Dahlan Iskan Sebut Film “Pesta Babi” Layak Raih Piala Citra, Soroti Isu Papua dan Lingkungan

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 26 Mei 2026 - 04:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

NASIONAL-Jurnalis senior sekaligus mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, memberikan perhatian khusus terhadap film dokumenter berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita yang belakangan ramai menjadi perbincangan publik.

Dalam sebuah siniar bertajuk “DI’s Way Morning”, Dahlan menyebut film tersebut layak mendapatkan penghargaan tertinggi di industri perfilman Indonesia, yakni Festival Film Indonesia melalui Piala Citra.

Pernyataan itu langsung menarik perhatian publik karena film dokumenter tersebut dinilai menghadirkan kritik sosial yang kuat terkait isu lingkungan, pembangunan, dan kondisi masyarakat di Papua.

Dahlan Iskan Nilai Film Punya Pesan Kuat

Dalam perbincangan yang dipandu Heraldha Savira, Dahlan Iskan menilai karya garapan Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Jehan Paju Dale itu memiliki kekuatan pesan yang sangat relevan dengan kondisi sosial saat ini.

Menurut Dahlan, film dokumenter bukan sekadar hiburan, tetapi dapat menjadi medium refleksi publik terhadap arah pembangunan nasional.

Ia menilai keberanian film tersebut dalam menyampaikan kritik sosial menjadi nilai penting yang jarang ditemukan dalam karya dokumenter Indonesia.

“Film seperti ini penting karena memantik diskusi publik dan menghadirkan kritik sosial lewat bahasa visual yang dekat dengan realitas masyarakat,” ujar Dahlan dalam podcast tersebut.

Soroti Relasi Manusia, Alam, dan Pembangunan

Film “Pesta Babi” banyak membahas hubungan antara pembangunan, eksploitasi sumber daya alam, dan dampaknya terhadap masyarakat lokal.

Dalam diskusi itu, Dahlan juga menyinggung bagaimana pembangunan sering menghadirkan konsekuensi kompleks bagi lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat.

Menurutnya, persoalan kerusakan alam bukan lagi isu lokal, tetapi sudah menjadi tantangan nasional bahkan global.

Baca Juga :  Kontroversi Nobar Film Pesta Babi, Pemerintah Tegaskan Tidak Ada Pelarangan

Ia menyebut perubahan bentang alam, eksploitasi sumber daya, hingga ketimpangan pembangunan harus menjadi perhatian bersama.

“Bukan hanya tontonan, tetapi bahan renungan tentang arah pembangunan, lingkungan, dan masa depan Indonesia,” katanya.

Film Dokumenter Indonesia Mulai Mendapat Perhatian

Pernyataan Dahlan Iskan dianggap menjadi sinyal positif bagi perkembangan film dokumenter Indonesia.

Selama ini, film dokumenter dinilai kurang mendapatkan perhatian dibandingkan film komersial. Padahal, genre dokumenter memiliki kekuatan besar dalam membangun kesadaran sosial masyarakat.

Film “Pesta Babi” sendiri ramai dibahas di media sosial karena mengangkat isu sensitif mengenai Papua, lingkungan hidup, dan kolonialisme modern.

Banyak pihak menilai film tersebut berhasil menghadirkan perspektif berbeda terkait pembangunan dan dampaknya terhadap masyarakat adat.

Siapa Dahlan Iskan?

Dahlan Iskan dikenal sebagai salah satu tokoh pers paling berpengaruh di Indonesia.

Karier jurnalistiknya dimulai di majalah Tempo pada 1976 sebelum kemudian memimpin Jawa Pos pada 1982.

Di bawah kepemimpinannya, Jawa Pos berkembang menjadi salah satu grup media terbesar di Indonesia.

Dahlan kemudian dipercaya menjadi Direktur Utama PT PLN (Persero) sebelum menjabat Menteri BUMN pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Setelah tidak lagi aktif di pemerintahan, Dahlan mendirikan jaringan media Disway yang kini berkembang di berbagai daerah Indonesia.

Film Dokumenter dan Kritik Sosial

Pengamat perfilman menilai film dokumenter saat ini semakin penting di tengah perkembangan media digital.

