Indonesia Dihantam 16 Serangan Siber per Detik, 257 Juta Serangan Mengintai pada 2026

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 31 Agustus 2026 - 03:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Ancaman keamanan siber di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Sepanjang Semester I 2026, tercatat 257.976.333 serangan siber yang menyasar Indonesia.

Jika dirata-ratakan, jumlah tersebut setara dengan sekitar 16 serangan siber setiap detik.

Data tersebut berasal dari Laporan Ancaman Digital di Indonesia Semester I 2026 yang dirilis AwanPintar.id, platform intelijen ancaman siber nasional milik PT Prosperita Sistem Indonesia.

Yang lebih mengkhawatirkan, jumlah serangan tersebut melonjak 93,33% dibandingkan Semester I 2025 yang mencatat 133.439.209 serangan.

16 Serangan Siber Setiap Detik

Angka 16 serangan per detik menunjukkan betapa intensifnya aktivitas berbahaya di ruang digital Indonesia.

Serangan tidak hanya berupa aktivitas pemindaian otomatis. Pelaku juga melakukan eksploitasi kerentanan, mencoba mendapatkan akses ke sistem, mencuri kredensial hingga menyebarkan malware.

Percepatan transformasi digital menjadi salah satu faktor yang memperluas attack surface di Indonesia.

Semakin banyak layanan pemerintahan, perusahaan, transaksi online, cloud, dan aplikasi digital yang terhubung ke internet, semakin banyak pula titik yang berpotensi menjadi sasaran.

Penggunaan AI juga ikut memperluas kemampuan pelaku dalam melakukan serangan secara otomatis.

Hacker Mulai Memburu Hak Administrator

Salah satu temuan paling mencolok dalam laporan tersebut adalah meningkatnya serangan yang mencoba memperoleh hak administrator.

Kategori Attempted Administrator Privilege Gain melonjak dari 2,76% pada Semester I 2025 menjadi 43,65% pada Semester I 2026.

Perubahan ini menunjukkan bahwa pelaku tidak sekadar ingin mengetahui informasi mengenai sebuah sistem.

Mereka berusaha mendapatkan akses dengan hak istimewa sehingga dapat mengendalikan sistem lebih jauh.

Metodenya dapat melibatkan eksploitasi celah keamanan layanan yang terhubung internet, pencurian kredensial melalui phishing, credential stuffing, serta penggunaan bot otomatis.

Jika berhasil, akses administrator dapat menjadi pintu masuk menuju serangan yang lebih serius seperti pencurian data, ransomware, sabotase sistem hingga pengambilalihan infrastruktur.

Data Pribadi Ikut Menjadi Sasaran

Ancaman berikutnya adalah pencurian informasi.

Kategori Attempted Information Leak meningkat dari 4,66% menjadi 13,97%, atau naik 9,31% dibandingkan periode sebelumnya.

Data yang berpotensi menjadi sasaran antara lain informasi akun, data pelanggan, informasi pembayaran serta data sensitif lainnya.

Baca Juga :  Investor Asing Berbalik Jual, IHSG Ditutup Melemah Pekan Ini

Bagi masyarakat, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa keamanan akun digital tidak boleh dianggap sepele.

Kata sandi yang lemah, penggunaan password yang sama pada banyak layanan dan mengklik tautan phishing dapat meningkatkan risiko pengambilalihan akun.

Tiongkok dan Amerika Serikat Jadi Sumber Serangan Terbesar

Laporan AwanPintar.id juga mencatat perubahan asal serangan.

Kontribusi serangan yang berasal dari Tiongkok meningkat dari 12,87% menjadi 21,94%.

Sementara itu, kontribusi dari Amerika Serikat naik dari 9,07% menjadi 10,83%.

Namun, asal trafik serangan tidak selalu berarti pelaku sebenarnya berada secara fisik di negara tersebut. Infrastruktur digital, server perantara, botnet dan layanan yang dikompromikan dapat digunakan untuk menyamarkan sumber aktivitas.

Ancaman DDoS Juga Meningkat

Ancaman lain yang perlu diperhatikan adalah serangan Distributed Denial of Service (DDoS).

Data StormWall yang dikutip ANTARA menunjukkan serangan DDoS terhadap berbagai organisasi di Indonesia pada kuartal pertama 2026 meningkat 62% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sekitar 70% serangan tersebut bermotif finansial dan 41% di antaranya disertai tuntutan tebusan.

Artinya, serangan siber tidak hanya berpotensi menyebabkan gangguan layanan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari skema pemerasan terhadap perusahaan.

AI Bisa Menjadi Senjata Baru Hacker

Perkembangan AI membuat ancaman siber semakin kompleks.

Kementerian Komunikasi dan Digital juga telah memperingatkan munculnya ancaman agentic AI, yakni sistem AI yang dapat menjalankan aktivitas secara lebih otomatis.

Pemerintah juga menyoroti konsep “harvest now, decrypt later”, ketika data terenkripsi dicuri dan disimpan untuk kemungkinan dibuka menggunakan kemampuan komputasi masa depan.

Karena itu, keamanan digital tidak cukup hanya mengandalkan perlindungan tradisional.

Organisasi perlu memperkuat deteksi dini, pengelolaan kerentanan, autentikasi, pencadangan data serta kemampuan merespons insiden.

