Harga Minyak Dunia Tembus US$100, Purbaya Pastikan Subsidi BBM Masih Aman

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 10 September 2026 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA — Harga minyak mentah dunia kembali melonjak hingga menembus US$100 per barel. Kenaikan ini menjadi perhatian bagi Indonesia karena dapat memengaruhi subsidi energi, harga BBM, inflasi, hingga kondisi APBN 2026.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah masih memiliki ruang fiskal untuk menghadapi kenaikan harga minyak tersebut. Pemerintah juga belum menyiapkan penambahan kuota subsidi energi.

Kenaikan harga minyak terjadi ketika ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat. Pada perdagangan Rabu, 9 September 2026, harga minyak Brent untuk pengiriman November berada di sekitar US$101,84 per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$96,06 per barel.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena asumsi harga minyak mentah Indonesia atau ICP dalam APBN 2026 berada di US$70 per barel.

Mengapa Harga Minyak US$100 Jadi Perhatian?

Kenaikan harga minyak dunia dapat memberikan tekanan terhadap anggaran negara. Indonesia harus menghadapi potensi peningkatan biaya energi, sementara harga minyak yang lebih tinggi juga dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi.

Namun, Purbaya mengatakan kondisi fiskal masih cukup kuat untuk menghadapi skenario tersebut.

Menurutnya, proyeksi defisit APBN 2026 sebesar 2,85% terhadap PDB telah memperhitungkan sejumlah skenario, termasuk kemungkinan harga minyak berada di sekitar US$100 per barel.

Pemerintah tetap menargetkan defisit APBN berada di bawah batas 3% terhadap PDB.

Subsidi BBM Belum Perlu Ditambah

Pemerintah saat ini belum melihat kebutuhan untuk menambah kuota subsidi energi.

Purbaya menyebut anggaran yang tersedia masih mencukupi berdasarkan perhitungan pemerintah. Meski demikian, perkembangan harga minyak global akan terus dipantau apabila terjadi kenaikan lebih lanjut.

Hal ini penting karena semakin tinggi harga minyak dunia dan semakin lama bertahan di level tersebut, semakin besar pula tekanan terhadap keuangan negara.

Baca Juga :  Harga BBM Jambi, Sumbar dan Riau Hari Ini 24 Agustus 2026, Pertamax Turun

Apakah Harga Pertalite Akan Naik?

Salah satu perhatian masyarakat adalah kemungkinan kenaikan harga BBM akibat lonjakan harga minyak global.

Pemerintah menyatakan BBM bersubsidi seperti Pertalite masih menjadi instrumen untuk menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok masyarakat yang membutuhkan perlindungan dari kenaikan harga energi.

Sementara itu, BBM nonsubsidi seperti Pertamax lebih memungkinkan mengalami penyesuaian mengikuti perkembangan harga minyak dan kondisi pasar.

Dengan demikian, dampaknya terhadap konsumen bisa berbeda antara pengguna BBM bersubsidi dan nonsubsidi.

Dampak Harga Minyak US$100 terhadap Ekonomi Indonesia

Jika harga minyak dunia bertahan tinggi, terdapat sejumlah dampak yang perlu diperhatikan.

1. Beban subsidi energi

Harga minyak yang lebih tinggi dapat meningkatkan kebutuhan kompensasi dan subsidi energi apabila harga jual kepada masyarakat tidak langsung mengikuti kenaikan harga pasar.

2. Harga BBM nonsubsidi

BBM nonsubsidi berpotensi mengalami penyesuaian ketika harga minyak global meningkat secara signifikan dan bertahan dalam periode tertentu.

3. Inflasi

Kenaikan harga energi dapat merambat ke biaya transportasi, logistik, manufaktur, dan berbagai kebutuhan lainnya. Efek tersebut pada akhirnya dapat memberikan tekanan terhadap inflasi.

4. Daya beli masyarakat

Jika kenaikan harga energi semakin luas, pengeluaran rumah tangga dapat meningkat. Namun, pemerintah berharap subsidi BBM tetap mampu memberikan perlindungan kepada kelompok masyarakat yang menjadi sasaran.

5. APBN

Harga minyak yang tinggi memiliki dampak dua sisi. Di satu sisi, penerimaan dari sektor migas dapat meningkat. Di sisi lain, belanja subsidi dan kompensasi energi juga berpotensi bertambah.