Karya dokumenter mampu menghadirkan realitas sosial secara lebih dekat dan emosional kepada masyarakat.

Baca Juga :  Purbaya Siapkan Rombak Massal Bea Cukai, Dari Pejabat Pusat hingga Petugas Pelabuhan

Isu lingkungan, masyarakat adat, eksploitasi sumber daya alam, hingga pembangunan daerah menjadi tema yang semakin banyak diangkat karena dianggap relevan dengan kondisi masyarakat modern.

Film “Pesta Babi” dinilai menjadi salah satu contoh bagaimana sinema dapat menjadi alat kritik sosial sekaligus ruang edukasi publik.

Papua dan Isu Lingkungan Jadi Sorotan

Papua dalam beberapa tahun terakhir memang menjadi sorotan terkait isu lingkungan dan pembangunan.

Berbagai proyek strategis nasional di wilayah timur Indonesia kerap memunculkan perdebatan mengenai dampak sosial dan ekologis terhadap masyarakat adat.

Film dokumenter seperti “Pesta Babi” dianggap membuka ruang diskusi baru mengenai hubungan antara investasi, pembangunan, dan keberlanjutan lingkungan.

Di sisi lain, karya dokumenter juga dinilai membantu memperluas perspektif publik terhadap kondisi sosial yang jarang muncul di media arus utama.

FAQ

Apa itu film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”?

Film dokumenter yang mengangkat isu lingkungan, pembangunan, dan kritik sosial terkait kondisi masyarakat Papua.

Siapa pembuat film “Pesta Babi”?

Film tersebut dibuat oleh Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Jehan Paju Dale.

Mengapa Dahlan Iskan memuji film tersebut?

Karena dinilai berani menyampaikan kritik sosial dan menghadirkan refleksi tentang pembangunan serta lingkungan.

Apa itu Piala Citra?

Festival Film Indonesia merupakan penghargaan perfilman tertinggi di Indonesia.

Mengapa film dokumenter penting?

Film dokumenter mampu menghadirkan fakta sosial dan isu publik secara lebih mendalam serta edukatif bagi masyarakat.

Berita Terkait

Viral Lagu Kicau Mania, Begini Cara TikTok Ubah Musik Jadi Mesin Algoritma
Operasi Patuh 2026 Segera Digelar, Tilang Manual Diperbanyak! Pengendara Motor dan Mobil Wajib Waspada
Bursa Ketum HIPMI 2026 Memanas, 4 Kandidat Resmi Berebut Kursi Strategis Pengusaha Muda
Blackout Sumatera Dipastikan Bukan Sabotase, Polisi Ungkap Penyebab Pemadaman
Blackout Sumatra Mulai Pulih, PLN Ungkap Penyebab Gangguan hingga 176 Gardu Induk Kembali Normal
Bareskrim Turun ke Jambi Usut Blackout Sumatera, Penyebab Listrik Padam Berjam-jam Mulai Terungkap
Purbaya Targetkan Rupiah Kembali ke Rp15.000 per Dolar AS
Sumatera Gelap Gulita, PLN Jelaskan Efek Domino Penyebab Blackout Besar
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 06:08 WIB

Viral Lagu Kicau Mania, Begini Cara TikTok Ubah Musik Jadi Mesin Algoritma

Selasa, 26 Mei 2026 - 04:01 WIB

Dahlan Iskan Sebut Film “Pesta Babi” Layak Raih Piala Citra, Soroti Isu Papua dan Lingkungan

Senin, 25 Mei 2026 - 19:00 WIB

Operasi Patuh 2026 Segera Digelar, Tilang Manual Diperbanyak! Pengendara Motor dan Mobil Wajib Waspada

Senin, 25 Mei 2026 - 17:00 WIB

Bursa Ketum HIPMI 2026 Memanas, 4 Kandidat Resmi Berebut Kursi Strategis Pengusaha Muda

Senin, 25 Mei 2026 - 12:30 WIB

Blackout Sumatera Dipastikan Bukan Sabotase, Polisi Ungkap Penyebab Pemadaman

Berita Terbaru