Nilai tukar rupiah melemah mendekati Rp17.000 per dolar AS di tengah tekanan global, dipicu konflik Timur Tengah dan lonjakan harga minyak dunia yang memperkuat dolar AS.
Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali tertekan di awal pekan. Pada Senin (6/4/2026),
rupiah melemah ke level Rp16.996 per dolar AS. Angka ini makin mendekati batas psikologis Rp17.000 yang membuat pelaku pasar waspada.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah tekanan global yang meningkat. Konflik di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang memicu ketidakpastian pasar. Investor global pun mulai mengalihkan dana ke aset aman seperti dolar AS.
Selain faktor geopolitik, lonjakan harga minyak dunia juga memperparah kondisi. Harga minyak mentah jenis WTI sempat menembus USD 115 per barel sebelum terkoreksi. Kenaikan harga energi ini memicu kekhawatiran inflasi global yang berdampak langsung pada nilai tukar.
Situasi makin memanas setelah pernyataan dari Donald Trump terkait potensi konflik dengan Iran. Ancaman terhadap jalur distribusi minyak dunia seperti Selat Hormuz membuat pasar semakin tegang.
Kondisi ini mendorong investor menjauhi aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah. Aliran dana global pun cenderung masuk ke dolar AS yang dianggap lebih stabil.
Tak hanya itu, data ekonomi Amerika Serikat juga ikut memperkuat dolar. Laporan tenaga kerja terbaru menunjukkan hasil yang jauh di atas ekspektasi, menandakan ekonomi AS masih solid.
Kuatnya ekonomi AS membuat peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama semakin besar. Hal ini menjadi sentimen tambahan yang menekan rupiah dan mata uang lainnya.
Analis memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dalam waktu dekat, dengan rentang Rp16.950 hingga Rp17.050 per dolar AS. Pelaku pasar pun diminta tetap waspada terhadap perkembangan global yang bisa berubah cepat. (Tim/*)