Kerinci – Bahasa Kerinci dikenal sebagai salah satu bahasa daerah dengan keragaman dialek paling banyak di Sumatra. Hampir setiap luhah atau wilayah adat memiliki cara penyebutan kata yang berbeda-beda meski masih berada dalam rumpun bahasa yang sama. Perbedaan inilah yang membuat bahasa Kerinci menjadi unik dan menjadi kekayaan budaya turun-temurun yang terus hidup hingga kini. Para peneliti bahasa bahkan menyebut variasi dialek Kerinci sebagai salah satu yang paling kompleks di Indonesia karena tiap daerah memiliki ciri fonologis yang khas.
Secara linguistik, bahasa Kerinci termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia, tepatnya sub-kelompok Melayu-Polinesia yang memiliki hubungan historis dengan bahasa Melayu dan Minangkabau. Bahasa ini terutama dituturkan di Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci, Jambi, serta oleh masyarakat Kerinci yang merantau ke berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri. Keberadaan diaspora inilah yang membuat bahasa Kerinci tetap terdengar di banyak wilayah meski generasi baru perlahan mulai terpengaruh oleh bahasa Indonesia.
Dalam kajian linguistik modern, bahasa Kerinci dibagi ke dalam tujuh dialek utama, yakni Dialek Gunung Raya, Danau Kerinci, Sitinjau Laut, Sungai Penuh, Sungai Tutung, Belui Air Hangat, dan Gunung Kerinci. Setiap dialek memiliki karakter bunyi, tekanan, dan pilihan kata yang berbeda. Namun di lapangan, jumlah dialek yang sebenarnya jauh lebih banyak karena hampir setiap kampung memiliki cara bicara tersendiri. Fenomena inilah yang membuat para ahli bahasa menyebut Kerinci sebagai “wilayah dialek padat”.
Perbedaan kata dan pengucapan antar dialek dapat sangat terasa. Misalnya, kata sapaan “Anda” bisa berubah menjadi “Kayoa”, “Kayao”, atau bahkan variasi lain bergantung wilayahnya. Beberapa kata umum seperti “akau” untuk saya, “empau” untuk kamu yang sebaya, “kayo” untuk orang yang dihormati, serta kata keluarga seperti “mamo” dan “wobu”, juga menunjukkan kekhasan tersendiri yang jarang ditemukan di bahasa Melayu lainnya. Keragaman ini membuat bahasa Kerinci tidak hanya menarik secara budaya tetapi juga penting untuk penelitian linguistik.
Pengaruh sejarah membuat bahasa Kerinci mengalami sentuhan dari bahasa Melayu, Minangkabau, dan bahkan Sanskerta. Interaksi dagang, hubungan budaya, serta perpindahan masyarakat dari masa ke masa memberi warna pada kosakata yang digunakan hingga sekarang. Di beberapa wilayah, penutur tua masih mempertahankan banyak kata lama yang sudah tidak digunakan lagi di daerah lain sehingga menjadi harta bahasa yang sangat berharga untuk diteliti.
Walaupun memiliki banyak dialek, masyarakat Kerinci tetap dapat saling memahami satu sama lain karena struktur bahasa yang digunakan masih dalam rumpun dan pola yang sama. Perbedaan paling kentara biasanya terdapat pada intonasi, panjang vokal, dan pilihan kata tertentu. Hal ini membuat percakapan antar wilayah adat terkadang terdengar seperti bahasa yang berbeda, padahal masih berada dalam satu keluarga bahasa.
Bahasa Kerinci dinilai sebagai bahasa yang masih hidup dan berkembang. Penggunaannya semakin banyak ditemui di media sosial, konten video anak muda, hingga kegiatan adat yang kembali dihidupkan. Kendati demikian, para pemerhati budaya menilai bahasa ini perlu terus dilestarikan melalui pendokumentasian, penyusunan kamus, dan pengajaran di komunitas lokal agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Penulis : Fanda Yosephta
Editor : Fanda Yosephta









