Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tampil perkasa pada perdagangan Rabu, 8 April 2026. Setelah sempat melemah di hari sebelumnya, IHSG langsung tancap gas dan melonjak signifikan hingga menembus level psikologis 7.200, memberikan sinyal kuat kebangkitan pasar saham Indonesia.
Berdasarkan data perdagangan, IHSG ditutup menguat 3,39% ke level 7.207,15. Kenaikan tajam ini juga diikuti oleh indeks unggulan LQ45 yang melesat 3,63% ke posisi 727,12. Lonjakan ini menunjukkan sentimen positif yang merata di hampir seluruh saham berkapitalisasi besar.
Seluruh sektor saham kompak berada di zona hijau. Sektor bahan baku menjadi motor utama penguatan dengan kenaikan paling tinggi, disusul sektor industri, consumer cyclicals, dan infrastruktur. Aksi beli investor terlihat masif, menandakan kepercayaan pasar yang mulai pulih.
Dari sisi transaksi, aktivitas perdagangan terbilang sangat ramai. Frekuensi transaksi tercatat lebih dari 1,4 juta kali dengan volume mencapai 26,9 miliar saham. Nilai transaksi pun menembus Rp13 triliun, memperlihatkan derasnya aliran dana masuk ke pasar saham domestik.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengungkapkan bahwa penguatan IHSG dipicu oleh sentimen global yang membaik. Salah satu faktor utama adalah meredanya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang meningkatkan optimisme pelaku pasar global.
Selain itu, penurunan harga minyak dunia turut memberikan angin segar. Kondisi ini dinilai mampu menekan potensi inflasi global dan membuka ruang bagi kebijakan suku bunga yang lebih longgar. Dampaknya, investor mulai kembali masuk ke aset berisiko seperti saham, termasuk di Indonesia.
Tak hanya di dalam negeri, bursa saham kawasan Asia Pasifik juga kompak menguat. Pasar saham di Jepang, Korea Selatan, hingga China mencatatkan reli signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa sentimen global sedang berada dalam fase “risk-on”, di mana investor lebih berani mengambil risiko untuk mengejar imbal hasil.
Meski tren positif masih terbuka lebar, pelaku pasar tetap mencermati sejumlah risiko. Faktor domestik seperti inflasi dan kondisi fiskal masih menjadi perhatian. Selain itu, evaluasi dari FTSE Russell terhadap status pasar Indonesia juga menjadi sentimen penting yang dapat memengaruhi arah IHSG ke depan.
Dengan kombinasi sentimen global yang kondusif dan dukungan teknikal yang kuat, IHSG berpotensi melanjutkan penguatan dalam jangka pendek. Namun, investor disarankan tetap selektif dalam memilih saham dan waspada terhadap volatilitas pasar yang bisa terjadi sewaktu-waktu. (Tim)









