JAKARTA – Pasar saham Indonesia mengalami tekanan tajam pada Senin, 19 Oktober 2026. Di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melanjutkan program pembelian kembali saham atau buyback selama tiga hari, mulai 19 hingga 21 Oktober 2026.
Berdasarkan laporan Bisnis.com, IHSG melemah 5,13 persen menjadi 4.919,05 pada pukul 09.36 WIB. Sementara itu, indeks LQ45 terkoreksi lebih dalam sebesar 5,78 persen pada periode yang sama.
Tekanan pasar turut menyeret saham BBCA. Pada perdagangan pagi tersebut, saham BCA berada di level Rp4.820 per lembar, turun 6,86 persen. Kondisi ini menjadi perhatian investor karena terjadi ketika bank tersebut menjalankan program buyback saham.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menjelaskan bahwa program ini melanjutkan pembelian kembali saham yang telah dilakukan pada April dan Juni 2026. Menurut manajemen, langkah tersebut mencerminkan keyakinan perusahaan terhadap fundamental bisnis sekaligus mendukung stabilisasi pasar modal Indonesia.
BCA telah memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 12 Maret 2026 untuk menjalankan program buyback selama 12 bulan. Periode tersebut berlangsung hingga 11 Maret 2027, kecuali perseroan mengakhirinya lebih awal sesuai ketentuan.
Manajemen menyatakan bahwa pembelian kembali saham tidak memberikan dampak material terhadap kondisi keuangan maupun kegiatan usaha perseroan. BCA juga menegaskan komitmennya untuk menjalankan program tersebut dengan memperhatikan tata kelola perusahaan dan peraturan yang berlaku.
Meski demikian, buyback tidak otomatis membuat harga saham BBCA naik atau menghentikan penurunan IHSG. Pergerakan harga tetap dipengaruhi sentimen pasar, kondisi ekonomi, valuasi saham, serta keputusan investor domestik dan asing.
Investor kini perlu mencermati perkembangan saham BBCA selama periode buyback dan arah pergerakan IHSG berikutnya. Keputusan investasi sebaiknya tetap mempertimbangkan fundamental perusahaan, tujuan investasi, serta toleransi risiko masing-masing.
Disclaimer: Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor.
Editor : Fanda Yosephta









