Jakarta-Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada pembukaan perdagangan Jumat, 23 Oktober 2026, rupiah melemah ke level Rp18.071 per dolar AS. Sehari sebelumnya, mata uang Garuda ditutup pada Rp18.060 per dolar AS.
Pelemahan ini menjadi perhatian pelaku pasar karena terjadi di tengah tekanan jual investor asing dan kenaikan harga minyak dunia. Perkembangan geopolitik Timur Tengah juga menambah ketidakpastian pasar keuangan global.
Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures yang dikutip Bisnis.com, rupiah ditutup melemah 38 poin atau 0,21% pada Kamis, 22 Oktober 2026. Sementara itu, pada Jumat pagi, rupiah kembali terdepresiasi 0,06% saat perdagangan dibuka.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai aksi jual bersih atau net sell investor asing menjadi salah satu faktor yang menekan rupiah. Arus modal keluar dapat meningkatkan permintaan terhadap dolar AS dan membatasi penguatan mata uang domestik.
Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia ikut membayangi pergerakan rupiah. Pasar mencermati risiko eskalasi geopolitik di Timur Tengah, termasuk laporan mengenai kemungkinan langkah militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Perkembangan tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas harga energi dan pasar keuangan.
Lantas, apa dampak rupiah melemah bagi masyarakat? Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor barang dan bahan baku yang dibayar menggunakan dolar AS. Jika tekanan berlangsung lama, sebagian pelaku usaha dapat menghadapi kenaikan biaya produksi. Dampaknya terhadap harga konsumen bergantung pada jenis barang, kontrak impor, persediaan, dan kebijakan perusahaan.
Masyarakat juga perlu memperhatikan kebutuhan yang berkaitan dengan mata uang asing. Biaya perjalanan ke luar negeri, pembayaran pendidikan dalam dolar AS, dan pembelian produk impor bisa menjadi lebih mahal dalam rupiah. Namun, dampak tersebut tidak selalu terjadi secara langsung atau dengan besaran yang sama pada setiap produk.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terhadap dolar AS berlangsung bervariasi. Pada perdagangan Kamis, rupee India dan dolar Taiwan masing-masing melemah sekitar 0,37%, sedangkan peso Filipina turun 0,28%. Sebaliknya, yen Jepang menguat 0,59%. Lukman memperkirakan rupiah berpotensi berkonsolidasi pada kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS. Proyeksi tersebut merupakan perkiraan analis, bukan kepastian arah pasar. Investor dan masyarakat sebaiknya mencermati perkembangan harga minyak, arus modal asing, serta situasi geopolitik sebelum mengambil keputusan keuangan. (*)
Editor : FANDA YOSEPHTA









