Jakarta-Banyak masyarakat mengeluhkan tagihan listrik rumah tangga yang terasa semakin besar dalam beberapa bulan terakhir. Padahal, pemerintah dan PT PLN (Persero) memastikan tarif listrik untuk pelanggan rumah tangga non subsidi belum mengalami kenaikan sejak 2022. Kondisi ini membuat sebagian pelanggan bertanya-tanya mengenai penyebab utama lonjakan pembayaran listrik bulanan yang kini mulai membebani pengeluaran keluarga.
PLN menjelaskan bahwa besarnya tagihan listrik sangat dipengaruhi pola pemakaian energi di rumah. Semakin sering perangkat elektronik digunakan, maka konsumsi listrik dalam satuan kWh juga meningkat. Penggunaan AC, kulkas, rice cooker, mesin cuci, hingga charger yang terus menancap tanpa disadari menjadi penyebab utama tagihan melonjak. Selain itu, ada komponen tambahan seperti pajak daerah dan biaya administrasi yang ikut memengaruhi total pembayaran.
General Manager PLN UID Sulselrabar, Edyansyah, mengatakan pelanggan perlu memahami cara kerja perhitungan listrik agar dapat mengontrol konsumsi energi secara lebih efisien. Menurutnya, pembayaran listrik bukan hanya dihitung dari tarif dasar listrik, tetapi juga dipengaruhi pajak tenaga listrik, meterai, hingga Pajak Pertambahan Nilai sesuai ketentuan yang berlaku di masing-masing daerah.
Pada sistem pascabayar, tagihan listrik dihitung berdasarkan total pemakaian kWh yang tercatat di meter pelanggan selama satu bulan. Jumlah pemakaian tersebut kemudian dikalikan dengan tarif listrik sesuai golongan daya rumah tangga. Setelah itu ditambah komponen lain seperti PBJT-TL atau pajak listrik daerah yang besarannya berbeda di setiap wilayah Indonesia.
Sementara untuk pelanggan prabayar, nominal token listrik yang dibeli ternyata tidak sepenuhnya berubah menjadi daya listrik. Sebagian saldo dipotong terlebih dahulu untuk biaya administrasi dan pajak daerah. Sebagai contoh, pembelian token listrik Rp200 ribu untuk daya 2.200 VA tidak langsung menghasilkan saldo listrik penuh senilai Rp200 ribu karena ada potongan biaya admin dan pajak sebelum dikonversi menjadi kWh.
PLN juga mengingatkan masyarakat agar lebih bijak menggunakan energi listrik di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil. Kebiasaan sederhana seperti mematikan lampu saat siang hari, mengurangi penggunaan AC berlebihan, serta mencabut colokan perangkat elektronik setelah dipakai dapat membantu menekan konsumsi listrik bulanan secara signifikan. Langkah kecil tersebut dinilai efektif menjaga tagihan tetap aman tanpa mengurangi kenyamanan di rumah.
Untuk membantu pelanggan memantau konsumsi energi, PLN menyediakan aplikasi PLN Mobile yang dapat digunakan mengecek riwayat pemakaian listrik, pembelian token, hingga estimasi tagihan bulanan. Pelanggan pascabayar juga dapat memanfaatkan fitur Swacam atau Swadaya Catat Angka Meter agar pemakaian listrik lebih transparan dan mudah dikontrol langsung dari smartphone.
Di tengah meningkatnya kebutuhan listrik rumah tangga, pemahaman mengenai cara menghitung tagihan listrik menjadi sangat penting agar masyarakat tidak kaget saat menerima tagihan bulanan. Dengan penggunaan energi yang lebih hemat dan terukur, pelanggan dapat menjaga pengeluaran tetap stabil sekaligus mendukung efisiensi energi nasional yang kini terus didorong pemerintah dan PLN.
FAQ
Kenapa tagihan listrik naik padahal tarif PLN tidak berubah?
Karena penggunaan listrik di rumah meningkat dan adanya tambahan komponen pajak serta biaya administrasi.
Apa penyebab token listrik cepat habis?
Pemakaian alat elektronik berdaya besar seperti AC, pemanas air, dan kulkas yang digunakan terus menerus.
Apakah pajak listrik berbeda di tiap daerah?
Ya. Besaran PBJT-TL atau pajak tenaga listrik ditentukan pemerintah daerah masing-masing.
Bagaimana cara mengecek penggunaan listrik bulanan?
Pelanggan dapat memantau konsumsi listrik melalui aplikasi PLN Mobile.
Apa tips agar tagihan listrik lebih hemat?
Gunakan lampu LED, matikan perangkat elektronik saat tidak digunakan, dan batasi penggunaan AC berlebihan. Tim