Cara Melindungi Data Pribadi dari Serangan Siber

Masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah sederhana untuk mengurangi risiko.

Pertama, gunakan password yang berbeda untuk setiap layanan penting.

Kedua, aktifkan autentikasi multifaktor atau MFA apabila tersedia.

Ketiga, jangan sembarangan membuka tautan dari email, SMS, WhatsApp atau media sosial yang mencurigakan.

Baca Juga :  KPPU Denda 97 Pinjol Rp755 Miliar, BPKN: Konsumen Harus Dilindungi

Keempat, rutin memperbarui sistem operasi dan aplikasi.

Kelima, lakukan pencadangan data penting secara berkala.

Keenam, jangan memasukkan data sensitif ke situs atau aplikasi yang tidak jelas keamanannya.

Untuk perusahaan, perlindungan harus mencakup endpoint, jaringan, cloud, identitas pengguna, data dan sistem pencadangan.

Indonesia Menghadapi Era Keamanan Digital yang Lebih Kompleks

Lonjakan menjadi 257,9 juta serangan dalam enam bulan memperlihatkan bahwa keamanan siber telah berubah menjadi persoalan bisnis dan nasional, bukan sekadar masalah teknis divisi IT.

Perusahaan yang mengalami kebocoran data dapat menghadapi gangguan operasional, kerugian finansial, kehilangan kepercayaan pelanggan dan konsekuensi kepatuhan.

Di sisi regulasi, implementasi UU Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) dan pembahasan RUU Keamanan dan Ketahanan Siber semakin mendorong organisasi untuk meningkatkan tata kelola keamanan digital.

FAQ

Berapa serangan siber yang terjadi di Indonesia pada Semester I 2026?

Tercatat 257.976.333 serangan siber sepanjang Januari hingga Juni 2026.

Benarkah ada 16 serangan siber per detik?

Ya. Jika jumlah serangan tersebut dirata-ratakan selama periode enam bulan, angkanya setara sekitar 16 serangan per detik.

Berapa kenaikan serangan siber dibanding tahun 2025?

Jumlah serangan meningkat 93,33% dibanding Semester I 2025.

Apa yang paling banyak diburu hacker?

Salah satu perubahan terbesar adalah meningkatnya upaya memperoleh hak administrator, sementara upaya kebocoran informasi juga meningkat.

Apakah data pribadi masyarakat aman?

Tidak ada sistem yang sepenuhnya bebas risiko. Karena itu, pengguna perlu menggunakan password kuat, MFA, memperbarui perangkat dan waspada terhadap phishing.

Kesimpulan

Indonesia menghadapi 257,9 juta serangan siber sepanjang Semester I 2026, atau rata-rata sekitar 16 serangan setiap detik. Jumlah tersebut melonjak 93,33% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Yang menjadi perhatian bukan hanya jumlah serangan, tetapi perubahan pola serangan. Pelaku semakin berusaha mendapatkan hak administrator dan mencuri informasi bernilai tinggi.

Di tengah semakin luasnya penggunaan cloud, AI dan layanan digital, keamanan siber menjadi kebutuhan penting bagi pemerintah, perusahaan maupun masyarakat. (Tim)

Editor : Fanda Yosephta

Berita Terkait

Pemilik Bisnis Kini Dibidik Bank, Bisa Kelola Keuangan Usaha dan Pribadi Sekaligus
Harga Kripto Hari Ini 30 Agustus 2026: Bitcoin Turun, Uniswap Melonjak 3,72%
Harga BBM Jambi, Sumbar dan Riau Hari Ini 30 Agustus 2026: Pertamax Turun, Cek Pertalite hingga Dexlite
Harga Buyback Emas Pegadaian Hari Ini Sabtu 29 Agustus 2026: Antam, UBS dan Galeri 24
Harga BBM Pertamina Jambi, Sumbar, dan Riau Hari Ini 29 Agustus 2026: Pertamax hingga Pertamina Dex
Kurs SGD ke Rupiah Hari Ini 28 Agustus 2026: Dolar Singapura Rp13.932,5, Turun 0,21%
Best Payroll Software for Small Business: Pricing Compared
Kurs Ringgit ke Rupiah Hari Ini 28 Agustus 2026 Naik 2,62%, MYR/IDR Tembus Rp4.400
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 31 Agustus 2026 - 04:00 WIB

Pemilik Bisnis Kini Dibidik Bank, Bisa Kelola Keuangan Usaha dan Pribadi Sekaligus

Senin, 31 Agustus 2026 - 03:01 WIB

Indonesia Dihantam 16 Serangan Siber per Detik, 257 Juta Serangan Mengintai pada 2026

Minggu, 30 Agustus 2026 - 11:19 WIB

Harga Kripto Hari Ini 30 Agustus 2026: Bitcoin Turun, Uniswap Melonjak 3,72%

Minggu, 30 Agustus 2026 - 07:49 WIB

Harga BBM Jambi, Sumbar dan Riau Hari Ini 30 Agustus 2026: Pertamax Turun, Cek Pertalite hingga Dexlite

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 09:41 WIB

Harga Buyback Emas Pegadaian Hari Ini Sabtu 29 Agustus 2026: Antam, UBS dan Galeri 24

Berita Terbaru