EKONOMI – Minat investor terhadap saham Amerika Serikat (AS) dalam bentuk token digital menunjukkan peningkatan pada kuartal III 2026. Di platform investasi aset kripto PINTU, jumlah pengguna yang membeli saham dan exchange-traded fund (ETF) AS tertokenisasi tumbuh 68 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut berlangsung selama Juli hingga September 2026. Selain jumlah pembeli, aktivitas perdagangan juga mengalami kenaikan, mencerminkan meningkatnya perhatian pengguna terhadap instrumen investasi yang memberikan eksposur terhadap aset keuangan global melalui teknologi blockchain.
PT Pintu Kemana Saja (PINTU) mencatat jumlah trader aktif untuk aset tertokenisasi naik 64 persen secara kuartalan. Sementara itu, jumlah transaksi meningkat 55 persen dan volume perdagangan bertambah 51 persen dibandingkan kuartal II 2026.
Presiden Direktur PINTU, Andy Putra, mengatakan peningkatan aktivitas tersebut terlihat pada sejumlah aset, terutama saham perusahaan teknologi global.
Dalam keterangan tertulis pada Sabtu (24/10/2026), Andy menyebut Nvidia menjadi salah satu aset dengan pertumbuhan jumlah pembeli tertinggi. Jumlah pembeli token saham Nvidia dengan kode NVDAX meningkat 224 persen pada kuartal III 2026.
Selain Nvidia, minat terhadap token saham Apple (AAPLX) meningkat 212 persen. Token Alphabet (GOOGLX) mencatat pertumbuhan jumlah pembeli 131 persen, sedangkan Robinhood (HOODX) naik 118 persen.
Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan jumlah pembeli pada platform PINTU, bukan kenaikan harga saham perusahaan-perusahaan tersebut di bursa Amerika Serikat. Karena itu, peningkatan jumlah pengguna tidak dapat langsung diartikan sebagai keuntungan investasi yang diperoleh para investor.
Volume Perdagangan Token Meta Meningkat Lebih dari 230 Persen
Selain pertumbuhan jumlah pembeli, sejumlah aset juga mencatat kenaikan volume perdagangan yang signifikan.
PINTU melaporkan volume perdagangan token Meta (METAX) meningkat lebih dari 230 persen pada kuartal III 2026 dibandingkan kuartal sebelumnya.
Kenaikan volume perdagangan dapat mencerminkan bertambahnya aktivitas transaksi pada suatu aset. Namun, indikator tersebut tidak secara otomatis menunjukkan bahwa harga aset mengalami kenaikan atau bahwa seluruh pemegangnya memperoleh keuntungan.
Menurut Andy, perkembangan ini menggambarkan meningkatnya aktivitas pengguna dalam mengikuti perusahaan teknologi global dan memperluas pilihan instrumen dalam portofolio investasi.
Saham perusahaan teknologi memang menjadi salah satu kelompok aset yang menarik perhatian investor. Namun, pergerakan harganya tetap dipengaruhi berbagai faktor, seperti kinerja perusahaan, kondisi ekonomi, suku bunga, persaingan industri, dan sentimen pasar global.
Investor perlu membedakan antara popularitas suatu aset, volume transaksinya, dan kinerja investasinya. Ketiganya merupakan indikator berbeda yang tidak selalu bergerak searah.
Minat terhadap Token Emas Ikut Meningkat
Tren investasi di PINTU tidak hanya berpusat pada saham perusahaan teknologi. Platform tersebut juga melaporkan peningkatan minat terhadap aset tertokenisasi yang memberikan eksposur terhadap emas.
Jumlah pembeli SPDR Gold ETF di PINTU meningkat lebih dari 170 persen pada kuartal III 2026 dibandingkan kuartal sebelumnya.
Menurut Andy, peningkatan itu menunjukkan pengguna mulai mempertimbangkan instrumen di luar saham teknologi untuk memperluas variasi portofolio.
Emas kerap menjadi salah satu instrumen yang diperhatikan investor ketika menyusun strategi diversifikasi. Meski demikian, investasi yang memberikan eksposur terhadap emas melalui ETF tertokenisasi memiliki karakteristik dan risiko yang perlu dipahami secara terpisah.
Investor sebaiknya memeriksa aset dasar yang menjadi acuan token, mekanisme penerbitan, pihak yang mengelola produk, serta ketentuan penebusan apabila tersedia.
Kepemilikan token yang mengikuti nilai suatu ETF juga tidak selalu identik dengan kepemilikan langsung atas unit ETF tersebut. Hak pemegang token bergantung pada struktur produk dan ketentuan yang berlaku.
PINTU Sediakan Lebih dari 100 Aset Tertokenisasi
Per Oktober 2026, PINTU menyediakan lebih dari 100 aset tertokenisasi yang mencakup saham Amerika Serikat, ETF, dan berbagai komoditas.
