EKONOMI – Pemerintah mengungkapkan bahwa kesempatan bekerja di luar negeri bagi warga negara Indonesia (WNI) masih terbuka lebar. Hingga pertengahan 2026, masih terdapat sekitar 236 ribu lowongan kerja di berbagai negara yang belum terisi oleh Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Data tersebut disampaikan Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI)/Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Mukhtarudin, dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI pada Selasa (30/6/2026).
Berdasarkan data Kementerian P2MI/BP2MI, total peluang kerja yang tersedia di luar negeri mencapai sekitar 315 ribu posisi. Namun, hingga saat ini baru sekitar 78.996 lowongan atau sekitar 25 persen yang berhasil diisi oleh tenaga kerja asal Indonesia.
Artinya, sekitar 75 persen peluang kerja, atau kurang lebih 236 ribu posisi, masih tersedia bagi calon pekerja yang memenuhi persyaratan dan kompetensi yang dibutuhkan.
Bonus Demografi Dinilai Jadi Modal Besar
Pemerintah menilai besarnya jumlah penduduk usia produktif Indonesia dapat menjadi kekuatan untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di berbagai negara yang saat ini menghadapi fenomena aging population atau penuaan penduduk.
Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 183 juta penduduk usia produktif pada 2025, dan jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 208 juta jiwa pada 2045.
Kondisi tersebut dinilai sebagai momentum penting untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia di pasar global apabila didukung dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Fokus pada Perlindungan Pekerja Migran
Selain mendorong peningkatan jumlah penempatan pekerja migran, pemerintah juga menegaskan bahwa aspek perlindungan menjadi prioritas utama.
Kementerian P2MI/BP2MI menyatakan perlindungan terhadap pekerja migran dilakukan secara menyeluruh, mulai dari proses sebelum keberangkatan, selama bekerja di negara tujuan, hingga setelah pekerja kembali ke Indonesia.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan keamanan, kesejahteraan, dan kepastian hukum bagi pekerja migran Indonesia.
Prioritaskan Tenaga Kerja Berkeahlian
Pemerintah juga mengubah strategi penempatan tenaga kerja Indonesia ke luar negeri.
Jika sebelumnya lebih banyak mengirim tenaga kerja pada sektor berkeahlian rendah, kini pemerintah mendorong peningkatan penempatan pada sektor medium skill dan high skill yang menawarkan pendapatan lebih baik serta peluang pengembangan karier yang lebih luas.
Menurut pemerintah, kebutuhan tenaga kerja di berbagai negara masih cukup tinggi. Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila calon pekerja memiliki kompetensi sesuai dengan standar internasional.
Karena itu, peningkatan kualitas pendidikan vokasi dan pelatihan kerja menjadi salah satu fokus utama pemerintah.
Program Peningkatan Kompetensi
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Kementerian P2MI/BP2MI terus membangun ekosistem penempatan pekerja migran yang lebih berkualitas.
Sejumlah program disiapkan, di antaranya penguatan pendidikan vokasi serta program SMK Go Global, yang bertujuan menghasilkan lulusan dengan kompetensi sesuai kebutuhan pasar kerja internasional.
Melalui berbagai program tersebut, pemerintah berharap semakin banyak tenaga kerja Indonesia yang mampu bersaing di tingkat global sekaligus memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional melalui peningkatan devisa dan kualitas sumber daya manusia.
Pemerintah juga mengajak masyarakat yang berminat bekerja di luar negeri untuk mempersiapkan diri dengan meningkatkan keterampilan, menguasai bahasa asing, serta mengikuti prosedur penempatan resmi agar memperoleh perlindungan hukum selama bekerja di negara tujuan.









