Jakarta – Pendiri sekaligus Executive Chairman Strategy, Michael Saylor, kembali menjadi sorotan pelaku pasar kripto. Unggahan singkatnya di media sosial X memunculkan spekulasi bahwa perusahaan yang dikenal sebagai pemegang Bitcoin korporasi terbesar di dunia itu akan kembali menambah kepemilikan aset digitalnya.
Saylor mengunggah grafik kepemilikan Bitcoin milik Strategy disertai kalimat pendek, “Kita akan membutuhkan lebih banyak grafik.” Bagi investor yang mengikuti pergerakan perusahaan tersebut, unggahan seperti ini bukan sekadar pesan biasa. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, pola serupa muncul sebelum Strategy mengumumkan pembelian Bitcoin baru melalui laporan resmi kepada regulator Amerika Serikat.
Kebiasaan tersebut membuat pelaku pasar kembali berspekulasi bahwa pengumuman akuisisi Bitcoin terbaru kemungkinan akan dirilis dalam waktu dekat. Meski belum ada konfirmasi resmi dari perusahaan, sinyal yang diberikan Michael Saylor kerap menjadi perhatian investor global karena terbukti beberapa kali mendahului aksi pembelian Bitcoin dalam jumlah besar.
Saat ini Strategy tercatat memiliki sekitar 847.363 Bitcoin. Jumlah tersebut menjadikan perusahaan sebagai pemegang Bitcoin terbesar di kalangan perusahaan publik. Bitcoin tersebut diperoleh secara bertahap selama beberapa tahun terakhir dengan harga rata-rata sekitar US$75.646 per koin.
Namun, kondisi pasar kripto yang masih bergejolak membuat nilai portofolio perusahaan ikut tertekan. Harga Bitcoin saat ini masih berada di kisaran US$60.000-US$62.000 per koin. Dengan harga tersebut, kepemilikan Bitcoin Strategy masih berada di bawah rata-rata harga belinya sehingga perusahaan mencatat kerugian yang belum direalisasikan dalam nilai miliaran dolar Amerika Serikat.
Meski demikian, Strategy tetap mempertahankan strategi jangka panjangnya. Michael Saylor berkali-kali menegaskan bahwa Bitcoin merupakan aset penyimpan nilai terbaik untuk melindungi kekayaan perusahaan dari inflasi dalam jangka panjang. Karena itu, perusahaan terus memanfaatkan berbagai instrumen pendanaan untuk menambah cadangan Bitcoin ketika memiliki ruang keuangan yang memadai.
Pada pekan sebelumnya, Strategy mengumumkan pembelian tambahan sebanyak 520 Bitcoin dengan nilai sekitar US$35 juta. Nilai transaksi tersebut memang lebih kecil dibandingkan pembelian-pembelian sebelumnya yang sering mencapai ratusan juta hingga miliaran dolar. Langkah yang lebih konservatif ini dinilai sebagai respons terhadap kondisi pasar modal yang sedang mengalami tekanan.
Selain harga Bitcoin yang masih fluktuatif, saham Strategy juga mengalami pelemahan. Saham MSTR sempat turun ke level terendah sejak Februari 2024. Sementara itu, saham preferen STRC yang diterbitkan perusahaan juga bergerak di bawah harga nominalnya. Kondisi tersebut menjadi perhatian investor karena kemampuan Strategy membeli Bitcoin selama ini banyak bergantung pada keberhasilan perusahaan memperoleh pendanaan dari pasar modal.
Sejumlah analis menilai ruang ekspansi Strategy memang mulai lebih terbatas dibandingkan beberapa tahun lalu. Head of Research Grayscale, Zach Pandl, mengatakan kemampuan perusahaan untuk terus mengakumulasi Bitcoin kini sangat dipengaruhi oleh kinerja saham MSTR maupun STRC. Apabila harga saham terus melemah, maka biaya pendanaan akan meningkat sehingga pembelian Bitcoin dalam jumlah besar menjadi lebih sulit dilakukan.
Pandl juga menilai kenaikan harga Bitcoin pada masa mendatang tidak bisa hanya mengandalkan Strategy sebagai pembeli utama. Menurutnya, dibutuhkan lebih banyak investor institusi, perusahaan publik, dana investasi, hingga ETF Bitcoin agar permintaan terhadap aset kripto terbesar di dunia itu kembali meningkat secara berkelanjutan.
Di sisi lain, pasar mulai melihat sinyal positif dari ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat. Setelah mencatat arus keluar selama hampir dua pekan, ETF Bitcoin kembali membukukan aliran dana masuk bersih. Kondisi tersebut menunjukkan minat investor institusional mulai pulih meskipun belum sepenuhnya mengubah sentimen pasar yang masih berhati-hati.
Analis juga menilai keputusan Strategy dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor. Apabila perusahaan benar-benar kembali membeli Bitcoin dalam jumlah besar, langkah tersebut berpotensi meningkatkan optimisme pasar. Sebaliknya, apabila akumulasi dilakukan dalam jumlah terbatas, pelaku pasar kemungkinan akan menilai perusahaan mulai lebih selektif dalam mengelola modalnya.
Meski begitu, investor tetap diingatkan untuk tidak mengambil keputusan investasi hanya berdasarkan spekulasi atau unggahan di media sosial. Pergerakan harga Bitcoin dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi ekonomi global, kebijakan suku bunga bank sentral, arus dana ETF, hingga perkembangan regulasi aset kripto di berbagai negara.
Dengan kapitalisasi pasar terbesar di industri kripto, setiap langkah Strategy dan Michael Saylor hampir selalu menjadi perhatian dunia. Tak heran jika satu unggahan sederhana kembali memicu berbagai spekulasi mengenai arah pergerakan Bitcoin dalam beberapa hari ke depan.
FAQ
1. Mengapa unggahan Michael Saylor menjadi perhatian investor?
Karena dalam beberapa kesempatan sebelumnya, unggahan serupa muncul sebelum Strategy mengumumkan pembelian Bitcoin baru.
2. Berapa jumlah Bitcoin yang dimiliki Strategy?
Perusahaan saat ini memiliki sekitar 847.363 BTC, menjadikannya pemegang Bitcoin korporasi terbesar di dunia.
3. Apakah Strategy sedang mengalami kerugian?
Secara nilai pasar, kepemilikan Bitcoin perusahaan masih berada di bawah harga rata-rata pembelian sehingga terdapat kerugian yang belum direalisasikan.
4. Apa dampaknya jika Strategy kembali membeli Bitcoin?
Aksi tersebut dapat meningkatkan sentimen positif pasar karena menunjukkan kepercayaan perusahaan terhadap prospek Bitcoin dalam jangka panjang.
5. Apakah investor sebaiknya langsung membeli Bitcoin?
Tidak selalu. Investor tetap perlu melakukan analisis sendiri dan mempertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Tim
Editor : Fanda Yosephta









