JAKARTA – Rumah mewah milik beauty creator sekaligus pengusaha, Tasya Farasya, menjadi sorotan setelah mengalami keretakan di sejumlah bagian bangunan. Kondisi tersebut memunculkan dugaan adanya masalah dalam proses konstruksi yang kini tengah diperiksa oleh tim kontraktor yang menangani perbaikan.
Direktur Utama sekaligus pemilik PT Chandra Mitra Strukturindo (CMS), Wiryawan Chandra, mengungkapkan bahwa timnya sedang melakukan investigasi struktural untuk mengetahui kondisi bangunan secara menyeluruh. Pemeriksaan dilakukan dengan mengumpulkan data lapangan dan menyiapkan kajian teknis sebagai dasar menentukan metode perbaikan.
Menurut Wiryawan, hasil investigasi diperlukan untuk mengevaluasi kondisi struktur rumah sekaligus memastikan langkah penanganan yang tepat.
Tim kontraktor juga membandingkan kondisi konstruksi yang ditemukan di lapangan dengan gambar teknis bangunan dari pekerjaan sebelumnya. Dari pemeriksaan awal tersebut, terdapat sejumlah bagian yang disebut tidak sesuai dengan spesifikasi dalam dokumen teknis.
Kontraktor Temukan Perbedaan Ukuran Tulangan Besi
Salah satu temuan yang disampaikan Wiryawan berkaitan dengan jarak dan ukuran tulangan besi pada struktur bangunan.
Dalam penjelasan yang diunggah melalui akun Instagram Tasya Farasya, Wiryawan memperlihatkan perbandingan antara spesifikasi yang tercantum dalam gambar teknis dan kondisi aktual di lapangan.
Ia menyebutkan bahwa pada salah satu bagian, jarak tulangan yang seharusnya 100 milimeter ditemukan sekitar 130 milimeter. Selain itu, tulangan utama yang direncanakan berdiameter 16 milimeter terukur sekitar 15,36 milimeter.
Pemeriksaan juga menemukan perbedaan ukuran pada besi sengkang. Komponen yang menurut dokumen seharusnya berdiameter 10 milimeter disebut memiliki ukuran sekitar 7,39 milimeter.
Temuan tersebut menjadi bagian dari evaluasi teknis yang sedang dilakukan. Meski demikian, tingkat pengaruh setiap ketidaksesuaian terhadap keamanan bangunan perlu ditentukan melalui analisis teknis secara menyeluruh.
Dalam konstruksi bangunan, tulangan besi berperan penting dalam membantu beton menahan gaya tarik dan mendukung kekuatan struktur. Karena itu, kesesuaian ukuran, jarak, serta pemasangannya dengan perencanaan menjadi aspek yang perlu diperhatikan.
Kayu Bekisting Ditemukan di Sejumlah Titik
Selain persoalan tulangan besi, tim pemeriksa juga menemukan kayu bekisting yang disebut masih tertinggal di beberapa bagian bangunan.
Bekisting merupakan cetakan sementara yang digunakan untuk membentuk dan menahan beton segar selama proses pengecoran. Setelah beton cukup mengeras dan memenuhi persyaratan untuk pembongkaran, bekisting dilepas sesuai prosedur konstruksi.
Keberadaan kayu bekisting yang masih tertinggal menjadi salah satu temuan yang perlu ditindaklanjuti dalam pemeriksaan rumah tersebut.
Namun, dampak temuan itu terhadap kondisi bangunan tidak dapat disimpulkan hanya dari keberadaan material tersebut. Penilaian tetap membutuhkan pemeriksaan langsung untuk mengetahui lokasi, fungsi, dan pengaruhnya terhadap elemen konstruksi.
Tim kontraktor dilaporkan sedang mengumpulkan berbagai data untuk memastikan kondisi aktual bangunan sebelum menentukan langkah renovasi lebih lanjut.
Hasil Pengujian Beton Disebut Tidak Seragam
Temuan lain berkaitan dengan mutu beton pada sejumlah bagian rumah.
Berdasarkan penjelasan Wiryawan, timnya melakukan pengujian non-destruktif atau non-destructive test (NDT) untuk mengevaluasi kondisi beton tanpa merusak struktur secara langsung.
Dalam pemaparannya, mutu beton yang tercantum dalam dokumen teknis adalah K-300. Namun, hasil pemeriksaan pada beberapa titik disebut menunjukkan angka di kisaran K-250.
Perbedaan tersebut menjadi bahan evaluasi lebih lanjut untuk mengetahui kesesuaian mutu beton yang terpasang dengan spesifikasi perencanaan.
Perlu dipahami bahwa hasil pengujian beton harus ditafsirkan berdasarkan metode pengujian, kondisi material, serta standar teknis yang berlaku. Kesimpulan mengenai kelayakan struktur tidak semestinya hanya didasarkan pada satu hasil pengujian.
Oleh sebab itu, hasil pemeriksaan perlu dikaji bersama data konstruksi lainnya sebelum keputusan teknis mengenai perbaikan ditetapkan.
