kripto

Kasus dugaan peretasan Binance menjadi pengingat bahwa keamanan aset digital melibatkan banyak lapisan, mulai dari perangkat pribadi, akun pengguna, sistem operasional bursa, hingga mekanisme transaksi pada blockchain.

Bagi pengguna, terdapat beberapa langkah yang dapat membantu mengurangi risiko kehilangan aset.

Pertama, aktifkan autentikasi multifaktor pada akun bursa kripto dan gunakan metode keamanan yang kuat.

Kedua, jangan menyetujui permintaan otorisasi dompet tanpa memahami fungsi serta kewenangan yang diberikan kepada aplikasi atau kontrak pintar.

Ketiga, hindari mengakses tautan mencurigakan, mengunduh perangkat lunak dari sumber tidak resmi, atau memberikan informasi autentikasi kepada pihak lain.

Keempat, periksa pengumuman resmi bursa apabila terjadi insiden keamanan, terutama terkait status deposit, penarikan, dan proses pemulihan layanan.

Kelima, pahami bahwa menyimpan aset di bursa dan menyimpannya pada dompet yang dikendalikan sendiri memiliki karakteristik risiko yang berbeda. Dompet pribadi pun tetap membutuhkan pengelolaan kunci privat dan prosedur keamanan yang baik.

Pengguna juga sebaiknya tidak mengambil keputusan jual beli hanya berdasarkan kabar peretasan atau pergerakan harga jangka pendek.

Pasar kripto memiliki volatilitas tinggi. Informasi yang belum terverifikasi dapat memicu keputusan terburu-buru dan meningkatkan risiko kerugian.

Investigasi Masih Berlangsung

Hingga Jumat (30/10/2026), sejumlah aspek penting dalam dugaan peretasan Binance masih menunggu kepastian, termasuk jalur masuk pelaku, keterkaitan perangkat karyawan dengan transaksi berbahaya, identitas pihak yang bertanggung jawab, serta nilai kerugian akhir.

Angka aset yang dibekukan juga perlu dibedakan dari jumlah dana yang benar-benar berhasil dipulihkan.

Perkembangan berikutnya akan bergantung pada hasil analisis forensik digital, penelusuran transaksi blockchain, serta koordinasi Binance dengan mitra industri dan penegak hukum.

Kasus ini sekaligus menegaskan bahwa keamanan aset digital tidak hanya ditentukan oleh teknologi blockchain, tetapi juga oleh ketahanan sistem internal dan pengelolaan akses terhadap infrastruktur yang menghubungkan layanan dengan aset pengguna.

 

Berita Terkait

PNS Tidak Bisa Dapat BSU Rp900 Ribu, Simak Aturan Terbaru 2026
Bank Mandiri Beri Kredit Rp40 Triliun kepada Perusahaan Haji Isam
Bansos Digital Perlinsos Segera Diluncurkan, Begini Cara Registrasi Calon Penerima
Hasil Pemilu Israel Terbaru: Netanyahu Belum Tentu Jadi PM, Ini Alasannya
BI Longgarkan GWM Bank Konvensional dan Syariah, Ini Dampaknya bagi Kredit
Investasi AI Membesar, Microsoft Buka Program Pengunduran Diri Sukarela
Meta Siapkan Saham Khusus Mark Zuckerberg, Antisipasi Pajak Miliarder
The Fed Diprediksi Tahan Suku Bunga Oktober 2026, Rupiah dan IHSG Jadi Sorotan
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 00:05 WIB

Hack Binance Terbesar? Ini Kronologi Dugaan Pencurian Aset Kripto Rp114 Triliun

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:00 WIB

PNS Tidak Bisa Dapat BSU Rp900 Ribu, Simak Aturan Terbaru 2026

Jumat, 30 Oktober 2026 - 11:25 WIB

Bank Mandiri Beri Kredit Rp40 Triliun kepada Perusahaan Haji Isam

Kamis, 29 Oktober 2026 - 03:00 WIB

Bansos Digital Perlinsos Segera Diluncurkan, Begini Cara Registrasi Calon Penerima

Kamis, 29 Oktober 2026 - 02:00 WIB

Hasil Pemilu Israel Terbaru: Netanyahu Belum Tentu Jadi PM, Ini Alasannya

Berita Terbaru