KERINCI — Malam di perbukitan Masgo kini tak lagi sesunyi dulu. Di antara rimbun kopi yang tengah memasuki masa panen, lampu-lampu kecil dari pondok para petani terlihat menyala hingga larut. Mereka memilih berjaga, menginap di kebun, demi satu alasan: mencegah buah kopi mereka dicuri.
Kenaikan harga kopi dalam beberapa bulan terakhir membawa harapan sekaligus kecemasan. Bagi petani, harga tinggi semestinya kabar baik setelah bertahun-tahun merawat tanaman yang baru berbuah pada usia tiga tahun. Namun harapan itu ikut mengundang risiko. Pencurian di kebun-kebun Masgo kembali marak.
“Saat ini harga kopi masih mahal, kita takut kecolongan lagi,” kata Pen, salah satu petani Masgo, Minggu malam. Ia sudah hampir seminggu tidur di pondok kecilnya, hanya beralaskan tikar dan ditemani lampu senter.
Keterbatasan sinyal seluler di Masgo membuat komunikasi antarpeladang sulit dilakukan. Para petani pun kembali menggunakan HT (handy talky) yang sebelumnya jarang dipakai. Dalam gelap malam, suara mereka saling bersahutan melalui perangkat itu—melaporkan keadaan, saling mengawasi, memastikan tidak ada gerakan mencurigakan di kebun masing-masing.
“Komunikasi intens lewat HT, kalau pakai HP sering tak ada jaringan,” ujar Pen. Ia menyebut, sudah beberapa kali warga melaporkan kehilangan kopi maupun kerusakan tanaman akibat ulah pencuri.
Keluhan warga semakin kuat karena upaya merawat kopi bukan kerja semalam. Tanaman itu memerlukan waktu bertahun-tahun sebelum panen, ditambah perawatan rutin dan biaya yang tidak sedikit. Karenanya, ketika buah siap dipetik justru hilang, rasa kecewa petani sulit disembunyikan.
“Menanam kopi bukan sebentar, butuh tiga tahun lebih. Kita sangat menyayangkan ada oknum yang tega mencuri. Bahkan ada yang merusak tanaman,” ucap Pen.
Di tengah cuaca dingin dataran tinggi Kerinci, para petani Masgo bertahan—bergantian berjaga, berbagi logistik, dan saling menguatkan. Mereka berharap aparat keamanan memperketat patroli, sementara warga bertekad menjaga kebun masing-masing.
Di ladang-ladang itu, kopi yang menghitam menjadi simbol dua hal sekaligus: rezeki yang ditunggu-tunggu, dan kecemasan yang memaksa petani tak lagi tidur dengan tenang di rumah mereka sendiri.(fyo)
Penulis : Fanda Yosephta
Editor : Dedi Dora









