JAKARTA – Setiap pagi, Khoirul Anam berdiri di pintu masuk BRI Cabang Tanjung Priok, menyambut nasabah dengan senyum ramah.
Penampilannya tak berbeda dari satpam pada umumnya. Namun di balik tugas rutinnya itu, tersimpan perjalanan akademik yang jarang dimiliki banyak orang.
Pria 28 tahun ini telah meraih gelar magister manajemen, menyelesaikan dua program sarjana, menulis delapan buku ber-ISBN, serta mempublikasikan 13 karya ilmiah di jurnal nasional dan internasional.
Capaian tersebut membawanya menerima penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai satpam dengan karya ilmiah terbanyak.
Anam menuntaskan pendidikan S2 Manajemen di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma.
Sebelumnya, ia lulus S1 Manajemen di Universitas Pamulang melalui kelas karyawan, serta S1 Pendidikan Agama Islam di STIT Bustanul Ulum Lampung Tengah.
Waktu Tidur yang Dikalahkan Demi Pendidikan
Menjalani studi sambil bekerja bukan hal mudah. Ia kerap memangkas waktu istirahat demi menyelesaikan tugas kuliah dan penelitian.
“Yang paling berat itu mengatur waktu. Kadang harus mengorbankan jam tidur,” tuturnya.
Di sela tugas menjaga keamanan, Anam menulis. Delapan bukunya sudah terdaftar di Perpustakaan Nasional. Tiga naskah lain sedang disiapkan lewat program Dana Indonesiana.
Meski produktif, ia mengakui tantangan terbesarnya adalah biaya publikasi jurnal dan buku. Ia berharap suatu saat tulisannya bisa masuk jurnal bereputasi seperti Sinta atau Scopus.
Merantau dengan Rp 1 Juta dan Bangkit dari Koma
Anam datang ke Jakarta dari Tanggamus, Lampung, pada 2018 dengan bekal Rp 1 juta. Di tahun yang sama, ia sempat koma akibat sakit parah. Pengalaman itu menjadi titik balik hidupnya.
“Saya merasa diberi kesempatan hidup kedua. Sejak itu saya bertekad harus jadi lebih baik,” katanya.
Kini, ia tetap menjalankan profesinya sebagai satpam sambil mengejar impian menjadi pengajar.
“Cita-cita saya ingin jadi guru atau dosen. Apa pun profesinya, jangan berhenti belajar,” pesannya.









