JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Jumat, 24 Juli 2026, di zona merah. IHSG turun 118 poin atau 1,88 persen ke level 6.196,43 setelah sentimen global memburuk akibat kebijakan tarif dagang terbaru Amerika Serikat serta lonjakan harga minyak dunia.
Tekanan jual terjadi hampir di seluruh sektor. Data perdagangan menunjukkan hanya 104 saham yang menguat, sementara 587 saham melemah dan 105 saham bergerak stagnan. Sepanjang sesi perdagangan, IHSG bergerak di rentang 6.159 hingga 6.268 dengan kapitalisasi pasar mencapai sekitar Rp10.894 triliun.
Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar mencapai sekitar Rp1,7 triliun. Namun, saham BMRI justru terkoreksi 5,71 persen ke level Rp4.130 per saham. Posisi berikutnya ditempati PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) dengan nilai transaksi Rp1,2 triliun yang turun 3,23 persen menjadi Rp2.100 per saham.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar lainnya juga mengalami pelemahan. Saham BUMI merosot 6,56 persen ke Rp171 per saham, BBRI turun 1 persen ke Rp2.960, sedangkan DSSA melemah 0,57 persen ke level Rp870 per saham. Kondisi tersebut memperlihatkan tekanan jual yang cukup merata di pasar.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai pelemahan IHSG dipicu meningkatnya ketidakpastian global. Kebijakan tarif impor terbaru Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan geopolitik membuat pelaku pasar mengurangi aset berisiko.
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent yang menembus lebih dari 100 dolar AS per barel turut meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Kondisi itu dipicu oleh meningkatnya konflik di Timur Tengah, termasuk gangguan terhadap jalur distribusi energi yang berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia.
Tarif impor baru yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap sejumlah negara mitra dagang juga diperkirakan memicu gangguan rantai pasok global. Kebijakan tersebut berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia sekaligus meningkatkan risiko inflasi dan tekanan terhadap aktivitas perdagangan internasional.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dan kebijakan tarif AS diperkirakan meningkatkan beban subsidi energi, mempersempit ruang fiskal pemerintah, serta memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah, inflasi, hingga daya beli masyarakat. Pelaku pasar pun disarankan tetap mencermati perkembangan ekonomi global sebelum mengambil keputusan investasi.
FAQ
Mengapa IHSG turun hari ini?
IHSG melemah akibat kebijakan tarif dagang baru Amerika Serikat, kenaikan harga minyak dunia, dan meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Berapa penutupan IHSG pada 24 Juli 2026?
IHSG ditutup di level 6.196,43, turun 1,88 persen atau sekitar 118 poin.
Saham apa yang paling aktif diperdagangkan?
BMRI menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar, disusul TPIA.
Saham apa yang mengalami penurunan terbesar?
Di antara saham aktif, BUMI turun 6,56 persen, BMRI melemah 5,71 persen, dan TPIA terkoreksi 3,23 persen.
Apakah kondisi ini berdampak pada ekonomi Indonesia?
Potensinya ada. Harga minyak yang tinggi dan tarif dagang AS dapat meningkatkan inflasi, menambah beban subsidi energi, menekan rupiah, dan memperlambat pertumbuhan ekonomi jika berlangsung dalam jangka panjang.
Editor : Fanda Yosephta









