Bursa Asia Tertekan Pasca Libur Panjang, IHSG Terancam Melemah

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 24 Maret 2026 - 06:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

EKONOMI – Pergerakan pasar saham di kawasan Asia menunjukkan tren negatif setelah periode libur panjang Nyepi dan Idulfitri 2026. Tekanan ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat konflik geopolitik yang memanas.

Pengamat ekonomi menilai, pelemahan tersebut berpotensi berdampak pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ketika kembali dibuka. Menurut Gunawan Benjamin, tekanan eksternal yang terjadi saat ini membuat pasar keuangan regional bergerak serempak di zona merah.

“Jika melihat kinerja bursa Asia pada awal pekan ini, maka IHSG memiliki peluang untuk ikut melemah saat perdagangan dibuka kembali,” ujarnya, Senin (23/3/2026).

Tekanan Global Jadi Faktor Utama

Kondisi pasar yang melemah tidak terlepas dari meningkatnya eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Ketegangan tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi global.

Baca Juga :  IHSG Melonjak Pagi Ini Jumat 10 April 2026, Saham BBNI hingga BRPT Jadi Motor Penguatan

Selain itu, sejumlah indikator ekonomi turut memberikan tekanan tambahan. Kenaikan inflasi di Amerika Serikat serta menguatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi faktor yang mendorong arus modal keluar dari pasar berkembang.

Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun dilaporkan naik hingga sekitar 4,4 persen. Di saat yang sama, indeks dolar AS juga menunjukkan penguatan signifikan, bahkan sempat menembus level psikologis 100.

Harga Energi Melonjak, Pasar Semakin Tertekan

Lonjakan harga energi global turut memperburuk sentimen pasar. Harga minyak mentah dunia masih bertahan di level tinggi seiring konflik yang belum mereda di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga :  IHSG Pekan Ini Dibayangi The Fed dan BoJ, Investor Waspadai Sinyal Hawkish

Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global, yang pada akhirnya membuat investor cenderung bersikap lebih hati-hati dan mengurangi eksposur pada aset berisiko seperti saham.

IHSG dan Rupiah Berisiko Tertekan

Gunawan menambahkan, tekanan tidak hanya berpotensi terjadi pada IHSG, tetapi juga terhadap nilai tukar rupiah. Kedua instrumen ini dinilai rentan terhadap perubahan sentimen global, terutama ketika terjadi penguatan dolar AS.

“IHSG tidak bergerak sendiri. Rupiah juga berpeluang melemah karena tekanan eksternal yang cukup besar,” jelasnya.

Meski demikian, pelaku pasar diharapkan tetap mencermati perkembangan global dan data ekonomi terbaru sebelum mengambil keputusan investasi.

Berita Terkait

Komdigi Atur Tarif Ojol Antar Makanan dan Barang, Ini Perinciannya
BPOM Terbitkan Aturan Baru Kemasan Pangan 2026, Ini Perubahan Pentingnya
Joki Baca Buku Makin Ramai, Tarifnya Tembus Rp 700.000 per Buku
Rupiah Menguat ke Rp17.900 per Dolar AS, Ini 3 Faktor Pendorongnya
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum untuk Ketahanan Energi
Harga BBM Jambi, Sumbar, Sumut 13 Oktober 2026: Cek Pertamax dan Solar Terbaru
Bunga Deposito Bank Digital Tembus 9%, Apakah Uang Nasabah Dijamin LPS?
Daftar Perusahaan Asuransi Terbaik 2026, Prudential hingga BRI Life Raih Penghargaan BIFA
Berita ini 35 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 22:05 WIB

Komdigi Atur Tarif Ojol Antar Makanan dan Barang, Ini Perinciannya

Selasa, 13 Oktober 2026 - 20:00 WIB

Joki Baca Buku Makin Ramai, Tarifnya Tembus Rp 700.000 per Buku

Selasa, 13 Oktober 2026 - 17:51 WIB

Rupiah Menguat ke Rp17.900 per Dolar AS, Ini 3 Faktor Pendorongnya

Selasa, 13 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum untuk Ketahanan Energi

Selasa, 13 Oktober 2026 - 07:10 WIB

Harga BBM Jambi, Sumbar, Sumut 13 Oktober 2026: Cek Pertamax dan Solar Terbaru

Berita Terbaru