SUNGAIPENUH – Di Kota Sungai Penuh, satu hidangan selalu menjadi primadona di setiap kenduri: gulai kambing berpadu nangka muda. Masakan berkuah merah itu bukan sekadar pelengkap acara adat, melainkan jejak kuliner yang diwariskan turun-temurun oleh keluarga-keluarga di dataran tinggi Kerinci.
Aroma rempah yang pekat, kuah gurih berempah, serta tekstur daging yang berpadu lembut dengan nangka muda menjadi ciri khas gulai ini. Banyak keluarga masih mempertahankan cara lama—tanpa takaran pasti, hanya ukuran tangan dan pengalaman bertahun-tahun.
Salah satu yang mempertahankan warisan rasa itu adalah keluarga almarhumah Hj. Jalisah. Usaha katering yang kini diteruskan anaknya, Henni Gustiati, menjadi rujukan utama saat warga membutuhkan gulai kambing untuk hajatan, kenduri, atau pesanan khusus di bulan Ramadan.
“Gulai kambing ini tidak dimasak setiap hari. Biasanya hanya bulan Ramadan atau kalau ada yang pesan untuk acara besar,” kata Henni, yang juga pensiunan guru SMP Negeri 1 Sungai Penuh.
Usaha keluarga Jalisah berlokasi di Jalan Husni Thamrin Nomor 1, Kelurahan Dusun Baru, Kecamatan Sungai Bungkal. Pemesannya beragam, dari rumah tangga, kantor, hingga perantau yang sengaja memesan untuk dibawa pulang.
Ciri khas gulai ini terletak pada proses memasaknya. Kuali besi berukuran besar dipanaskan dengan kayu manis, menghadirkan aroma harum alami dan menghilangkan seluruh bau amis daging. Kuah gulai berwarna merah pekat—menggugah selera bahkan sebelum disajikan.
Setiap Ramadan, gulai kambing buatan keluarga Jalisah selalu ludes hanya dalam hitungan jam. Warisan cita rasa itu kini menjadi salah satu ikon kuliner Sungai Penuh yang terus dipertahankan lintas generasi.(fyo)
Penulis : Fanda Yosephta
Editor : Dedi Dora









