Jakarta-Investasi kripto berpotensi memberikan keuntungan, tetapi pergerakan harga yang tajam juga dapat menggerus modal. Karena itu, investor perlu mengetahui cara menghitung keuntungan dan kerugian sebelum membeli atau menjual Bitcoin maupun aset kripto lainnya.
Cara paling sederhana adalah membandingkan harga beli dengan harga jual. Namun, perhitungan yang lebih akurat harus memasukkan biaya transaksi dan biaya lain yang berlaku di platform. Rumus ini membantu investor mengetahui hasil bersih, bukan sekadar kenaikan harga aset.
Sebagai contoh, seorang investor membeli Bitcoin senilai Rp10 juta. Beberapa waktu kemudian, nilai aset tersebut naik menjadi Rp12 juta. Selisih Rp2 juta menunjukkan keuntungan kotor sebesar 20 persen sebelum memperhitungkan biaya transaksi. Angka tersebut belum tentu sama dengan keuntungan bersih yang diterima investor.
Untuk menghitung hasil bersih, investor perlu mengurangi keuntungan kotor dengan seluruh biaya pembelian dan penjualan yang relevan. Misalnya, total biaya kedua transaksi mencapai Rp100.000. Dengan demikian, keuntungan bersih menjadi Rp1,9 juta, atau sekitar 19 persen dari modal awal Rp10 juta. Contoh ini mengasumsikan tidak ada biaya lain yang belum dihitung.
Sebaliknya, kerugian terjadi ketika nilai penjualan lebih rendah daripada total modal dan biaya terkait. Jika investasi Rp10 juta turun menjadi Rp8 juta, kerugian kotor mencapai Rp2 juta atau 20 persen. Setelah biaya transaksi diperhitungkan, kerugian bersih dapat menjadi lebih besar.
Investor juga perlu membedakan kerugian yang belum terealisasi dengan kerugian yang sudah terealisasi. Kerugian belum terealisasi muncul ketika harga pasar berada di bawah harga perolehan, tetapi aset belum dijual. Sementara itu, kerugian terealisasi tercatat setelah penjualan menghasilkan nilai bersih di bawah modal terkait. Meski belum dijual, penurunan nilai tetap perlu diperhatikan dalam pengelolaan risiko.
Apabila investor membeli aset yang sama secara bertahap, harga perolehan rata-rata juga perlu dihitung. Caranya, jumlahkan seluruh biaya pembelian lalu bagi dengan total aset yang diperoleh. Metode ini membantu investor membandingkan harga pasar dengan biaya perolehan, meskipun pencatatan biaya dan metode akuntansi tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan pelaporan.
Selain menghitung keuntungan, investor perlu memperhatikan volatilitas, likuiditas, keamanan platform, serta risiko kehilangan modal. Otoritas Jasa Keuangan juga mengingatkan pentingnya memahami risiko aset keuangan digital dan kripto. Karena itu, gunakan dana sesuai kemampuan menanggung kerugian dan hindari mengambil keputusan hanya berdasarkan kenaikan harga dalam waktu singkat.
Pada akhirnya, memahami cara menghitung keuntungan dan kerugian kripto membantu investor membuat keputusan yang lebih terukur. Catat harga beli, jumlah aset, biaya transaksi, serta hasil penjualan secara rutin. Perhitungan tersebut bukan jaminan keuntungan, tetapi menjadi dasar penting untuk mengevaluasi kinerja investasi dan mengendalikan risiko. (*)
Editor : FANDA YOSEPHTA









