Jakarta-Bank Indonesia (BI) menyiapkan intervensi pasar dan insentif lindung nilai untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak keuangan global.
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, bank sentral mengandalkan intervensi pasar spot, transaksi non-deliverable forward (NDF), dan domestic non-deliverable forward (DNDF).
Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi ketidakpastian kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan inflasi yang masih tinggi.
Meski demikian, BI menilai peluang kenaikan suku bunga AS pada Oktober 2026 semakin kecil. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
BI juga memberikan insentif biaya lindung nilai atau hedging sejak akhir Juni 2026. Kebijakan tersebut bertujuan membantu pelaku pasar mengelola risiko perubahan kurs.
Menurut Destry, instrumen swap dan DNDF melalui kebijakan tersebut telah menarik aliran dana masuk sekitar US$8 miliar hingga US$9 miliar.
BI menegaskan akan terus berada di pasar untuk merespons volatilitas global. Langkah ini juga mengikuti arahan Presiden Prabowo Subianto agar bank sentral mengoptimalkan instrumen kebijakannya.
Informasi tersebut disampaikan Destry setelah menghadiri rapat terbatas ekonomi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 19 Oktober 2026. (*)
Editor : FANDA YOSEPHTA









