BNPL Tembus Rp31,56 Triliun, Ini Risiko PayLater yang Perlu Diketahui

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 13 September 2026 - 18:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau PayLater semakin banyak digunakan masyarakat. Data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan baki debet kredit BNPL perbankan mencapai Rp31,56 triliun per Juli 2026.

Nilai tersebut tumbuh 31,22 persen secara tahunan (year on year/yoy). Jumlah rekening BNPL juga terus bertambah hingga mencapai 33,50 juta rekening pada Juli 2026.

Meski porsinya masih relatif kecil terhadap total kredit perbankan, pertumbuhan BNPL yang tinggi membuat pengguna perlu memahami risiko sebelum menggunakan fasilitas PayLater.

BNPL Tembus Rp31,56 Triliun

OJK mencatat baki debet kredit BNPL yang dilaporkan melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) mencapai Rp31,56 triliun pada Juli 2026.

Angka tersebut setara dengan sekitar 0,35 persen dari total kredit perbankan.

Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, pembiayaan BNPL tumbuh 31,22 persen. Jumlah rekening juga meningkat dari 32,77 juta rekening pada Juni menjadi 33,50 juta rekening pada Juli 2026.

Artinya, penggunaan fasilitas pembayaran dengan sistem cicilan atau pembayaran belakangan masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat.

Bukan Cuma Bank, BNPL Perusahaan Pembiayaan Juga Tumbuh

Pertumbuhan BNPL tidak hanya terlihat pada perbankan.

OJK juga mencatat pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan mencapai Rp13,62 triliun pada Juli 2026, tumbuh 54,65 persen yoy.

Sementara itu, rasio pembiayaan bermasalah atau NPF gross tercatat 3,03 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa layanan pembayaran belakangan telah menjadi bagian yang semakin besar dari ekosistem pembiayaan digital dan konsumsi masyarakat.

Apa Risiko Menggunakan PayLater?

PayLater memang dapat membantu ketika seseorang membutuhkan fleksibilitas pembayaran. Namun, fasilitas ini tetap merupakan utang yang harus dibayar.

Berikut beberapa risiko yang perlu diperhatikan.

1. Cicilan Bisa Menumpuk

Risiko pertama adalah menggunakan beberapa layanan PayLater sekaligus.

Satu cicilan mungkin terlihat kecil. Namun jika seseorang mempunyai beberapa transaksi aktif dengan tanggal jatuh tempo berbeda, total kewajiban bulanan bisa menjadi besar.

Baca Juga :  Kurs Ringgit Malaysia ke Dolar AS Terbaru Hari Ini 6 Agustus 2026: 1.000 MYR Jadi 244,65 USD, Cek Kurs Terbaru Sebelum Transfer

Karena itu, jangan hanya melihat cicilan per transaksi. Hitung total seluruh cicilan setiap bulan.

2. Biaya Bisa Membuat Pembayaran Lebih Mahal

Harga barang yang terlihat murah saat menggunakan PayLater belum tentu menjadi jumlah akhir yang harus dibayarkan.

Pengguna perlu memperhatikan seluruh komponen biaya sesuai perjanjian, termasuk bunga atau margin, biaya layanan, dan kemungkinan biaya lainnya.

Sebelum menekan tombol pembayaran, pastikan mengetahui berapa total uang yang harus dikembalikan.

3. Telat Bayar Bisa Menimbulkan Konsekuensi

Tanggal jatuh tempo perlu diperhatikan dengan serius.

Keterlambatan pembayaran dapat menimbulkan biaya sesuai ketentuan penyedia layanan dan dapat berdampak terhadap riwayat kredit sesuai mekanisme pelaporan yang berlaku.

Karena itu, PayLater sebaiknya tidak digunakan jika kemampuan membayar belum jelas.

4. Bisa Mendorong Belanja Impulsif

Kemudahan membeli barang sekarang dan membayarnya kemudian dapat membuat seseorang lebih mudah melakukan pembelian yang sebenarnya tidak diperlukan.

Inilah salah satu risiko terbesar PayLater.

Sebelum menggunakan fasilitas tersebut, tanyakan kepada diri sendiri:

“Kalau tidak ada PayLater, apakah saya tetap akan membeli barang ini?”

Jika jawabannya tidak, sebaiknya pertimbangkan kembali.

5. Terlalu Banyak Utang Bisa Mengganggu Keuangan

PayLater seharusnya tidak digunakan untuk menutup kebutuhan rutin apabila penghasilan bulanan sudah tidak mencukupi.

Jika cicilan terus bertambah sementara pendapatan tetap, ruang untuk memenuhi kebutuhan lain menjadi semakin kecil.

Karena itu, jumlah cicilan perlu disesuaikan dengan kemampuan finansial masing-masing.

Apakah PayLater Masuk SLIK OJK?

Data BNPL perbankan dilaporkan dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK. OJK menggunakan data SLIK tersebut dalam statistik pembiayaan BNPL perbankan.

