Jakarta-Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat, 23 Oktober 2026. Rupiah berakhir di level Rp18.078 per dolar AS, turun 0,10% dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah tekanan terhadap sejumlah mata uang Asia. Pasar masih mencermati perkembangan ekonomi global, terutama kekhawatiran terhadap pasokan energi dan kenaikan harga minyak mentah internasional.
Berdasarkan laporan Bisnis.com, baht Thailand melemah 0,13%, ringgit Malaysia turun 0,04%, dan rupee India terkoreksi 0,12%. Peso Filipina juga turun 0,12%, sedangkan dolar Taiwan melemah 0,16%. Dolar Singapura dan dolar Hong Kong masing-masing turun 0,06%, sementara yen Jepang terkoreksi 0,13%. Yuan China menjadi salah satu mata uang yang menguat, yakni sebesar 0,04%.
Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai penguatan dolar AS turut dipengaruhi kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi. Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen investor.
Dari dalam negeri, kenaikan harga minyak dan pangan berpotensi menambah tekanan terhadap perekonomian. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia menghadapi risiko peningkatan kebutuhan subsidi bahan bakar minyak (BBM), LPG, dan kompensasi energi ketika harga minyak melampaui asumsi APBN.
Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan kebutuhan devisa untuk membiayai impor energi. Permintaan dolar AS yang meningkat dapat menambah tekanan terhadap rupiah, terutama ketika sentimen pasar global masih berhati-hati.
Pelemahan rupiah turut menjadi perhatian karena dapat meningkatkan biaya pembayaran utang luar negeri dalam denominasi dolar AS. Selain itu, kenaikan harga barang impor berpotensi menekan daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan menengah ke bawah.
Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan berikutnya, dalam kisaran Rp18.080–Rp18.130 per dolar AS. Untuk perdagangan pekan depan, ia memproyeksikan pergerakan rupiah berada di rentang Rp17.900–Rp18.250 per dolar AS. Proyeksi tersebut merupakan perkiraan pasar, bukan kepastian arah nilai tukar. (*)
Editor : FANDA YOSEPHTA