Karena itu, dampak akhirnya terhadap APBN tidak hanya ditentukan oleh harga minyak, tetapi juga produksi migas, nilai tukar rupiah, konsumsi BBM, serta kebijakan subsidi pemerintah.

Baca Juga :  Rupiah tembus Rp17.500 per dolar AS, Pemerintah Siapkan Langkah Darurat Stabilkan Ekonomi

Apa yang Terjadi Jika Minyak Bertahan di Atas US$100?

Situasi akan menjadi lebih menantang apabila harga minyak tidak hanya menyentuh US$100, tetapi bertahan pada level tersebut dalam waktu lama.

Pemerintah perlu menyeimbangkan tiga kepentingan sekaligus: menjaga daya beli masyarakat, mempertahankan kesehatan APBN, dan memastikan pasokan energi tetap tersedia.

Untuk saat ini, pemerintah menyatakan masih memiliki ruang untuk mengelola dampak kenaikan harga minyak tanpa harus menembus batas defisit APBN sebesar 3% dari PDB.

Namun, perkembangan geopolitik global tetap menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan investor dan masyarakat.

FAQ

Apakah harga minyak dunia sudah menembus US$100 per barel?

Harga minyak Brent telah berada di atas US$100 per barel pada penutupan perdagangan 9 September 2026, sementara WTI berada di bawah level tersebut.

Apakah harga Pertalite akan naik?

Pemerintah masih mempertahankan subsidi untuk BBM bersubsidi. Penyesuaian lebih berpotensi terjadi pada BBM nonsubsidi apabila kondisi harga minyak global berlanjut.

Apakah APBN 2026 aman jika harga minyak US$100?

Pemerintah menyatakan postur APBN masih memiliki ruang untuk menghadapi kondisi tersebut dan defisit ditargetkan tetap di bawah 3% PDB.

Mengapa harga minyak naik?

Kenaikan dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengkhawatirkan pasokan minyak global.

Apa dampak minyak mahal bagi masyarakat?

Dampaknya dapat terasa melalui harga BBM nonsubsidi, biaya transportasi, logistik, serta harga berbagai barang dan jasa jika kenaikan energi berlangsung lama.

Apakah harga minyak US$100 bisa memicu inflasi?

Bisa. Energi merupakan salah satu komponen penting dalam biaya distribusi dan produksi. Namun, besarnya dampak terhadap inflasi bergantung pada durasi kenaikan dan kebijakan pemerintah. (*)

Editor : Fanda Yosephta

Berita Terkait

BCA Salurkan KPR Rp144,3 Triliun hingga Juni 2026, Apa yang Terjadi dengan Pasar Rumah?
BCA Siapkan Buyback Saham Rp5 Triliun hingga 2027, Investor Perlu Tahu 5 Hal Ini
Saham ANTM dan UNTR Tetap Menguat Saat Bisnis-27 dan IHSG Tertekan, Ini Daftarnya
Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp17.547 per Dolar AS, Investor Waspadai Tekanan Global dan Risiko Fiskal
KPR Ditolak Bank Padahal Gaji Cukup? Cek Faktor Ini
Kredit Tiba-Tiba Ditolak? Bisa Jadi Ini Penyebabnya di SLIK OJK
IHSG Hari Ini Dibuka Menguat ke 6.697,75, CUAN hingga ISAT Jadi Sorotan
Rupiah Hari Ini 10 September 2026 Melemah ke Rp17.512, Dolar AS Naik? Ini Prediksi Kurs Selanjutnya
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 23:00 WIB

BCA Salurkan KPR Rp144,3 Triliun hingga Juni 2026, Apa yang Terjadi dengan Pasar Rumah?

Kamis, 10 September 2026 - 21:00 WIB

Harga Minyak Dunia Tembus US$100, Purbaya Pastikan Subsidi BBM Masih Aman

Kamis, 10 September 2026 - 20:00 WIB

BCA Siapkan Buyback Saham Rp5 Triliun hingga 2027, Investor Perlu Tahu 5 Hal Ini

Kamis, 10 September 2026 - 17:12 WIB

Saham ANTM dan UNTR Tetap Menguat Saat Bisnis-27 dan IHSG Tertekan, Ini Daftarnya

Kamis, 10 September 2026 - 15:46 WIB

Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp17.547 per Dolar AS, Investor Waspadai Tekanan Global dan Risiko Fiskal

Berita Terbaru