Halo Stunting: Bagaimana Gerakan Pasca Kenaikan di Jambi

Oleh: Prof. Dr. Mukhtar Latif, M.Pd. (Guru Besar UIN STS Jambi)

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 15 November 2025 - 10:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Stunting di Provinsi Jambi

Stunting merupakan salah satu persoalan pembangunan manusia yang paling krusial di Indonesia, termasuk Provinsi Jambi. Permasalahan ini bukan sekadar isu gizi, tetapi terkait langsung dengan kualitas generasi, produktivitas ekonomi, dan daya saing bangsa. Data terbaru menunjukkan bahwa prevalensi stunting Provinsi Jambi meningkat signifikan pada tahun 2024, dari 13,5% (2023) menjadi 17,1% (2024). Kenaikan ini menjadi perhatian serius karena menunjukkan perlunya evaluasi mendalam terhadap efektivitas intervensi lintas sektor serta kesiapan infrastruktur kesehatan di daerah.

Stunting berdampak luas terhadap pembangunan. Anak stunting berisiko mengalami hambatan perkembangan kognitif, kecerdasan, gangguan kesehatan kronis, rendahnya kesiapan belajar, hingga rendahnya produktivitas saat dewasa. Bagi daerah seperti Jambi yang sedang memperkuat fondasi pendidikan, ekonomi kreatif, dan SDM unggul, peningkatan angka stunting tentu menjadi alarm bagi pembuat kebijakan dan seluruh pemangku kepentingan.

Kenaikan prevalensi yang cukup besar di Jambi memunculkan pertanyaan: apakah pendekatan penanganan selama ini sudah menyentuh akar persoalan? Apakah intervensi gizi, pendidikan keluarga, dan upaya pengentasan kemiskinan sudah dilaksanakan secara merata dan berkelanjutan? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang penting dikaji dalam tulisan ini.

Pemahaman Stunting Masyarakat vs Pendidikan dan Kemiskinan

Salah satu tantangan besar dalam penanganan stunting adalah gap pemahaman antara definisi ilmiah stunting dan cara pandang masyarakat. Banyak keluarga masih menganggap stunting hanya sebagai “anak pendek”, padahal secara medis jauh lebih kompleks. Stunting berkaitan dengan failure to thrive sejak masa 1000 hari pertama kehidupan, mencakup kekurangan gizi, pola asuh, kebersihan lingkungan, dan akses kesehatan.

Hubungannya dengan pendidikan sangat jelas: keluarga dengan tingkat pendidikan rendah cenderung kurang memahami kebutuhan gizi seimbang, sanitasi yang benar, serta deteksi dini gangguan tumbuh kembang. Minimnya literasi kesehatan mempengaruhi pengambilan keputusan, terutama pada ibu hamil dan balita.

Baca Juga :  Pemerintah Batasi Medsos Anak, IDAI: Langkah Tepat Tekan Depresi & Cyberbullying

Kemiskinan menjadi faktor lain yang sangat dominan. Keterbatasan ekonomi menyebabkan kualitas pangan rendah, akses layanan kesehatan terbatas, serta pola hidup kurang sehat. Penelitian modern membuktikan bahwa stunting adalah manifestasi multidimensional, bukan sekadar “kekurangan makan”. Kondisi tempat tinggal, sanitasi lingkungan, hingga kemampuan keluarga mengakses layanan dasar memegang peranan penting.

Dengan demikian, stunting di Jambi bukan hanya persoalan medis, tetapi juga sosial, ekonomi, dan budaya. Hal ini menjelaskan mengapa meskipun berbagai program sudah berjalan, prevalensi masih bisa meningkat.

Konsep Stunting dalam Teori Modern

Kajian modern memahami stunting sebagai fenomena multifaktor yang memerlukan pendekatan lintas ilmu. Beberapa teori penting yang digunakan dalam analisis stunting adalah:

1. The Lifecourse Health Development Theory
Teori ini menekankan bahwa kesehatan seseorang dibentuk sejak masa konsepsi. Kekurangan nutrisi saat kehamilan akan berdampak permanen terhadap perkembangan anak.

2. Human Capital Theory (Becker, 1993)
Kualitas kesehatan anak menentukan produktivitas ekonomi dewasa. Stunting menurunkan kualitas SDM, sehingga berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi daerah.

3. UNICEF Nutrition Framework
Menjelaskan bahwa penyebab stunting terdiri dari immediate causes (gizi dan infeksi), underlying causes (pola asuh, sanitasi, dan pangan), dan basic causes (sosial, ekonomi, budaya, dan kebijakan).

4. Ecological System Theory (Bronfenbrenner)
Perkembangan anak dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, masyarakat, kebijakan, dan sistem kesehatan. Artinya, intervensi harus terintegrasi, bukan parsial.

