Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Konflik Selat Hormuz, Ancaman Inflasi Global Kian Nyata

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 5 Mei 2026 - 08:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

Jakarta-Lonjakan harga minyak dunia kembali menjadi perhatian pasar global setelah konflik geopolitik di kawasan Selat Hormuz memanas. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran tidak hanya berdampak pada stabilitas keamanan, tetapi juga mengguncang pasar energi global yang sensitif terhadap gangguan pasokan.

Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat menembus kisaran US$105 per barel, sementara Brent Crude melampaui US$114 per barel. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya risiko distribusi minyak di jalur utama perdagangan energi dunia yang setiap harinya dilalui jutaan barel minyak.

Konflik yang melibatkan kekuatan militer di kawasan Teluk memperburuk situasi. United States Central Command dilaporkan melakukan tindakan balasan atas serangan yang terjadi saat pengawalan kapal tanker. Selain itu, fasilitas energi di Fujairah, Uni Emirat Arab, juga menjadi sasaran, memperbesar kekhawatiran akan terganggunya rantai pasokan global.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Gangguan sekecil apa pun di wilayah ini dapat langsung memicu lonjakan harga energi. Kondisi ini membuat investor dan pelaku pasar mengambil posisi hati-hati, sementara spekulasi harga minyak terus meningkat.

Baca Juga :  Harga BBM Naik Imbas Perang, Mobil Listrik Laris Manis di Asia

Dampak dari kenaikan harga minyak tidak hanya dirasakan di pasar energi, tetapi juga menjalar ke sektor ekonomi lainnya. Negara-negara importir, termasuk Indonesia, berpotensi menghadapi tekanan inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar dan biaya logistik. Hal ini dapat memicu kenaikan harga kebutuhan pokok dan menurunkan daya beli masyarakat.

Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik juga memengaruhi pasar keuangan global. Saham-saham sektor energi cenderung menguat, sementara sektor lain mengalami tekanan. Investor global kini lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, terutama di tengah ketidakjelasan arah konflik.

Jika ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus berlanjut tanpa solusi diplomatik, harga minyak diperkirakan akan tetap tinggi bahkan berpotensi menembus level baru. Hal ini dapat memperpanjang tekanan terhadap ekonomi global yang saat ini masih dalam fase pemulihan.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa stabilitas geopolitik memiliki peran krusial dalam menjaga keseimbangan ekonomi dunia. Dengan volatilitas yang tinggi, pasar energi akan terus menjadi sorotan utama dalam beberapa waktu ke depan.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Dicari)
1. Kenapa harga minyak dunia naik drastis?
Harga minyak naik karena konflik di Selat Hormuz yang mengganggu jalur distribusi minyak global, ditambah risiko serangan terhadap infrastruktur energi.

Baca Juga :  Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000 per Dolar AS! Ini Penyebab Utamanya yang Bikin Pasar Deg-Degan

2. Apa itu Selat Hormuz dan kenapa penting?
Selat Hormuz adalah jalur utama distribusi minyak dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global. Sekitar 20% minyak dunia melewati jalur ini.

3. Berapa harga minyak dunia saat ini?
WTI berada di kisaran US$105 per barel, sementara Brent di atas US$114 per barel, tergantung kondisi pasar terbaru.

4. Apakah harga BBM di Indonesia akan naik?
Kenaikan harga minyak dunia berpotensi memengaruhi harga BBM di Indonesia, terutama jika tren kenaikan berlangsung lama.

5. Apa dampak kenaikan harga minyak bagi masyarakat?
Dampaknya meliputi kenaikan harga BBM, biaya transportasi, harga bahan pokok, hingga tekanan inflasi.

6. Apakah konflik AS dan Iran akan berlanjut?
Masih belum pasti. Namun, jika tidak ada kesepakatan diplomatik, konflik berpotensi terus memanas.

7. Bagaimana dampaknya ke ekonomi global?
Kenaikan harga minyak dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan inflasi, dan memicu ketidakstabilan pasar keuangan

Berita Terkait

Resmi ! Promo Bright Gas Agustus 2026: Diskon Rp8.100 per Tabung, Berlaku 15–23 Agustus
Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 12 Agustus 2026: Dollar AS Rp17.868, Cek Kurs BCA, Mandiri, BNI
Indeks Bisnis-27 Naik Tipis, Saham BUMI hingga BRMS Jadi Penopang
Harga Buyback Emas Pegadaian Hari Ini 12 Agustus 2026 Naik Rp20.000, Antam 1 Gram Capai Rp2,51 Juta
Harga BBM Pertamina Terbaru 12 Agustus 2026: Pertamax Turun, Pertalite Tetap Rp10.000 per Liter
Jelang Pengumuman MSCI 13 Agustus, Investor Wajib Cermati 5 Hal Ini
Gagal Bayar Pinjol Harus Bagaimana? Ini Langkah Aman Hadapi Utang Pinjaman Online
Prabowo Pantau B50, Harga Biosolar di SPBU Pertamina Tetap Rp6.800 per Liter
Berita ini 32 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 19:16 WIB

Resmi ! Promo Bright Gas Agustus 2026: Diskon Rp8.100 per Tabung, Berlaku 15–23 Agustus

Rabu, 12 Agustus 2026 - 15:00 WIB

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 12 Agustus 2026: Dollar AS Rp17.868, Cek Kurs BCA, Mandiri, BNI

Rabu, 12 Agustus 2026 - 09:38 WIB

Indeks Bisnis-27 Naik Tipis, Saham BUMI hingga BRMS Jadi Penopang

Rabu, 12 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Harga Buyback Emas Pegadaian Hari Ini 12 Agustus 2026 Naik Rp20.000, Antam 1 Gram Capai Rp2,51 Juta

Rabu, 12 Agustus 2026 - 07:19 WIB

Harga BBM Pertamina Terbaru 12 Agustus 2026: Pertamax Turun, Pertalite Tetap Rp10.000 per Liter

Berita Terbaru