Jakarta – Tren penggunaan smartphone di kalangan generasi muda mulai mengalami pergeseran. Sejumlah Gen Z kini justru memilih meninggalkan ponsel pintar dan beralih ke perangkat yang lebih sederhana atau dikenal sebagai dumb phone. Fenomena ini muncul seiring meningkatnya kesadaran akan dampak penggunaan layar berlebihan dalam kehidupan sehari-hari.
Perubahan perilaku ini tidak terjadi tanpa alasan. Banyak anak muda mengaku mulai merasa jenuh dengan notifikasi tanpa henti, media sosial, hingga tekanan digital yang terus menerus hadir melalui smartphone. Kondisi ini membuat sebagian dari mereka mencari alternatif yang lebih sederhana dan minim distraksi.
Influencer teknologi Jose Briones menyebutkan bahwa tren ini mulai terlihat nyata di sejumlah komunitas Gen Z, terutama di negara maju. Ia menilai, keinginan untuk “detoks digital” menjadi salah satu faktor utama di balik peralihan tersebut.
“Sebagian Gen Z sudah mulai bosan dengan layar smartphone dan ingin kembali ke kehidupan yang lebih sederhana,” ungkapnya. Pernyataan ini memperkuat indikasi bahwa perubahan tren teknologi kini tidak hanya soal kecanggihan, tetapi juga soal kenyamanan mental.
Perusahaan seperti HMD Global, yang memegang lisensi merek Nokia, menjadi salah satu pihak yang diuntungkan dari tren ini. Ponsel klasik yang dulu sempat ditinggalkan kini kembali diminati, terutama oleh pengguna muda yang ingin mengurangi ketergantungan pada internet.
Data menunjukkan penjualan feature phone di Amerika Serikat sempat meningkat signifikan sejak 2022, bahkan mencapai puluhan ribu unit per bulan. Tren ini terjadi saat pasar smartphone global justru mengalami perlambatan pertumbuhan.
Sementara itu, laporan dari International Data Corporation (IDC) mencatat pasar smartphone Indonesia sempat turun 14,3 persen pada 2023. Meski begitu, kondisi mulai pulih pada 2024 dengan pertumbuhan mencapai 15,5 persen secara tahunan.
Namun, pertumbuhan tersebut didominasi oleh segmen harga murah dan menengah, sementara ponsel premium mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa selain tren digital detox, faktor ekonomi juga ikut memengaruhi perubahan pola konsumsi teknologi di masyarakat. (*/Tim)