Konsep-konsep tersebut menunjukkan bahwa pendekatan medis saja tidak cukup. Stunting menuntut kolaborasi pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat secara simultan dan berkelanjutan.

Baca Juga :  Dumisake Pendidikan Hadir di Kerinci, Ratusan Siswa Dapat Bantuan Lengkap

Kasus Penurunan Stunting di Negara Maju: Strategi dan Aksi

Negara-negara maju telah berhasil menurunkan prevalensi stunting melalui strategi holistik yang dapat menjadi inspirasi bagi daerah seperti Jambi.

1. Jepang
Jepang berhasil menekan stunting hingga di bawah 5% melalui intervensi 1000 HPK, pemeriksaan berkala anak, pendidikan gizi sekolah, dan kontrol ketat kualitas pangan.

2. Korea Selatan
Korea mengombinasikan sistem jaminan kesehatan universal, edukasi gizi, dan peningkatan pendapatan masyarakat. Pemerintah melibatkan sekolah dan komunitas lokal sebagai pusat edukasi gizi.

3. Selandia Baru
Penurunan stunting dilakukan dengan mengintegrasikan layanan kesehatan, pendidikan orang tua, dan sistem data terpadu yang memantau perkembangan anak dari lahir hingga remaja.

Dari berbagai negara tersebut, ada pola yang sama:

Intervensi 1000 HPK dijalankan secara disiplin.

1. Edukasi gizi dilakukan massif sejak sekolah dasar.

2. Data tumbuh kembang terintegrasi dan dipantau berkala.

3. Kebijakan kemiskinan dan layanan kesehatan berjalan bersamaan.

4. Model tersebut bisa menjadi acuan untuk menguatkan strategi Jambi dalam menurunkan kembali prevalensi stunting.

Penutup
Kenaikan stunting di Provinsi Jambi tahun 2024 merupakan lonceng peringatan bagi seluruh elemen pemerintah dan masyarakat. Stunting bukan hanya persoalan gizi anak, tetapi persoalan besar pembangunan manusia yang menentukan masa depan daerah. Pendekatan yang dilakukan harus bersifat menyeluruh: peningkatan literasi gizi, pemberdayaan keluarga miskin, penguatan sanitasi, serta layanan kesehatan yang mudah diakses.

Belajar dari negara-negara maju, Jambi perlu memperkuat kolaborasi lintas sektor dan memastikan setiap intervensi berbasis data dan berkelanjutan. Dengan upaya kolektif, prevalensi stunting yang sempat meningkat dapat kembali ditekan, sehingga generasi Jambi tumbuh lebih sehat, cerdas, dan produktif.(***)

Penulis : Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd

Editor : Dedi Dora

Berita Terkait

Iuran BPJS Kesehatan 2027 Tak Naik? Ini Penjelasan Menkes dan Menkeu
Pemprov Jambi Kaji Libur Sekolah Jika Kabut Asap Makin Pekat, Ini Data Terbarunya
Kota Sungai Penuh Bangun Gedung KJSU-KIA Senilai Rp14,2 Miliar di RSUD Mayjen H.A. Thalib, Layanan Jantung hingga NICU Makin Lengkap
Sri Kartini Alfin Jadi Ujung Tombak Pemberantasan Stunting di Kota Sungai Penuh
Kelas 1, 2, 3 Resmi Dihapus, Ini Besaran Iuran BPJS Kesehatan Selama Masa Transisi
Daftar Lengkap Batas Kolesterol Normal, Cara Menjaga, hingga Rekomendasi Penanganannya
8 Makanan Pencegah Stroke yang Direkomendasikan Dokter, Bantu Turunkan Kolesterol dan Tekanan Darah
Siloam Siapkan Investasi Rp1 Triliun untuk Bedah Robotik, Target Kurangi Pasien Berobat ke Luar Negeri
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 13:00 WIB

Iuran BPJS Kesehatan 2027 Tak Naik? Ini Penjelasan Menkes dan Menkeu

Jumat, 14 Agustus 2026 - 00:03 WIB

Pemprov Jambi Kaji Libur Sekolah Jika Kabut Asap Makin Pekat, Ini Data Terbarunya

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:02 WIB

Kota Sungai Penuh Bangun Gedung KJSU-KIA Senilai Rp14,2 Miliar di RSUD Mayjen H.A. Thalib, Layanan Jantung hingga NICU Makin Lengkap

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:27 WIB

Sri Kartini Alfin Jadi Ujung Tombak Pemberantasan Stunting di Kota Sungai Penuh

Minggu, 26 Juli 2026 - 10:06 WIB

Kelas 1, 2, 3 Resmi Dihapus, Ini Besaran Iuran BPJS Kesehatan Selama Masa Transisi

Berita Terbaru