Artinya, pengguna perlu memahami bahwa penggunaan fasilitas kredit bukan sekadar transaksi belanja biasa.

Riwayat pembayaran dapat menjadi bagian penting dari informasi kredit sesuai ketentuan dan jenis penyelenggara.

Baca Juga :  Stock Market Today: MBMA, Telkom (TLKM), and MIKA Lead Indonesia's Bisnis-27 Decline as Investors Watch Buying Opportunities

Cara Aman Menggunakan PayLater

Agar tidak terjebak cicilan, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan:

  • Gunakan PayLater hanya untuk kebutuhan yang benar-benar diperlukan.
  • Hitung total seluruh cicilan sebelum mengambil kredit baru.
  • Periksa bunga, biaya layanan, tenor, dan total pembayaran.
  • Pastikan tanggal jatuh tempo tidak terlewat.
  • Hindari menggunakan PayLater untuk menutup utang PayLater lainnya.
  • Jangan mengambil cicilan melebihi kemampuan membayar.
  • Gunakan penyedia layanan yang legal dan memiliki izin sesuai jenis kegiatan usahanya.

BNPL Naik, Pengguna Tetap Harus Bijak

Pertumbuhan BNPL hingga Rp31,56 triliun menunjukkan layanan pembayaran belakangan semakin populer di Indonesia.

Namun, pertumbuhan tersebut tidak berarti PayLater harus dihindari sepenuhnya.

Yang paling penting adalah memahami bahwa PayLater tetap merupakan kewajiban pembayaran.

Dengan menghitung kemampuan finansial, memahami seluruh biaya dan disiplin membayar tepat waktu, fasilitas BNPL dapat digunakan secara lebih bijak.

Sebaliknya, jika digunakan tanpa perhitungan, cicilan kecil yang berulang dapat berubah menjadi beban keuangan yang cukup besar.

FAQ PayLater dan BNPL

Berapa nilai BNPL perbankan pada Juli 2026?

OJK mencatat baki debet kredit BNPL perbankan mencapai Rp31,56 triliun pada Juli 2026.

Berapa pertumbuhan BNPL?

BNPL perbankan tumbuh 31,22 persen secara tahunan pada Juli 2026.

Berapa jumlah rekening BNPL?

Jumlah rekening BNPL mencapai 33,50 juta rekening pada Juli 2026.

Apakah PayLater bisa menjadi utang?

Ya. PayLater merupakan fasilitas pembiayaan/kredit yang menimbulkan kewajiban pembayaran sesuai perjanjian.

Apa risiko terbesar PayLater?

Risiko utamanya adalah cicilan menumpuk, biaya tambahan, keterlambatan pembayaran, serta penggunaan berlebihan yang dapat mengganggu kondisi keuangan.

Bagaimana agar aman menggunakan PayLater?

Gunakan sesuai kemampuan membayar, pahami seluruh biaya, batasi jumlah cicilan aktif, dan selalu bayar sesuai jadwal. (Tim)

Editor : Fanda Yosephta

Berita Terkait

951 Pinjol Ilegal Dihentikan OJK hingga Agustus 2026, Begini Cara Cek Pinjol Resmi
Harga Emas Pegadaian 13 September 2026 Naik, Antam 1 Gram Rp2,644 Juta, UBS dan Galeri 24 Segini
Harga Emas Antam 13 September 2026 Naik Tipis, Cek Harga 0,5 Gram hingga 1 Kg dan Buyback
Harga BBM Pertamina Jawa dan Sumatera Hari Ini 13 September 2026, Cek Pertamax hingga Pertamina Dex
Credit Score: 10 Things That Can Lower Your Score Without You Realizing
Cara Memilih Saham Tambang untuk Investasi: 7 Hal yang Wajib Dicek Sebelum Beli
Car Insurance Australia: How to Cut Your Insurance Costs in 2026
Blibli Buka Bisnis Baru untuk Pedagang, Jualan Online hingga Offline Jadi Lebih Simpel
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 20:09 WIB

951 Pinjol Ilegal Dihentikan OJK hingga Agustus 2026, Begini Cara Cek Pinjol Resmi

Minggu, 13 September 2026 - 18:56 WIB

BNPL Tembus Rp31,56 Triliun, Ini Risiko PayLater yang Perlu Diketahui

Minggu, 13 September 2026 - 12:15 WIB

Harga Emas Pegadaian 13 September 2026 Naik, Antam 1 Gram Rp2,644 Juta, UBS dan Galeri 24 Segini

Minggu, 13 September 2026 - 10:26 WIB

Harga Emas Antam 13 September 2026 Naik Tipis, Cek Harga 0,5 Gram hingga 1 Kg dan Buyback

Minggu, 13 September 2026 - 07:53 WIB

Harga BBM Pertamina Jawa dan Sumatera Hari Ini 13 September 2026, Cek Pertamax hingga Pertamina Dex

Berita Terbaru

Otomotif

Yamaha Belum Terburu-buru Jual Motor Listrik, Ini Alasannya

Minggu, 13 Sep 2026 - 17:30 WIB