Jakarta-Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah Rp18.022 pada penutupan perdagangan Rabu, 21 Oktober 2026. Pelemahan ini terjadi setelah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan sebesar 5,75%.
Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures yang dikutip Bisnis.com, rupiah terkoreksi 30 poin atau 0,17% dibandingkan penutupan sebelumnya. Pergerakan tersebut kembali membawa rupiah melewati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Kondisi ini menjadi perhatian pelaku pasar karena nilai tukar rupiah memengaruhi biaya impor, pembayaran utang dalam valuta asing, dan harga sejumlah barang. Pelemahan rupiah juga dapat meningkatkan tekanan biaya bagi perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan turut memengaruhi pergerakan rupiah. Namun, meredanya tekanan di pasar saham domestik membantu membatasi pelemahan mata uang Indonesia.
Di pasar Asia, pergerakan mata uang terhadap dolar AS berlangsung bervariasi. Dolar Taiwan menguat 0,64%, sedangkan rupee India naik 0,27% dan won Korea Selatan menguat 0,19%. Sebaliknya, peso Filipina melemah 0,43% dan baht Thailand turun 0,13%.
Untuk perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026, Lukman Leong memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS. Proyeksi tersebut menjadi acuan pelaku pasar dalam mencermati arah pergerakan mata uang domestik.
Meski demikian, pergerakan rupiah tetap bergantung pada perkembangan pasar keuangan global, permintaan dolar AS, dan respons investor terhadap kebijakan moneter. Karena itu, kisaran tersebut merupakan perkiraan analis, bukan jaminan nilai tukar akan bergerak sesuai proyeksi.
Masyarakat dan pelaku usaha perlu mencermati perkembangan kurs sebelum melakukan transaksi valuta asing. Sementara itu, investor sebaiknya mempertimbangkan risiko nilai tukar dan kondisi pasar secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan keuangan. (*)
Editor : FANDA YOSEPHTA









