Jakarta – Rebalancing indeks global yang dilakukan MSCI dan FTSE Russell kembali mengguncang pasar modal Indonesia. Sejumlah saham besar dikeluarkan dari indeks internasional tersebut sehingga memicu aksi jual investor asing dan menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Kondisi ini membuat kapitalisasi pasar sejumlah emiten ikut tergerus. Meski begitu, saham-saham perbankan jumbo masih mendominasi daftar emiten dengan market cap terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
MSCI sebelumnya mengumumkan penghapusan 18 saham Indonesia dari indeks mereka pada Mei 2026. Perubahan tersebut efektif berlaku mulai awal Juni 2026. Beberapa saham yang terkena dampak antara lain AMMN, BREN, hingga TPIA.
Tidak hanya MSCI, FTSE Russell juga menghapus beberapa saham Indonesia dalam evaluasi kuartalan periode Juni 2026. Langkah tersebut membuat tekanan jual dari dana asing semakin besar karena banyak passive fund global harus menyesuaikan portofolio mereka.
Sepanjang tahun berjalan, investor asing tercatat melakukan net sell mencapai sekitar Rp45 triliun. Dalam periode yang sama, IHSG juga mengalami koreksi tajam hingga berada di level 6.100-an.
Di tengah tekanan tersebut, saham perbankan masih menjadi penopang utama kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan data perdagangan terbaru, BBCA masih menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar mencapai sekitar Rp729 triliun.
Posisi kedua ditempati BBRI dengan market cap sekitar Rp461 triliun. Selanjutnya ada DCII yang mencatat kapitalisasi pasar sekitar Rp460 triliun.
Sementara itu, BMRI berada di posisi keempat dengan market cap sekitar Rp382 triliun. Disusul BREN yang memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp353 triliun.
Berikut daftar lengkap 10 saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI usai rebalancing MSCI dan FTSE:
- BBCA – Rp729 triliun
- BBRI – Rp461 triliun
- DCII – Rp460 triliun
- BMRI – Rp382 triliun
- BREN – Rp353 triliun
- BYAN – Rp331 triliun
- MORA – Rp320 triliun
- TLKM – Rp306 triliun
- AMMN – Rp226 triliun
- ASII – Rp207 triliun
Analis menilai keluarnya sejumlah saham dari indeks global justru berpotensi memicu rotasi dana asing ke saham dengan fundamental kuat dan likuiditas besar. Saham bank jumbo seperti BBCA, BMRI, dan BBRI diperkirakan masih menjadi incaran investor institusi global.
Di sisi lain, tekanan pasar diprediksi masih akan berlangsung hingga tanggal efektif rebalancing selesai. Investor pun diminta tetap waspada terhadap volatilitas pasar dan memperhatikan sentimen global yang memengaruhi arus modal asing di Indonesia.
FAQ
Apa itu rebalancing MSCI dan FTSE?
Rebalancing adalah penyesuaian komposisi saham dalam indeks global yang dilakukan secara berkala oleh MSCI dan FTSE Russell.
Kenapa saham bisa turun setelah keluar dari indeks?
Karena banyak dana investasi global otomatis menjual saham yang sudah tidak masuk indeks.
Saham apa dengan market cap terbesar di Indonesia?
Saat ini BBCA masih menjadi saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia.
Mengapa saham bank masih diminati?
Karena memiliki fundamental kuat, likuiditas tinggi, dan dianggap lebih stabil di tengah gejolak pasar.
Apakah IHSG masih berpotensi volatile?
Ya, pasar masih dipengaruhi sentimen global dan arus dana asing pasca rebalancing indeks. Tim









