Trump Desak The Fed Pangkas Suku Bunga, Pasar Menanti Keputusan September 2026

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 8 September 2026 - 01:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Federal Reserve (The Fed) agar menurunkan suku bunga menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15–16 September 2026.

Desakan Trump muncul ketika pasar justru mendapatkan sinyal bahwa kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat masih cukup kuat. Situasi tersebut membuat arah kebijakan suku bunga The Fed menjadi salah satu perhatian utama pasar global.

Trump menilai perekonomian Amerika Serikat yang kuat seharusnya memungkinkan negara tersebut menikmati tingkat suku bunga yang lebih rendah. Ia bahkan memperingatkan konsekuensi perdagangan terhadap negara-negara yang dianggap memiliki surplus perdagangan dengan AS apabila tuntutannya tidak dipenuhi.

Tekanan terhadap bank sentral AS juga datang dari sejumlah pejabat pemerintahan Trump. Wakil Presiden JD Vance, Menteri Keuangan Scott Bessent, serta penasihat ekonomi senior Peter Navarro turut menyuarakan dukungan terhadap kebijakan suku bunga yang lebih rendah.

Data tenaga kerja AS Jadi Perhatian

Dorongan untuk memangkas suku bunga berhadapan dengan data ketenagakerjaan AS yang masih menunjukkan ketahanan.

Data terbaru menunjukkan nonfarm payrolls (NFP) bertambah 162.000 pekerjaan pada Agustus 2026. Angka tersebut jauh di atas perkiraan pasar yang berada di sekitar 53.000 pekerjaan.

Tingkat pengangguran tercatat 4,1%, sesuai dengan ekspektasi. Sementara itu, rata-rata upah per jam meningkat 0,3% secara bulanan dan tumbuh 3,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga :  Daftar 10 Asuransi Terbesar di AS, Referensi Pasar Global Termasuk Indonesia

Kondisi pasar tenaga kerja yang relatif kuat dapat menjadi pertimbangan bagi The Fed karena pertumbuhan upah berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi.

Inflasi Masih Menjadi Perhatian The Fed

Di sisi lain, pemerintahan Trump menyoroti perkembangan inflasi inti sebagai alasan untuk mendukung pelonggaran kebijakan moneter.

Perbedaan antara sejumlah indikator inflasi menjadi salah satu faktor yang membuat prospek kebijakan The Fed semakin menarik perhatian. Bank sentral AS menggunakan indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) sebagai salah satu indikator penting dalam menentukan kebijakan moneternya.

Ketua The Fed Kevin Warsh sebelumnya menegaskan bahwa inflasi tetap menjadi perhatian utama bank sentral. Ia mencatat bahwa sebagian besar komponen indeks harga PCE masih menunjukkan kenaikan harga yang relatif tinggi dalam periode 12 bulan terakhir.

Keputusan FOMC September Jadi Sorotan

Pasar kini menunggu pertemuan FOMC pada 15–16 September 2026. Keputusan tersebut akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah dolar AS dan pasar keuangan global.

Laporan inflasi Consumer Price Index (CPI) yang dijadwalkan terbit sebelum pertemuan FOMC juga menjadi data penting. Investor akan mencermati apakah inflasi menunjukkan penurunan yang cukup untuk membuka ruang bagi The Fed melakukan pelonggaran kebijakan.

Baca Juga :  Hasil Moto3 Hungaria Direvisi, Veda Ega Pratama Kembali Pimpin Rookie

Sementara itu, pernyataan pejabat The Fed menunjukkan bahwa bank sentral tetap berupaya mempertahankan independensinya dari tekanan politik.

Dampaknya bagi Rupiah dan Harga Emas

Perubahan kebijakan suku bunga The Fed tidak hanya berdampak pada perekonomian AS. Pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, juga dapat merasakan dampaknya.

Jika The Fed mengambil kebijakan yang lebih dovish dan menurunkan suku bunga, tekanan terhadap dolar AS berpotensi berkurang. Kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih stabil.

Sebaliknya, apabila The Fed mempertahankan atau menaikkan suku bunga karena mempertimbangkan inflasi dan kondisi tenaga kerja, dolar AS berpotensi kembali mendapatkan dukungan.

Harga emas juga akan menjadi perhatian investor. Suku bunga AS yang lebih rendah biasanya meningkatkan daya tarik aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas, meskipun pergerakan harga emas tetap dipengaruhi faktor lain seperti dolar AS, geopolitik, dan ekspektasi inflasi.

Dengan demikian, keputusan The Fed pada September 2026 menjadi salah satu agenda penting pasar global. Investor akan mencermati kombinasi data inflasi, tenaga kerja, serta pernyataan pejabat bank sentral sebelum menentukan arah investasi berikutnya. (Tim)

Editor : Fanda Yosephta

Berita Terkait

10 Best Online MBA Programs in the USA for 2026: Tuition, Rankings, and Admission Requirements
WhatsApp Scam Alert Mulai Diuji, Chat Penipuan Bisa Terdeteksi Otomatis: Begini Cara Kerjanya
Kamboja Tutup 700 Pusat Penipuan Online, Hampir 30.000 Tersangka Ditangkap
APBN Malaysia 2027: Subsidi Diperketat, Penghematan Dikembalikan ke Rakyat, Biaya Hidup Jadi Fokus
US Embassy Warns Citizens Ahead of Jakarta Protest on August 27, 2026
Ronaldo Cetak Rekor Baru
Kisah Hui Ka Yan: Dari Miliarder Dunia, Kini Divonis Seumur Hidup
Guardiola Ungkap Masa Sulit di Man City
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 01:00 WIB

Trump Desak The Fed Pangkas Suku Bunga, Pasar Menanti Keputusan September 2026

Jumat, 4 September 2026 - 05:00 WIB

10 Best Online MBA Programs in the USA for 2026: Tuition, Rankings, and Admission Requirements

Kamis, 3 September 2026 - 18:04 WIB

WhatsApp Scam Alert Mulai Diuji, Chat Penipuan Bisa Terdeteksi Otomatis: Begini Cara Kerjanya

Selasa, 1 September 2026 - 19:12 WIB

Kamboja Tutup 700 Pusat Penipuan Online, Hampir 30.000 Tersangka Ditangkap

Selasa, 1 September 2026 - 07:00 WIB

APBN Malaysia 2027: Subsidi Diperketat, Penghematan Dikembalikan ke Rakyat, Biaya Hidup Jadi Fokus

Berita Terbaru