Rumah Dibangun Selama Enam Tahun
Persoalan keretakan rumah Tasya Farasya semakin menjadi perhatian karena pembangunan hunian tersebut membutuhkan waktu sekitar enam tahun, terhitung sejak tahap persiapan pada 2020.
Rumah yang dibangun ketika Tasya masih bersama mantan suaminya, Ahmad Assegaf, itu memiliki desain mewah dengan empat lantai. Setiap lantai dirancang menggunakan konsep interior berbeda, termasuk sentuhan modern French dan gaya modern.
Sejumlah perabotan juga dibuat secara khusus untuk menyesuaikan desain rumah. Hunian tersebut sebelumnya menjadi bagian dari proyek pembangunan rumah impian Tasya.
Setelah Tasya dan Ahmad Assegaf berpisah pada akhir 2025, pengerjaan rumah disebut kembali dikebut hingga akhirnya rampung dalam beberapa bulan berikutnya.
Namun, rumah yang belum genap setahun digunakan tersebut kemudian mengalami keretakan di sejumlah bagian. Kondisi ini membuat proses pemeriksaan dan renovasi menjadi perhatian tersendiri.
Renovasi Dilakukan untuk Menentukan Solusi Perbaikan
Wiryawan menyampaikan bahwa timnya berupaya mencari solusi terbaik agar rumah Tasya dapat diperbaiki sesuai kebutuhan teknis.
Pemeriksaan tidak hanya berfokus pada bagian yang sudah mengalami keretakan, tetapi juga pada kondisi struktur yang berpotensi membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Dalam proses renovasi bangunan, keretakan perlu dievaluasi berdasarkan penyebab dan karakteristiknya. Retakan dapat berkaitan dengan berbagai faktor, mulai dari penyusutan material, perubahan kondisi tanah, pergerakan struktur, hingga persoalan pada pelaksanaan konstruksi.
Karena itu, pemeriksaan teknis menjadi langkah penting untuk membedakan keretakan yang bersifat nonstruktural dengan kerusakan yang berpotensi memengaruhi kekuatan bangunan.
Tasya juga mengungkapkan kekhawatirannya mengenai kemungkinan munculnya retakan baru setelah bagian yang rusak diperbaiki. Kekhawatiran tersebut menunjukkan pentingnya evaluasi menyeluruh agar perbaikan tidak hanya berfokus pada gejala yang terlihat.
Meski sejumlah ketidaksesuaian konstruksi telah disampaikan oleh kontraktor, penyebab pasti seluruh keretakan dan tingkat pengaruhnya terhadap keamanan rumah masih perlu dipastikan melalui hasil investigasi teknis.
Hasil evaluasi tersebut diharapkan menjadi dasar penentuan metode perbaikan, sehingga rumah dapat digunakan dengan lebih aman sesuai hasil pemeriksaan dan persyaratan teknis yang berlaku.
Catatan redaksi: Temuan yang disebutkan dalam artikel ini merupakan keterangan kontraktor berdasarkan materi sumber. Penetapan penyebab pasti kerusakan dan tanggung jawab pihak terkait memerlukan hasil pemeriksaan teknis yang memadai serta klarifikasi dari pihak-pihak yang berkepentingan.
FAQ Seputar Keretakan Rumah Tasya Farasya
1. Mengapa rumah Tasya Farasya mengalami keretakan?
Penyebab pastinya masih memerlukan evaluasi teknis. Kontraktor yang menangani renovasi melaporkan sejumlah ketidaksesuaian antara kondisi konstruksi di lapangan dan gambar teknis bangunan.
2. Apa saja temuan kontraktor di rumah Tasya Farasya?
Temuan yang disampaikan meliputi perbedaan jarak dan ukuran tulangan besi, kayu bekisting yang masih tertinggal di beberapa titik, serta hasil pengujian beton yang tidak seluruhnya sesuai dengan mutu yang tercantum dalam dokumen teknis.
3. Apa fungsi tulangan besi dalam konstruksi rumah?
Tulangan besi membantu beton menahan gaya tarik dan mendukung kekuatan struktur. Ukuran, jarak, dan pemasangannya harus mengikuti perencanaan serta persyaratan teknis yang berlaku.
4. Apa yang dimaksud dengan beton K-300?
K-300 merupakan penamaan mutu beton berdasarkan kuat tekan karakteristik dalam sistem satuan kgf/cm² yang umum digunakan di Indonesia. Penilaian mutu beton aktual perlu mengacu pada metode pengujian dan standar yang sesuai.
5. Apakah keretakan rumah selalu menandakan kerusakan struktur?
Tidak selalu. Retakan bisa terjadi pada lapisan plester atau bagian nonstruktural, tetapi dapat pula berkaitan dengan masalah struktur. Pemeriksaan tenaga ahli diperlukan untuk menentukan penyebab dan tingkat risikonya.









