JAKARTA – Harga minyak dunia kembali melonjak tajam pada perdagangan Kamis (19/3/2026), dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Lonjakan ini terjadi setelah serangan terhadap fasilitas energi Iran yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Minyak mentah jenis Brent tercatat naik hingga menyentuh level US$112 per barel atau meningkat sekitar 4 persen lebih. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga ikut menguat mendekati US$99 per barel, menandakan tekanan besar pada pasar energi global.
Kenaikan harga minyak ini dipicu oleh kekhawatiran terganggunya pasokan energi dunia. Serangan terhadap ladang gas South Pars di Iran menjadi faktor utama karena fasilitas tersebut merupakan salah satu sumber energi terbesar di dunia.
South Pars diketahui menyuplai sekitar 70 persen kebutuhan gas domestik Iran. Gangguan pada fasilitas strategis ini langsung memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.
Tak hanya itu, konflik juga berdampak pada jalur distribusi energi penting dunia, yakni Selat Hormuz. Jalur ini menjadi lintasan utama bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair global.
Akibat eskalasi konflik, produksi minyak di kawasan Timur Tengah diperkirakan turun antara 7 hingga 10 juta barel per hari. Angka ini setara dengan sekitar 7 hingga 10 persen dari total kebutuhan minyak global.
Situasi semakin memanas setelah Iran dikabarkan melakukan serangan balasan terhadap sejumlah infrastruktur energi di kawasan Teluk. Kondisi ini meningkatkan risiko meluasnya konflik ke negara-negara penghasil minyak lainnya.
Jika ketegangan terus berlanjut, harga minyak dunia berpotensi naik lebih tinggi. Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor energi, tetapi juga bisa memicu inflasi global dan tekanan ekonomi di berbagai negara. (*/Tim)