Menurut informasi perusahaan, aset-aset tersebut dapat ditransaksikan mulai dari Rp11.000. Nilai minimum transaksi yang relatif kecil memungkinkan pengguna mengakses produk tertentu tanpa harus mengeluarkan dana sebesar harga satu saham secara utuh.
PINTU mulai menghadirkan aset tertokenisasi sejak 2025. Pengembangan produk ini menjadi bagian dari upaya memperluas pilihan instrumen investasi yang dapat diakses melalui satu aplikasi.
Meski demikian, modal awal yang rendah bukan berarti risiko investasinya juga rendah. Nilai aset dapat berubah mengikuti pergerakan pasar, sementara biaya transaksi, selisih harga beli dan jual, serta ketentuan produk dapat memengaruhi hasil akhir investasi.
Sebelum bertransaksi, pengguna perlu membaca informasi produk dan memastikan memahami mekanisme token yang dibeli. Hal ini penting karena struktur aset tertokenisasi dapat berbeda dari perdagangan saham konvensional melalui perusahaan sekuritas.
Tambah 10 Aset Tertokenisasi Baru
PINTU juga menambahkan 10 aset tertokenisasi baru yang diterbitkan oleh Ondo sejak 17 September 2026.
Penambahan tersebut terdiri atas sembilan ETF dan satu saham Micron dengan kode MUon. Langkah ini memperluas pilihan aset yang tersedia bagi pengguna platform.
Kehadiran lebih banyak produk dapat memberikan alternatif bagi investor yang ingin mengeksplorasi berbagai sektor dan instrumen. Namun, banyaknya pilihan tidak serta-merta menjamin portofolio menjadi lebih aman atau menghasilkan imbal hasil lebih tinggi.
Investor tetap perlu mempertimbangkan tujuan keuangan, jangka waktu investasi, toleransi risiko, likuiditas, dan karakteristik setiap produk sebelum menentukan alokasi dana.
Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Membeli Saham Tertokenisasi
Saham tertokenisasi merupakan instrumen digital yang dirancang untuk memberikan eksposur terhadap saham atau aset keuangan tertentu. Mekanisme dan hak yang diperoleh pemegang token bergantung pada struktur produk serta ketentuan penerbitnya.
Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya berfokus pada pertumbuhan jumlah pembeli seperti yang tercatat pada Nvidia, Apple, maupun Alphabet.
Ada beberapa hal yang perlu diperiksa sebelum berinvestasi, antara lain aset dasar token, pihak penerbit, biaya transaksi, likuiditas, risiko teknologi, dan ketentuan hukum yang berlaku. Pengguna juga perlu memahami apakah token memberikan hak kepemilikan saham secara langsung atau hanya memberikan eksposur terhadap pergerakan nilainya.
Selain itu, akses terhadap produk keuangan luar negeri melalui platform aset kripto tidak menghilangkan risiko pasar. Investor dapat mengalami kerugian apabila nilai aset turun atau ketika kondisi perdagangan tidak menguntungkan.
Lonjakan aktivitas aset tertokenisasi di PINTU pada kuartal III 2026 memperlihatkan meningkatnya perhatian terhadap alternatif investasi digital. Namun, keputusan investasi tetap perlu didasarkan pada pemahaman produk dan penilaian risiko, bukan semata-mata mengikuti tren pembelian investor lain.
FAQ Saham AS Tertokenisasi
1. Apa itu saham tertokenisasi?
Saham tertokenisasi adalah token digital yang dirancang untuk memberikan eksposur terhadap saham tertentu. Hak, mekanisme, dan bentuk eksposurnya bergantung pada struktur produk yang diterbitkan.
2. Berapa pertumbuhan jumlah pembeli token Nvidia di PINTU?
Menurut data PINTU yang dikutip dalam laporan pada 24 Oktober 2026, jumlah pembeli token Nvidia berkode NVDAX meningkat 224 persen pada kuartal III dibandingkan kuartal II 2026.
3. Apakah kenaikan jumlah pembeli berarti harga Nvidia naik 224 persen?
Tidak. Angka 224 persen merujuk pada pertumbuhan jumlah pembeli token Nvidia di PINTU, bukan kenaikan harga saham Nvidia.
4. Berapa modal awal untuk membeli aset tertokenisasi di PINTU?
PINTU menyebut transaksi aset tertokenisasi dapat dimulai dari Rp11.000. Nilai minimum tersebut dapat bergantung pada ketentuan produk dan platform.
5. Apakah saham tertokenisasi bebas risiko?
Tidak. Produk ini dapat menghadapi risiko pasar, likuiditas, teknologi, penerbit, serta risiko hukum atau struktur produk. Investor perlu memahami ketentuannya sebelum membeli.
6. Apa saja aset tertokenisasi yang tersedia di PINTU?
Menurut informasi perusahaan per Oktober 2026, tersedia lebih dari 100 aset tertokenisasi yang mencakup saham AS, ETF, dan komoditas.









