Rupiah Nyaris Rp17.800 per Dolar AS, Ancaman Harga BBM hingga Cicilan Makin Berat

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 26 Mei 2026 - 15:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta-Nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian utama publik setelah mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026. Mata uang Garuda sempat berada di level Rp17.791 per dolar Amerika Serikat dan semakin dekat menuju angka psikologis Rp17.800/US$. Pelemahan tajam ini langsung memicu kekhawatiran terhadap kenaikan harga barang impor, ancaman inflasi, hingga potensi naiknya biaya hidup masyarakat Indonesia.

Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah situasi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian. Harga minyak mentah dunia kembali melonjak mendekati US$100 per barel akibat meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Investor global pun ramai-ramai memburu aset aman seperti dolar AS dan meninggalkan aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut membuat rupiah semakin sulit keluar dari tekanan dalam beberapa hari terakhir.

Selain faktor eksternal, pasar juga menyoroti kondisi fiskal Indonesia yang dinilai mulai membebani sentimen investor. Kekhawatiran terhadap defisit anggaran, meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah, serta arus modal asing yang keluar dari pasar domestik menjadi pemicu tambahan pelemahan rupiah. Banyak investor kini memilih menahan dana sambil menunggu langkah konkret pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Pelemahan rupiah berpotensi memberikan dampak langsung terhadap berbagai sektor penting. Harga barang elektronik, otomotif, hingga bahan baku industri diperkirakan ikut naik karena mayoritas masih bergantung pada impor berbasis dolar AS. Jika kurs rupiah terus bertahan di level tinggi, biaya produksi perusahaan bisa meningkat dan akhirnya dibebankan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga barang.

Baca Juga :  Cara Cepat Ajukan Laporan Gagal Setor Tunai di ATM BRI lewat BRImo, Dana Dijanjikan Kembali Maksimal 14 Hari

Tidak hanya itu, masyarakat yang memiliki cicilan dalam dolar AS juga diprediksi menghadapi tekanan lebih besar. Biaya pendidikan luar negeri, pembayaran utang perusahaan, hingga kebutuhan perjalanan internasional dipastikan menjadi lebih mahal. Kondisi ini dapat memperlemah daya beli masyarakat jika pelemahan rupiah berlangsung dalam jangka panjang.

Di sisi lain, pasar obligasi pemerintah masih menunjukkan pergerakan yang relatif stabil. Beberapa tenor Surat Utang Negara tercatat mengalami penurunan yield yang menandakan masih adanya minat investor terhadap instrumen pendapatan tetap Indonesia. Meski begitu, pelaku pasar tetap berhati-hati karena tekanan global dinilai belum sepenuhnya mereda.

Analis menilai level Rp17.800 per dolar AS kini menjadi batas psikologis penting bagi pasar keuangan Indonesia. Jika harga minyak dunia terus naik dan tensi geopolitik semakin memanas, rupiah berpotensi melanjutkan pelemahan menuju level yang lebih dalam. Oleh karena itu, langkah intervensi Bank Indonesia dan kebijakan stabilisasi ekonomi menjadi faktor utama yang sangat dinantikan investor.

Baca Juga :  Tablet Premium Huawei MatePad 12X 2026 Hadir dengan Bonus Rp4,5 Juta

Meski situasi saat ini memicu kekhawatiran, sejumlah ekonom percaya peluang pemulihan rupiah tetap terbuka apabila sentimen global mulai membaik dan arus modal asing kembali masuk ke Indonesia. Pemerintah juga diharapkan mampu menjaga kepercayaan pasar melalui kebijakan fiskal yang disiplin dan langkah ekonomi yang mampu mendorong pertumbuhan nasional di tengah tekanan global.

FAQ

Kenapa rupiah melemah terhadap dolar AS?

Rupiah melemah akibat kombinasi faktor global dan domestik seperti kenaikan harga minyak dunia, ketegangan geopolitik, defisit fiskal, serta arus modal asing keluar dari Indonesia.

Berapa kurs rupiah terbaru hari ini?

Pada perdagangan 26 Mei 2026, rupiah sempat menyentuh level Rp17.791 per dolar AS dan menjadi rekor terlemah sepanjang sejarah.

Apa dampak rupiah melemah bagi masyarakat?

Pelemahan rupiah dapat memicu kenaikan harga barang impor, biaya cicilan dolar AS, tiket perjalanan luar negeri, hingga ancaman inflasi kebutuhan pokok.

Apakah rupiah bisa tembus Rp18.000 per dolar AS?

Analis menilai peluang tersebut tetap terbuka jika tekanan global terus meningkat dan tidak ada sentimen positif yang mampu menopang pasar domestik.

Apa langkah yang bisa dilakukan Bank Indonesia?

Bank Indonesia dapat melakukan intervensi pasar valuta asing, menjaga cadangan devisa, serta menyesuaikan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah.

Berita Terkait

Harga Smartphone Diprediksi Melonjak hingga 2028, Ini Penyebabnya
Pertalite Mulai Sulit Dicari, Pengamat Sebut Era BBM Subsidi Segera Berakhir
Purbaya Sebut 10 Perusahaan Sawit Diduga Main Harga Ekspor, Ini Modusnya
Kurs Dolar AS Makin Mahal, Rupiah Ditutup Melemah di Tengah Sentimen The Fed
Restrukturisasi Besar, Telkom Akan Tutup 10 Anak Perusahaan
Pemerintah Siapkan Marketplace UMKM Nasional, Shopee dan TikTok Shop Terancam?
Jensen Huang Sebut Nvidia Sudah ‘Menyerah’ ke Huawei di China
Rupiah Masih Tertekan, Dolar AS Berpotensi Sentuh Rp17.800 Hari Ini
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:00 WIB

Harga Smartphone Diprediksi Melonjak hingga 2028, Ini Penyebabnya

Selasa, 26 Mei 2026 - 15:17 WIB

Rupiah Nyaris Rp17.800 per Dolar AS, Ancaman Harga BBM hingga Cicilan Makin Berat

Selasa, 26 Mei 2026 - 15:02 WIB

Pertalite Mulai Sulit Dicari, Pengamat Sebut Era BBM Subsidi Segera Berakhir

Selasa, 26 Mei 2026 - 08:00 WIB

Purbaya Sebut 10 Perusahaan Sawit Diduga Main Harga Ekspor, Ini Modusnya

Selasa, 26 Mei 2026 - 02:00 WIB

Kurs Dolar AS Makin Mahal, Rupiah Ditutup Melemah di Tengah Sentimen The Fed

Berita Terbaru