SUNGAIPENUH-Setiap musim hujan datang, kecemasan selalu lebih dulu tiba di Kecamatan Hamparan Rawang. Air Sungai Batang Merao yang meluap seperti menjadi penanda lama bahwa warga harus bersiap meninggalkan rumah, menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi. Bagi warga di tiga Desa Tanjung, banjir bukan sekadar bencana, melainkan rutinitas tahunan yang mengikis harapan.
Selama lebih dari dua dekade, sawah-sawah yang dulu menjadi sumber kehidupan perlahan ditinggalkan. Air yang datang tanpa kompromi membuat warga tak lagi berani menanam. Tanah yang semestinya subur berubah menjadi lahan tidur. Pilihan hidup pun bergeser—merantau menjadi jalan keluar, bahkan hingga ke negeri jiran.
Namun tahun ini menghadirkan cerita berbeda. Normalisasi Sungai Batang Merao menjadi titik balik yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Air tak lagi meluap seperti dulu. Sawah-sawah yang lama terabaikan kini kembali digarap, menghadirkan warna hijau yang lama hilang dari bentang desa.
“Alhamdulillah, tahun ini kami tidak kena banjir lagi,” ujar Gafar, warga Desa Tanjung, dengan nada yang tak mampu menyembunyikan rasa syukur. Ia mengingat betul bagaimana sebelumnya setiap hujan turun, dirinya dan keluarga sudah bersiap mengungsi, meninggalkan rumah tanpa kepastian kapan bisa kembali.
Gafar pernah merantau sebagai tukang di Malaysia, seperti banyak warga lainnya. Banjir yang terus berulang memaksa mereka mencari nafkah jauh dari kampung halaman. Kini, ia memilih bertahan. “Untuk apa jauh-jauh ke Malaysia, kalau di sini kita bisa bekerja dan berkumpul dengan keluarga,” katanya.
Perubahan ini tidak hanya menghadirkan kembali aktivitas bertani. Warga mengaku telah dua kali panen dalam waktu yang relatif singkat. Ratusan hektare sawah kembali produktif, menghasilkan padi yang tumbuh subur. Bagi mereka, ini bukan sekadar panen, melainkan pemulihan kehidupan yang sempat hilang.
Mardakius, warga Rawang lainnya, menyebut kondisi saat ini jauh lebih aman. Selain bertani, warga juga mulai kembali beternak tanpa rasa khawatir. “Sekarang kami tidak lagi takut. Sawah bisa digarap, ternak juga aman,” ujarnya.
Ia dan warga lainnya menyampaikan apresiasi kepada Wali Kota dan Wakil Wali Kota Sungai Penuh, Alfin dan Azhar. Menurutnya, langkah normalisasi sungai menjadi bukti nyata perhatian pemerintah terhadap masyarakat. “Ekonomi kami kembali bergerak karena tidak ada banjir lagi,” katanya.
Harapan kini tumbuh seiring padi yang menguning di hamparan sawah. Warga ingin perubahan ini bertahan, tidak hanya untuk satu musim, tetapi untuk tahun-tahun mendatang. Setelah 25 tahun hidup dalam bayang-bayang banjir, mereka akhirnya kembali menemukan alasan untuk menetap—dan berharap.
FAQ :
1. Apa yang menyebabkan sawah di Hamparan Rawang kembali produktif?
Normalisasi Sungai Batang Merao membuat aliran air lebih terkendali sehingga banjir tahunan tidak lagi terjadi.
2. Berapa lama sawah di wilayah ini ditinggalkan?
Sekitar 25 tahun sawah tidak digarap karena sering terendam banjir.
3. Apa dampak ekonomi bagi warga setelah normalisasi sungai?
Warga kini bisa kembali bertani, panen dua kali, beternak, dan tidak perlu merantau ke luar negeri.
4. Apakah warga masih mengalami banjir saat ini?
Tidak, warga menyebut tahun ini mereka bebas dari banjir setelah normalisasi dilakukan.
5. Apa harapan warga ke depan?
Warga berharap kondisi bebas banjir ini terus berlangsung agar ekonomi desa tetap stabil dan berkembang. (Fyo)









