KESEHATAN-Peningkatan kasus campak kembali menjadi perhatian serius dunia kesehatan nasional. Data terbaru Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat hingga 28 Februari 2026 terdapat 572 kasus campak terkonfirmasi laboratorium. Angka tersebut melonjak tajam dibanding awal Januari 2026 yang masih berada di kisaran puluhan kasus.
Kenaikan signifikan ini membuat 11 provinsi menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB). Pemerintah pun memperkuat langkah respons, termasuk pengawasan dan percepatan imunisasi di daerah dengan tingkat penularan tinggi.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya menyoroti pengaruh hoaks dan disinformasi di media sosial yang dinilai berkontribusi terhadap penurunan cakupan imunisasi. Informasi yang tidak akurat membuat sebagian masyarakat ragu bahkan menolak vaksin, padahal campak termasuk penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi.
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Tjandra Yoga Aditama, menegaskan bahwa vaksin campak telah melalui proses uji keamanan dan terbukti efektif mencegah penyakit berat serta komplikasi.
Mayoritas Kasus Belum Pernah Divaksin
Berdasarkan laporan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKD) Kemenkes, sekitar 67 persen dari total 572 kasus terjadi pada individu yang belum pernah menerima imunisasi campak. Kondisi ini menunjukkan bahwa kelompok tanpa vaksinasi memiliki risiko penularan jauh lebih tinggi.
Sementara itu, sekitar 15 persen kasus tercatat sudah menerima vaksin lengkap dua dosis. Prof. Tjandra menjelaskan, efikasi vaksin campak mencapai sekitar 97 persen. Artinya, masih terdapat kemungkinan kecil seseorang yang telah divaksin tetap terinfeksi, meski umumnya dengan gejala lebih ringan.
Ia memaparkan beberapa faktor yang dapat menyebabkan infeksi pada individu yang telah divaksin, antara lain penurunan kadar antibodi seiring waktu, paparan virus dalam jumlah besar, hingga potensi gangguan pada sistem penyimpanan vaksin atau cold chain.
Menurutnya, pengelolaan distribusi vaksin harus memenuhi standar suhu yang ketat. Jika sistem rantai dingin tidak berjalan optimal, kualitas vaksin dapat menurun sehingga perlindungan yang diberikan tidak maksimal.
Edukasi dan Analisis Mendalam Diperlukan
Para ahli menilai peningkatan kasus campak tidak hanya menjadi persoalan medis, tetapi juga tantangan komunikasi publik. Penyuluhan kesehatan yang berkelanjutan dinilai penting untuk meluruskan informasi yang keliru sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya imunisasi.
Prof. Tjandra juga mendorong analisis lebih lanjut terhadap kasus pada individu yang telah divaksin lengkap. Evaluasi tersebut diperlukan untuk memastikan tidak ada kendala teknis dalam distribusi maupun pelaksanaan program imunisasi.
Campak sendiri bukan penyakit ringan. Infeksi ini dapat menimbulkan komplikasi serius seperti radang paru, gangguan saluran pencernaan berat, hingga peradangan otak. Karena itu, vaksinasi tetap menjadi strategi utama pencegahan yang direkomendasikan.
Pemerintah mengimbau masyarakat memastikan anak-anak mendapatkan imunisasi sesuai jadwal dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.









