EKONOMI – Pemerintah tengah menyiapkan paket stimulus ekonomi baru yang ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah atau kelompok desil 4 ke bawah. Langkah ini dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global dan gejolak harga energi dunia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan stimulus tersebut saat ini masih dalam tahap finalisasi dan akan difokuskan kepada kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap tekanan ekonomi.
“Stimulus yang kita siapkan untuk kelas menengah ke bawah, desil 4 ke bawah. Ini sedang dipersiapkan,” ujar Airlangga di Wisma Danantara, Jakarta.
Tidak Berbentuk BLT Tunai
Meski menyasar kelompok masyarakat berpendapatan rendah, Airlangga memastikan bantuan yang disiapkan pemerintah tidak akan diberikan dalam bentuk Bantuan Langsung Tunai (BLT).
Menurutnya, pemerintah sedang merancang skema bantuan yang lebih produktif dan tepat sasaran guna memperkuat daya beli masyarakat tanpa mengandalkan pemberian uang tunai secara langsung.
“BLT untuk yang bawah, tidak berbentuk cash,” tegas Airlangga.
Pernyataan tersebut sekaligus menjawab berbagai spekulasi terkait kemungkinan pemerintah kembali menyalurkan bantuan tunai di tengah perlambatan ekonomi global.
Program Khusus untuk Kelas Menengah
Selain menyiapkan stimulus bagi kelompok desil 4 ke bawah, pemerintah juga menaruh perhatian pada kondisi masyarakat kelas menengah yang saat ini menghadapi berbagai tekanan ekonomi.
Salah satu program yang akan diperkuat adalah program magang nasional yang mulai kembali digencarkan pada Juni 2026.
Pemerintah berharap program tersebut mampu meningkatkan keterampilan tenaga kerja, memperluas kesempatan kerja, serta membantu masyarakat meningkatkan pendapatan secara berkelanjutan.
Gejolak Timur Tengah Jadi Perhatian
Airlangga menjelaskan pemerintah terus memantau perkembangan ekonomi global, termasuk dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak langsung terhadap harga energi dunia.
Menurutnya, harga minyak dunia saat ini berpotensi turun hingga berada di kisaran 83 dolar Amerika Serikat per barel. Namun pemerintah tetap mengambil langkah konservatif hingga situasi internasional benar-benar stabil.
“Semua ini baru selesai setelah ditandatangani, jadi sebelum ditandatangani kita tetap konservatif,” katanya.
Subsidi Energi Tetap Dipertahankan
Di tengah ketidakpastian global, pemerintah memastikan berbagai subsidi energi tetap dipertahankan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Beberapa program yang tetap berjalan antara lain:
- Subsidi BBM jenis Pertalite
- Program biodiesel B50
- Kebijakan stabilisasi harga energi domestik
Pemerintah menilai kebijakan tersebut penting untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus menekan dampak kenaikan harga energi global terhadap inflasi dalam negeri.
Indonesia Financial Center di Bali
Selain paket stimulus ekonomi, pemerintah juga tengah menyiapkan pembentukan Indonesia Financial Center yang akan berlokasi di Bali.
Regulasi terkait pusat keuangan internasional tersebut saat ini sedang disusun dan direncanakan akan diatur melalui undang-undang khusus.
Airlangga menyebut konsep pengembangan pusat keuangan tersebut mengacu pada sejumlah negara yang telah sukses membangun pusat finansial global, seperti Singapura dan Dubai.
Pemerintah berharap keberadaan Indonesia Financial Center dapat meningkatkan daya saing sektor jasa keuangan nasional serta menarik lebih banyak investasi internasional ke Indonesia.
Jaga Daya Beli dan Pertumbuhan Ekonomi
Paket stimulus yang sedang disiapkan menjadi bagian dari strategi pemerintah menjaga konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan kombinasi stimulus bagi kelompok rentan, penguatan program ketenagakerjaan, serta keberlanjutan subsidi energi, pemerintah optimistis daya beli masyarakat tetap terjaga meskipun ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian.









