Jakarta– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Senin, 12 Oktober 2026. Indeks naik 0,33 persen ke level 6.113,86 pada awal perdagangan.
Penguatan IHSG terjadi di tengah kenaikan sejumlah saham unggulan. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi perhatian investor.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 09.02 WIB menunjukkan 306 saham menguat. Sementara itu, sebanyak 192 saham melemah dan 465 saham bergerak stagnan.
Di kelompok saham LQ45, ANTM naik 1,26 persen menjadi Rp3.220 per saham. AMMN menguat 1,13 persen ke Rp4.460, sedangkan BUMI naik 1,11 persen menjadi Rp182 per saham.
Kenaikan juga terjadi pada saham Medco Energi Internasional (MEDC) sebesar 1,05 persen ke Rp1.445. Astra International (ASII) naik 1,04 persen menjadi Rp4.870, sementara Merdeka Copper Gold (MDKA) menguat 1,02 persen ke Rp2.970.
Namun, sejumlah saham justru bergerak di zona merah. Solusi Sinergi Digital (WIFI) turun 1,07 persen menjadi Rp1.390. XLSMART Telecom Sejahtera (EXCL) melemah 0,85 persen ke Rp2.320, sedangkan Perusahaan Gas Negara (PGAS) turun 0,70 persen ke Rp1.410.
Dari sisi teknikal, analis Indo Premier Sekuritas Brigita Kinari menilai tekanan jual mulai mereda. Indikator MACD menunjukkan histogram negatif yang semakin menyempit. Meski demikian, potensi death cross pada Stochastic RSI masih menjadi risiko bagi penguatan jangka pendek.
Dalam skenario optimistis, IHSG berpeluang menguji area 6.227–6.231. Sebaliknya, penurunan di bawah level 5.973 dapat membuka risiko koreksi lanjutan menuju kisaran 5.850–5.911. Investor juga perlu mencermati pergerakan arus dana asing, nilai tukar rupiah, harga komoditas, serta sentimen global sebelum mengambil keputusan investasi.
Pada pekan sebelumnya, IHSG menguat 0,94 persen atau 56,87 poin ke level 6.093. Kapitalisasi pasar meningkat 0,69 persen menjadi Rp10.701 triliun. Namun, investor asing masih mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp2,44 triliun. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan indeks belum menghilangkan seluruh risiko pasar saham Indonesia.
Disclaimer: Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Investor perlu mempertimbangkan profil risiko, kondisi keuangan, dan hasil analisis mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
(*)
Editor : Fanda Yosephta









