JAKARTA – Gelombang efisiensi kembali melanda perusahaan teknologi dunia pada awal 2026. Sejumlah perusahaan memilih memangkas biaya operasional sebagai respons terhadap ketidakpastian ekonomi global dan perlambatan pertumbuhan pendapatan.
Langkah efisiensi ini mencakup pengurangan belanja, restrukturisasi operasional, hingga peninjauan ulang proyek ekspansi. Perusahaan berupaya menjaga profitabilitas di tengah tekanan biaya dan persaingan yang semakin ketat.
Kondisi pasar global yang belum stabil membuat perusahaan teknologi bersikap lebih konservatif. Fokus diarahkan pada produk inti dan layanan yang memiliki margin lebih stabil. Proyek berisiko tinggi cenderung ditunda.
Bagi investor, langkah efisiensi dipandang sebagai sinyal disiplin keuangan. Pasar cenderung merespons positif perusahaan yang mampu menjaga kinerja di tengah tekanan global. Namun, dampaknya berbeda pada setiap subsektor teknologi.
Di Asia, termasuk Indonesia, kebijakan efisiensi global turut memengaruhi strategi perusahaan teknologi lokal. Beberapa startup mulai menyesuaikan target pertumbuhan dan mengutamakan keberlanjutan bisnis.
Dari sisi tenaga kerja, efisiensi menjadi tantangan tersendiri. Perusahaan dihadapkan pada kebutuhan menjaga produktivitas sekaligus mempertahankan talenta kunci. Manajemen sumber daya manusia menjadi faktor krusial.
Meski demikian, efisiensi tidak selalu berarti perlambatan inovasi. Banyak perusahaan justru memfokuskan inovasi pada solusi yang lebih relevan dan bernilai ekonomi tinggi.
Ke depan, sektor teknologi diperkirakan tetap menjadi pendorong ekonomi global. Namun, pertumbuhan akan lebih selektif dan berorientasi pada fundamental yang kuat. (fyo)









