Jakarta – Pemerintah memastikan stok bahan bakar minyak (BBM) nasional berada dalam kondisi aman menjelang Ramadan dan Lebaran 2026. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut cadangan BBM saat ini berada di atas 21 hari kebutuhan operasional sehingga masyarakat diminta tidak melakukan pembelian secara berlebihan atau panic buying.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwpi Anggia, menyampaikan bahwa pemerintah terus memantau kondisi energi nasional di tengah gejolak harga minyak dunia yang mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, stabilitas pasokan energi menjadi prioritas utama agar aktivitas masyarakat selama Ramadan tetap berjalan lancar.
Harga minyak mentah global saat ini tercatat menyentuh sekitar US$111 per barel, yang merupakan level tertinggi sejak Juli 2022. Kenaikan harga tersebut dipengaruhi berbagai faktor geopolitik dan dinamika pasar energi global yang membuat banyak negara harus menyesuaikan kebijakan energi mereka.
Angka tersebut jauh melampaui asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang dipatok sekitar US$70 per barel. Artinya, terdapat selisih harga yang cukup besar antara asumsi pemerintah dan kondisi pasar global saat ini.
Meski demikian, pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi menjelang Ramadan dan Lebaran tahun ini. Kebijakan tersebut diambil berdasarkan arahan langsung Presiden guna menjaga daya beli masyarakat serta memastikan stabilitas ekonomi nasional selama periode konsumsi tinggi.
Menurut Dwi Anggia, pemerintah memilih menanggung selisih harga tersebut melalui mekanisme anggaran negara dibandingkan membebankannya langsung kepada masyarakat. Langkah ini diambil sebagai bentuk perlindungan sosial agar masyarakat tidak terbebani dengan kenaikan harga energi di tengah meningkatnya kebutuhan selama Ramadan.
Selain memastikan stabilitas harga, pemerintah juga menjamin ketersediaan pasokan energi nasional tetap aman. Saat ini, cadangan BBM dan LPG nasional berada di atas 21 hari cadangan operasional, yang merupakan standar aman dalam sistem distribusi energi nasional.
Pasokan energi tersebut dipenuhi melalui kombinasi produksi dalam negeri serta impor dari berbagai negara. Sistem distribusi juga terus dipantau agar tidak terjadi gangguan, terutama di daerah dengan konsumsi energi tinggi selama masa mudik Lebaran.
Dwi Anggia menggambarkan sistem pasokan energi nasional seperti toren air di rumah yang terus digunakan setiap hari tetapi juga terus diisi kembali. Dengan sistem tersebut, persediaan energi tetap tersedia selama proses distribusi berjalan normal.
Namun pemerintah mengingatkan bahwa masalah distribusi justru dapat terjadi apabila masyarakat melakukan pembelian secara berlebihan dalam waktu bersamaan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan antrean di SPBU atau kesan kelangkaan yang sebenarnya tidak terjadi secara nasional.
Oleh karena itu, masyarakat diminta tetap tenang dan membeli BBM sesuai kebutuhan. Pemerintah menegaskan bahwa stok energi nasional berada di atas standar minimum sehingga tidak ada alasan untuk melakukan pembelian dalam jumlah besar secara tiba-tiba.
Selain itu, pemerintah juga terus melakukan pemantauan terhadap dinamika pasar energi global. Kenaikan harga minyak dunia dapat berdampak pada berbagai sektor ekonomi sehingga diperlukan langkah mitigasi agar stabilitas nasional tetap terjaga.
Menjelang Ramadan dan Lebaran, pemerintah memastikan seluruh pemangku kepentingan di sektor energi terus berkoordinasi untuk menjaga kelancaran distribusi BBM dan LPG. Hal ini penting mengingat kebutuhan energi biasanya meningkat selama musim mudik dan aktivitas masyarakat yang lebih tinggi.
Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap masyarakat dapat menjalani Ramadan dan merayakan Idulfitri dengan lebih tenang tanpa kekhawatiran terhadap ketersediaan energi. (Tim)









