OTOMOTIF – Pilihan untuk kembali ke Indonesia setelah menempuh pendidikan dan mendapat tawaran pekerjaan di Amerika Serikat menjadi awal perjalanan William Ekaputra Taifan membangun perusahaan motor listrik dari nol.
William yang menyandang gelar PhD dari Amerika Serikat kini menjabat sebagai CEO Savart Motors. Bersama sang adik, Garry Surya Putra Taifan selaku Chief Operating Officer (COO), ia mengembangkan motor listrik dengan teknologi yang dikerjakan secara mandiri di Indonesia.
Salah satu capaian Savart Motors adalah tingkat komponen dalam negeri (TKDN) produknya yang disebut telah mencapai 75 persen.
Memilih Pulang ke Indonesia
William memutuskan kembali ke Indonesia sekitar 2018. Saat itu, ia sebenarnya memiliki sejumlah pilihan karier di Amerika Serikat, termasuk tawaran dari perusahaan minyak dan gas serta konsultan engineering.
Namun, dorongan keluarga turut memengaruhi keputusannya untuk kembali ke Tanah Air dan mencoba membangun usaha manufaktur.
William mengakui keputusan tersebut memiliki risiko. Ia harus meninggalkan peluang bekerja di Amerika Serikat dan memulai bisnis dari tahap awal di Indonesia.
“Sempat ada beberapa tawaran untuk kerja di perusahaan minyak dan gas di AS. Tapi yang buat kepikiran balik ke sini ya orang tua. Minta balik untuk ke Indonesia waktu itu. Iya gambling juga,” ujar William, Jumat (18/9/2026).
Mulai dari Ruko di Sidoarjo
Setelah kembali ke Indonesia, William bersama tim tidak hanya berfokus pada perdagangan kendaraan listrik. Mereka memilih membangun kemampuan teknologi dan manufaktur sendiri.
Pada tahap awal, Savart merekrut talenta lokal, termasuk lulusan baru dari sejumlah perguruan tinggi teknik seperti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS).
Pengembangan dilakukan secara bertahap, mulai dari riset teknologi hingga proses manufaktur. Menariknya, kegiatan awal perusahaan tersebut dilakukan dari sebuah ruko berukuran relatif kecil di Sidoarjo.
Menurut William, proses untuk menghasilkan produk awal atau minimum viable product (MVP) membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima tahun.
“Develop-lah ini mulai dari nol waktu itu. Itu dari nol dan benar-benar fokus untuk pengembangan core teknologinya in-house,” kata William.
Pengembangan teknologi kemudian terus dilakukan setelah produk awal berhasil diwujudkan.
Investasi Puluhan Miliar Rupiah
Dalam membangun kemampuan manufaktur sendiri, Savart membutuhkan investasi yang cukup besar.
William menyebut perusahaan telah mengeluarkan modal hingga puluhan miliar rupiah. Dana tersebut digunakan untuk membangun fasilitas produksi, membeli mesin, tooling, serta berbagai kebutuhan yang menunjang kegiatan manufaktur.
Perjalanan tersebut juga dijalankan bersama Garry Surya Putra Taifan yang menjadi salah satu founder sekaligus COO Savart Motors.
Keduanya mengembangkan perusahaan secara bertahap dengan membangun kemampuan teknologi dan sumber daya manusia di dalam negeri.
TKDN Motor Listrik Savart Capai 75 Persen
Upaya mengembangkan teknologi dan manufaktur di Indonesia kemudian menghasilkan produk motor listrik dengan tingkat kandungan lokal yang disebut mencapai 75 persen.
Capaian tersebut menunjukkan porsi komponen dalam negeri yang digunakan pada produk Savart cukup besar. Pengembangan teknologi secara internal juga menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk membangun kemampuan manufaktur kendaraan listrik di Indonesia.
Perjalanan Savart dari sebuah ruko di Sidoarjo hingga membangun fasilitas produksi menjadi gambaran bagaimana perusahaan rintisan di sektor kendaraan listrik mencoba mengembangkan teknologi secara bertahap.
Meski demikian, perjalanan tersebut membutuhkan waktu, investasi, pengembangan sumber daya manusia, serta riset yang berkelanjutan agar kemampuan produksi dapat terus berkembang.
FAQ
Siapa William Ekaputra Taifan?
William Ekaputra Taifan merupakan CEO Savart Motors dan memiliki gelar PhD dari Amerika Serikat. Ia memilih kembali ke Indonesia sekitar 2018 untuk membangun bisnis motor listrik.
Siapa Garry Surya Putra Taifan?
Garry merupakan saudara William dan menjabat sebagai COO Savart Motors. Ia juga terlibat sebagai salah satu founder perusahaan.
Berapa TKDN motor listrik Savart?
Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam sumber, TKDN motor listrik Savart telah mencapai 75 persen.
Dari mana Savart Motors memulai bisnisnya?
Savart Motors memulai pengembangan bisnis dan teknologinya dari sebuah ruko di Sidoarjo sebelum berkembang dan membangun fasilitas manufaktur.
Berapa lama pengembangan produk awal Savart?
William menyebut pengembangan hingga mencapai minimum viable product (MVP) membutuhkan waktu sekitar empat sampai lima tahun.
Berapa investasi yang dikeluarkan Savart Motors?
Perusahaan disebut telah mengeluarkan investasi puluhan miliar rupiah untuk fasilitas, mesin, tooling, dan kebutuhan manufaktur lainnya.








