OLAHRAGA – Piala Dunia 2026 mencatat momen unik sekaligus kontroversial setelah gelandang Paraguay, Miguel Almiron, menjadi pemain pertama yang menerima kartu merah dalam turnamen tersebut. Keputusan wasit memicu perdebatan karena berkaitan dengan penerapan aturan baru FIFA yang mulai diberlakukan pada ajang kali ini.
Insiden terjadi dalam pertandingan Grup D antara Paraguay melawan Turki yang berlangsung pada Jumat (19/6/2026) waktu setempat. Almiron diusir keluar lapangan menjelang berakhirnya babak pertama setelah terlibat adu argumen dengan pemain lawan.
Wasit Ivan Barton mengambil keputusan tegas usai meninjau tayangan Video Assistant Referee (VAR). Almiron dinilai melanggar regulasi baru FIFA yang melarang pemain menutupi mulut saat berbicara dalam situasi konfrontatif di lapangan.
Kartu Merah Pertama Piala Dunia 2026
Kartu merah yang diterima Almiron otomatis tercatat sebagai yang pertama dalam sejarah Piala Dunia 2026.
Berdasarkan regulasi terbaru FIFA, pemain tidak diperkenankan menutupi mulut menggunakan tangan, lengan, maupun jersey ketika berbicara kepada lawan, wasit, ataupun pihak lain di lapangan dalam situasi tertentu.
Aturan tersebut diterapkan untuk meningkatkan transparansi komunikasi dan memudahkan identifikasi apabila terjadi ujaran diskriminatif, penghinaan, atau pelanggaran etika lainnya selama pertandingan berlangsung.
Keputusan wasit mengeluarkan kartu merah langsung kepada Almiron menjadi implementasi pertama dari regulasi tersebut di panggung Piala Dunia.
Pelatih Paraguay Angkat Bicara
Pelatih Paraguay, Gustavo Alfaro, mengakui bahwa keputusan wasit sesuai dengan aturan yang berlaku saat ini.
Menurutnya, tim tidak memiliki ruang untuk memprotes karena regulasi FIFA sudah mengatur secara jelas konsekuensi dari tindakan tersebut.
Meski demikian, Alfaro menilai penerapan aturan baru itu cukup keras dan berpotensi menimbulkan perdebatan di kalangan pelaku sepak bola.
Ia menyebut sepak bola merupakan olahraga yang sarat emosi, sehingga gesekan dan adu argumentasi di lapangan kerap menjadi bagian dari dinamika pertandingan.
Namun demikian, Alfaro menegaskan seluruh pemain harus mampu beradaptasi dengan aturan yang telah ditetapkan oleh FIFA.
Almiron Minta Maaf kepada Rekan Setim
Usai pertandingan, Almiron dikabarkan menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh rekan setimnya.
Pemain yang selama ini menjadi salah satu motor serangan Paraguay itu merasa bertanggung jawab karena tim harus bermain dengan 10 pemain sejak akhir babak pertama.
Meski kehilangan satu pemain, Paraguay mampu mempertahankan keunggulan hingga laga berakhir dan mengamankan kemenangan 1-0 atas Turki.
Hasil tersebut menjadi modal penting bagi Paraguay dalam persaingan Grup D menuju babak 16 besar.
Turki Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Kekalahan dari Paraguay membuat langkah Turki di Piala Dunia 2026 berakhir lebih cepat.
Tim asuhan Vincenzo Montella gagal memanfaatkan keunggulan jumlah peluang meskipun bermain melawan 10 pemain pada babak kedua.
Hasil negatif tersebut memastikan Turki tersingkir dari turnamen setelah menelan dua kekalahan beruntun di fase grup.
Sebaliknya, Paraguay masih menjaga peluang untuk lolos ke fase gugur dan akan menghadapi laga penentuan pada pertandingan terakhir grup.
Aturan Baru FIFA Jadi Sorotan
Kasus Almiron menjadi perhatian luas karena merupakan salah satu contoh nyata penerapan aturan baru FIFA dalam turnamen internasional.
Banyak pengamat menilai regulasi tersebut bertujuan menjaga sportivitas dan mencegah praktik komunikasi yang tidak dapat dipantau oleh perangkat pertandingan.
Namun sebagian pihak juga menilai implementasinya perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak menghilangkan aspek emosional yang selama ini menjadi bagian dari sepak bola.
Perdebatan mengenai aturan tersebut diperkirakan masih akan berlanjut sepanjang berlangsungnya Piala Dunia 2026.









