Jakarta— PT Astra International Tbk. (ASII) bersiap membagikan dividen interim tahun buku 2026 senilai Rp3,89 triliun. Perusahaan menetapkan dividen sebesar Rp98 per saham dengan tanggal cum dividend di pasar reguler dan negosiasi pada Senin, 12 Oktober 2026.
Pembagian dividen ini menjadi perhatian investor yang mengincar pendapatan pasif dari saham. Namun, investor perlu memahami jadwal cum date, ex date, tanggal pencatatan pemegang saham, serta jadwal pembayaran sebelum mengambil keputusan investasi.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang dikutip Bisnis.com pada Minggu (11/10/2026), total dividen interim Astra mencapai Rp3.895.746.738.520. Corporate Secretary Astra, Gita Tiffani Boer, menyampaikan bahwa keputusan tersebut mengacu pada keputusan Direksi tanggal 10 September 2026 dan persetujuan Dewan Komisaris pada 30 September 2026.
Jadwal Dividen Interim ASII Oktober 2026
Investor perlu memperhatikan sejumlah tanggal penting dalam pembagian dividen Astra. Cum date pasar reguler dan negosiasi berlangsung pada 12 Oktober 2026. Sementara itu, ex date jatuh pada 13 Oktober 2026.
Untuk pasar tunai, cum date ditetapkan pada 14 Oktober 2026 dan ex date pada 15 Oktober 2026. Selanjutnya, recording date berlangsung pada 14 Oktober 2026. Astra menjadwalkan pembayaran dividen interim pada 30 Oktober 2026.
Cum date merupakan batas terakhir bagi investor untuk membeli saham dengan hak atas dividen pada pasar yang bersangkutan. Sebaliknya, investor yang membeli saham mulai tanggal ex date tidak memperoleh hak dividen untuk pembagian tersebut, sesuai ketentuan penyelesaian transaksi dan pencatatan pemegang saham.
Berapa Dividen ASII yang Diterima Investor?
Dengan dividen Rp98 per saham, investor yang memiliki 100 lot atau 10.000 saham berhak menerima dividen bruto sebesar Rp980.000. Sementara itu, kepemilikan 1.000 lot atau 100.000 saham setara dengan dividen bruto Rp9,8 juta.
Jumlah tersebut belum memperhitungkan pajak atau ketentuan perpajakan yang berlaku bagi masing-masing investor. Karena itu, penerimaan bersih dapat berbeda berdasarkan status dan perlakuan pajak pemegang saham.
Meski menawarkan pembagian dividen, investor tetap perlu mempertimbangkan harga pembelian saham, potensi perubahan harga setelah ex date, serta prospek bisnis perusahaan. Dividen yang besar tidak otomatis menjamin keuntungan keseluruhan dari investasi saham.
Laba Astra Turun 19 Persen pada Semester I 2026
Di sisi kinerja, Astra membukukan laba bersih Rp12,53 triliun pada semester I 2026. Angka tersebut turun 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp15,51 triliun.
Pendapatan bersih konsolidasian Grup Astra juga melemah 3 persen secara tahunan menjadi Rp157,91 triliun. Pada semester I 2025, perusahaan mencatat pendapatan sebesar Rp162,85 triliun.
Penurunan tersebut terutama berkaitan dengan melemahnya kontribusi bisnis solusi pertambangan dan alat berat. Kondisi ini turut menekan laba per saham Astra dari Rp383 menjadi Rp313.
Presiden Direktur Astra International, Rudy, menjelaskan bahwa bisnis otomotif dan jasa keuangan masih memberikan kontribusi positif. Namun, kontribusi yang lebih rendah dari segmen solusi pertambangan dan alat berat menahan kinerja laba Grup Astra secara keseluruhan.
Apakah Saham ASII Menarik untuk Investor Dividen?
Dividen interim Rp98 per saham dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi investor yang mengejar pendapatan berkala. Meski demikian, keputusan investasi sebaiknya tidak hanya bertumpu pada nominal dividen.
Investor perlu menilai valuasi saham, tren laba, arus kas, prospek bisnis otomotif, serta perkembangan sektor pertambangan dan alat berat. Pergerakan harga saham setelah ex date juga dapat memengaruhi hasil investasi secara keseluruhan.
Dengan demikian, jadwal dividen ASII pada Oktober 2026 perlu dicermati bersamaan dengan kondisi fundamental perusahaan dan profil risiko masing-masing investor. Informasi ini bukan ajakan membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. (*)
Editor : Fanda Yosephta









