Jakarta-Harga Bitcoin hari ini, Jumat, 23 Oktober 2026, kembali melemah setelah gagal bertahan di dekat level US$ 85.000. Investor kini mencermati arus dana ETF Bitcoin spot Amerika Serikat dan tekanan ekonomi global yang memengaruhi pasar kripto.
Mengutip data CoinMarketCap dalam laporan Kontan, Bitcoin diperdagangkan pada US$ 81.705 pada pukul 15.30 WIB. Harganya turun 0,22% dalam 24 jam dan terkoreksi 5,16% selama sebulan terakhir. Bitcoin sebelumnya sempat mendekati US$ 85.000 pada 21 Oktober 2026.
Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, menilai pergerakan Bitcoin masih rentan terhadap perubahan sentimen ekonomi dan kondisi pasar global. Karena itu, investor perlu memperhatikan sejumlah indikator sebelum mengambil keputusan investasi.
Analisis internal Bittime mengidentifikasi US$ 80.000 sebagai area support bulanan dan US$ 85.000 sebagai resistance jangka pendek. Jika tekanan jual meningkat, investor perlu mencermati kemampuan Bitcoin mempertahankan area support tersebut. Sebaliknya, kenaikan menuju US$ 85.000 masih membutuhkan dukungan permintaan pasar.
Tekanan juga datang dari ketidakpastian pasar saham, terutama sektor teknologi. Kekhawatiran mengenai valuasi perusahaan teknologi dan besarnya belanja infrastruktur kecerdasan buatan atau AI turut memengaruhi keputusan investor. Selain itu, arah suku bunga Federal Reserve, imbal hasil obligasi pemerintah AS, dan penguatan dolar AS dapat memengaruhi minat terhadap aset berisiko.
Faktor inflasi dan harga minyak turut menjadi perhatian. Riset Bittime mencatat inflasi tahunan AS mencapai 3,7% pada September 2026. Sementara itu, harga minyak Brent sempat menyentuh sekitar US$ 111 per barel pada 20 Oktober 2026. Perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi inflasi dan kebijakan moneter.
Arus dana ETF Bitcoin spot AS juga menjadi indikator penting. Berdasarkan angka yang dikutip dalam riset Bittime, produk tersebut mencatat arus masuk bersih sekitar US$ 526,7 juta pada 19 Oktober 2026. Namun, arus masuk turun menjadi sekitar US$ 23,2 juta pada 20 Oktober 2026. Perubahan ini menunjukkan bahwa minat investor institusional dapat berfluktuasi dan tidak selalu langsung mendorong kenaikan harga Bitcoin.
Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan mencatat transaksi aset kripto mencapai Rp 23,16 triliun pada Agustus 2026, naik 12,87% dibandingkan Juli. Jumlah akun konsumen pedagang aset keuangan digital mencapai 23,21 juta. Meski demikian, peningkatan transaksi tidak menjamin harga Bitcoin akan naik. Investor sebaiknya mempertimbangkan volatilitas, tujuan investasi, dan kemampuan menanggung risiko sebelum membeli atau menjual aset kripto.
Analisis internal Bittime mengidentifikasi US$ 80.000 sebagai support bulanan dan US$ 85.000 sebagai resistance jangka pendek. Level ini bukan jaminan arah harga berikutnya.
4. Apakah arus dana ETF Bitcoin memengaruhi harga?
Arus masuk ETF dapat mendukung permintaan Bitcoin. Namun, dampaknya terhadap harga bergantung pada likuiditas, aktivitas perdagangan, dan kondisi pasar secara keseluruhan.
5. Apakah sekarang waktu yang tepat membeli Bitcoin?
Keputusan bergantung pada tujuan investasi, toleransi risiko, dan jangka waktu investasi. Bitcoin merupakan aset volatil, sehingga investor perlu menghindari keputusan hanya berdasarkan pergerakan harga harian. (*)
Editor : FANDA YOSEPHTA









