Jakarta – Persaingan kecerdasan buatan (AI) global semakin panas. Google dikabarkan meneken kontrak jumbo senilai US$30 miliar atau sekitar Rp490 triliun dengan SpaceX untuk menyewa kapasitas pusat data berteknologi tinggi hingga pertengahan 2029.
Dalam kesepakatan tersebut, Google disebut akan membayar sekitar US$920 juta atau setara Rp16 triliun setiap bulan. Nilai fantastis itu langsung menjadi sorotan karena masuk dalam jajaran kontrak infrastruktur AI terbesar yang pernah terjadi di industri teknologi dunia.
Langkah agresif ini dilakukan untuk mendukung pertumbuhan layanan AI milik Google, terutama platform Gemini Enterprise yang mengalami lonjakan permintaan dari sektor bisnis. Kebutuhan komputasi AI yang terus meningkat membuat perusahaan teknologi berlomba mengamankan pasokan chip dan kapasitas data center.
Berdasarkan informasi yang beredar, Google akan memanfaatkan sekitar 110 ribu GPU Nvidia yang ditempatkan di pusat data milik SpaceX. Infrastruktur tersebut digunakan untuk melatih model AI generatif, menjalankan agen AI, hingga mendukung layanan cloud berskala global.
Kesepakatan ini juga menandai perubahan besar hubungan kedua perusahaan. Beberapa tahun lalu Google membantu menyediakan layanan komputasi cloud untuk mendukung jaringan internet satelit Starlink. Kini justru Google yang menjadi pelanggan utama fasilitas komputasi milik SpaceX.
Di balik kerja sama tersebut, ada faktor penting lainnya. SpaceX baru saja mengintegrasikan operasi perusahaan AI xAI ke dalam ekosistem bisnisnya. Langkah itu membuat perusahaan milik Elon Musk memiliki salah satu pusat data AI terbesar di Amerika Serikat dengan kapasitas komputasi yang sangat besar.
Para analis menilai kontrak jangka panjang dari Google berpotensi meningkatkan valuasi SpaceX menjelang rencana penawaran saham perdana atau IPO. Investor biasanya melihat kontrak bernilai besar sebagai indikator kuat terhadap prospek pendapatan perusahaan dalam beberapa tahun ke depan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa era AI tidak lagi hanya soal perangkat lunak dan chatbot. Persaingan kini bergeser ke infrastruktur digital seperti pusat data, chip AI, cloud computing, hingga energi listrik. Perusahaan yang mampu menguasai infrastruktur tersebut diperkirakan akan menjadi pemenang utama dalam ekonomi digital global beberapa tahun mendatang. (Tim)









