SUNGAIPENUH — Suasana Dusun Empih, Desa Sumur Anyir, Kecamatan Sungai Bungkal, berubah lebih hidup pada akhir pekan ini. Menjelang pengukuhan Ninik Mamak baru Datuk Singarapi, anak jantan dan anak batino turun bersama menggelar gotong royong—sebuah tradisi lama yang kembali menggeliat setelah lama meredup.
Sejak pagi, halaman dan sudut kampung dipenuhi aktivitas. Anak batino mengiringi kerja bersama itu dengan Sike Layamule, ritme tradisional yang menyalakan semangat kolektif. Denting, hentakan, dan vokal khas yang mereka lantunkan seolah menjadi pengingat bahwa adat tidak hanya dipahami, tetapi juga dihidupi.
Gotong royong yang berlangsung jelang Lek Naghui Singapai, sebuah upacara adat untuk pengukuhan Ninik Mamak, bukan sekadar persiapan fisik. Ia menjadi momen untuk merawat kembali nilai kebersamaan yang perlahan terkikis zaman.
“Budaya gotong royong ini warisan nenek moyang. Kalau tidak dijaga, hilang. Hari ini kita hidupkan lagi,” ujar Depati Devanan Munir di akun facebooknya.
Pada 30 November mendatang, masyarakat adat Singapai akan mengukuhkan Devanan Munir sebagai Ninik Mamak Datuk Singarapi. Sosok Devanan bukan nama baru di kalangan publik Kerinci–Sungai Penuh. Ia dikenal luas sebagai jurnalis senior Jambi Independent serta General Manager Radar Sarko dan Radar Kerinci (Jawa Pos Group). Devanan juga dikenal dekat dengan mantan Wakil Presiden Yusuf Kalla dan keluarga. Kedekatan itu karena Devanan pernah menjadi tim media SBY – JK di Pilpres lalu.
Pengukuhan ini menjadi penanda bahwa tokoh yang lama berkecimpung dalam dunia media itu kini kembali ke akar adatnya, mengambil peran sebagai pemimpin kultural bagi anak jantan dan anak batino di dusunnya.
Gotong royong hari ini menjadi simbol: ketika adat dipanggil, anak negeri pulang. Dan Dusun Empih kembali menemukan denyut lamanya—irama kerja, irama kebersamaan, irama yang disambut dengan Sike Layamule yang tak pernah benar-benar padam.(fyo)
Penulis : Fanda Yosephta
Editor : Dedi Dora









