EKONOMI–Krisis ekonomi Iran terus memperlihatkan dampak serius terhadap nilai tukar rial. Mata uang Negeri Para Mullah itu kembali mencapai titik terendahnya pada awal 2026, mempertegas tekanan inflasi dan merosotnya kepercayaan publik terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Berdasarkan data Refinitiv, nilai tukar dolar AS yang pada akhir 2025 masih berada di kisaran 45.000 rial kini meroket hingga 1,04 juta rial per US$ pada Rabu (14/1/2026). Lonjakan ini mengindikasikan pelemahan rata-rata lebih dari 2.300% hanya dalam beberapa bulan.
Rial Melemah di Hadapan Rupiah
Rupiah Indonesia turut mencatat penguatan nominal yang signifikan terhadap rial. Pada akhir tahun lalu, Rp1 setara 45.215 rial, namun kini nilainya mencapai 59.663 rial per rupiah. Ini menunjukkan pelemahan rial sekitar 31,95% hanya terhadap rupiah saja.
Warga RI Bisa Kantongi Puluhan Miliar Rial
Dengan kurs terbaru, menukarkan Rp1 juta kini dapat menghasilkan 59,6 miliar rial. Jumlah ini hampir 15 miliar rial lebih tinggi dibanding periode akhir 2025.
Namun secara daya beli, nominal tersebut tidak sebanding dengan kondisi ekonomi di Iran. Harga kebutuhan pokok meroket dan inflasi membuat puluhan miliar rial tidak memiliki nilai konsumtif sebagaimana terlihat dalam hitungan angka.
Keuntungan Angka yang Tidak Mencerminkan Realitas
Walau rupiah tampak “super kuat” di atas kertas, situasi sosial dan keamanan di Iran saat ini membuat perjalanan wisata atau transaksi langsung di negara itu berisiko. Krisis ekonomi yang berkepanjangan juga berpengaruh langsung terhadap stabilitas ruang publik.
Dengan demikian, keuntungan nominal yang terlihat dari selisih kurs tidak memberikan dampak signifikan bagi wisatawan, terlebih ketika kondisi domestik Iran masih belum stabil.









