SUNGAIPENUH — Benny Wirsa Martalaga menyatakan mundur dari pencalonan Ketua DPD II Partai Golkar Kota Sungai Penuh. Keputusan tersebut diambil untuk menjaga stabilitas keamanan dan mencegah potensi konflik di internal partai.
Benny mengatakan, sebelum mengambil keputusan, dirinya telah melakukan komunikasi politik dengan sejumlah pihak, termasuk Hutri Randa. Komunikasi tersebut dilakukan untuk membangun dialog dan mencari titik temu di tengah dinamika menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kota Sungai Penuh.
Menurut Benny, komunikasi dengan sejumlah pihak menjadi bagian dari pertimbangannya dalam menentukan langkah terbaik bagi organisasi. Ia menilai kepentingan Partai Golkar dan persatuan kader harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi.
“Saya memilih untuk mundur demi menjaga persatuan Partai Golkar serta keamanan dan ketenangan masyarakat Kota Sungai Penuh. Jangan sampai proses Musda justru menimbulkan perpecahan yang lebih besar,” ujar Benny.
Benny menegaskan, pengunduran dirinya bukan berarti kehilangan komitmen untuk membangun Partai Golkar. Ia justru berharap langkah tersebut dapat membantu menurunkan tensi politik dan menjaga hubungan antarkader.
“Golkar adalah rumah besar kita bersama. Jangan karena perbedaan dalam memilih ketua, kita kehilangan persaudaraan dan merusak soliditas organisasi,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh kader, pengurus, pimpinan kecamatan, organisasi sayap, dan elemen Partai Golkar untuk tetap menghormati mekanisme organisasi. Benny berharap Musda berlangsung tertib, demokratis, dan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Bagi saya, jabatan bukan tujuan utama. Yang lebih penting adalah bagaimana Golkar tetap utuh dan tidak terbelah. Saya rela mengambil langkah ini apabila keputusan tersebut dapat membantu menjaga keamanan dan persatuan,” tegasnya.
Benny berharap pengunduran dirinya tidak menjadi alasan bagi pihak mana pun untuk mempertajam perbedaan. Ia mengajak seluruh kader menjadikan Musda sebagai momentum konsolidasi dan memperkuat Partai Golkar di Kota Sungai Penuh.
“Perbedaan pilihan adalah hal biasa dalam demokrasi. Tetapi persaudaraan dan keutuhan organisasi harus kita jaga bersama. Mari kita jadikan Musda sebagai momentum konsolidasi, bukan sumber perpecahan,” pungkas Benny. (*)
Penulis : Fanda Yosephta
Editor : Fanda Yosephta









