Trump Umumkan Apple dan Intel Bersatu Bangun Chip di Amerika Serikat

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 20 Juni 2026 - 18:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kerja sama strategis antara Apple dan Intel untuk merancang serta memproduksi chip semikonduktor di Amerika Serikat. Pengumuman tersebut langsung menarik perhatian pasar global dan memicu lonjakan saham Intel.

Dalam pernyataannya melalui platform Truth Social, Trump menyebut kerja sama ini sebagai bagian dari upaya mengembalikan kejayaan industri semikonduktor Amerika yang selama beberapa dekade berpindah ke negara lain, khususnya Asia.

Menurut Trump, Apple telah menyetujui kolaborasi dengan Intel untuk mengembangkan dan memproduksi chip di dalam negeri guna memperkuat rantai pasok teknologi Amerika Serikat.

Apple dan Intel Perkuat Industri Chip AS

Trump menilai Amerika Serikat terlalu lama bergantung pada manufaktur chip luar negeri. Karena itu, pemerintahannya mendorong perusahaan teknologi besar untuk memproduksi semikonduktor secara domestik.

“Apple telah setuju bekerja sama dengan Intel untuk merancang dan membangun chip mereka di Amerika,” ujar Trump dalam unggahan resminya.

Meski demikian, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Apple maupun Intel terkait rincian kerja sama tersebut.

Jika terealisasi, kolaborasi ini berpotensi menjadi salah satu proyek teknologi terbesar dalam sejarah industri semikonduktor Amerika.

Saham Intel Melonjak Usai Pengumuman

Kabar kerja sama tersebut langsung mendapat respons positif dari investor.

Saham Intel sempat melonjak hingga 10 persen pada perdagangan pra-pasar sebelum akhirnya bertahan di kisaran kenaikan 8,8 persen. Sementara saham Apple menguat sekitar 0,3 persen.

Baca Juga :  iPhone 18 Pro Max vs iPhone 17 Pro Max, Ini Perbedaan Spesifikasinya

Dalam satu tahun terakhir, performa saham Intel memang mengalami kebangkitan signifikan. Setelah sempat tertinggal dalam persaingan industri chip dan kecerdasan buatan (AI), nilai saham perusahaan itu tercatat melonjak lebih dari 460 persen.

Kapitalisasi pasar Intel kini mencapai sekitar US$608,7 miliar atau setara ribuan triliun rupiah.

Intel Bangkit di Era Lip-Bu Tan

Perubahan besar di tubuh Intel mulai terlihat sejak Lip-Bu Tan dipercaya memimpin perusahaan sebagai CEO.

Di bawah kepemimpinannya, Intel berhasil menarik kembali minat investor Wall Street dan memperkuat bisnis foundry atau jasa manufaktur chip untuk perusahaan lain.

Intel juga mulai memperoleh dukungan dari sejumlah raksasa teknologi yang sebelumnya lebih memilih produsen chip lain.

Kondisi ini menjadi momentum penting bagi perusahaan yang selama beberapa tahun terakhir kalah bersaing dalam tren kecerdasan buatan.

Nvidia dan Elon Musk Ikut Terlibat

Trump juga mengungkapkan bahwa pemerintahannya telah mendorong kerja sama antara Intel dan Nvidia dalam pengembangan chip generasi terbaru.

Menurutnya, Nvidia telah menyepakati pembangunan chip kelas dunia dengan dukungan fasilitas manufaktur Intel.

Tak hanya itu, miliarder teknologi Elon Musk disebut ikut berkomitmen membangun proyek pabrik chip raksasa bernama TerraFab bersama Intel.

Baca Juga :  Infinix Hot 70 Pro 5G Segera Meluncur, Bawa Layar Belakang Interaktif

Proyek tersebut diklaim akan menjadi salah satu fasilitas produksi chip terbesar di dunia dan menjadi tonggak penting bagi pengembangan industri semikonduktor Amerika Serikat.

Industri AI Dorong Permintaan Chip

Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan gangguan rantai pasok internasional, sektor teknologi berbasis kecerdasan buatan masih menunjukkan pertumbuhan kuat.

Permintaan terhadap chip AI terus meningkat seiring masifnya pembangunan pusat data dan infrastruktur digital di berbagai negara.

Kondisi ini membuat saham perusahaan semikonduktor tetap menjadi incaran investor.

Bahkan, indeks PHLX Semiconductor Sector Nasdaq yang berisi perusahaan-perusahaan chip terbesar di Amerika Serikat dilaporkan mencatat kenaikan sekitar 90 persen sepanjang tahun ini.

Upaya Mengurangi Ketergantungan pada Asia

Pengumuman kerja sama Apple dan Intel juga dinilai sebagai bagian dari strategi Amerika Serikat untuk mengurangi ketergantungan terhadap produksi chip di Asia.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah AS terus menggelontorkan berbagai insentif guna menarik investasi manufaktur semikonduktor ke dalam negeri.

Langkah tersebut dianggap penting untuk menjaga keamanan rantai pasok teknologi, terutama di tengah meningkatnya persaingan global dalam sektor kecerdasan buatan, komputasi awan, dan perangkat elektronik canggih.

Jika seluruh rencana tersebut berjalan sesuai target, Amerika Serikat berpotensi kembali menjadi salah satu pusat manufaktur chip terbesar dunia dalam beberapa tahun ke depan.

Berita Terkait

Punya Kekayaan Rp4.518 Triliun, Mark Zuckerberg Tetap Gunakan Galaxy S24 Ultra
Huawei MatePad Air Z Standar dan Enjoy Edition, Ini Perbedaan Spesifikasi dan Harganya
ASUS ExpertBook P3 G1 Resmi di Indonesia, Harga Mulai Rp14,69 Juta
PC Gaming ASUS ROG G1000 Meluncur, Pendinginan Mampu Tangani 1.000 Watt
J5 EV Laris Manis, Jaecoo Buka Peluang Hadirkan Mobil Listrik Baru
BYD Siapkan Sedan Listrik Ultra-Mewah, Pintu Belakang Ala Rolls-Royce
Portal Medicare Australia Dibobol Agen AI, OpenAI Buka Suara
Logitech G Pro X3 Superstrike Resmi Rilis, Bawa Haptic dan 48.000 DPI
Berita ini 26 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 10:00 WIB

Punya Kekayaan Rp4.518 Triliun, Mark Zuckerberg Tetap Gunakan Galaxy S24 Ultra

Sabtu, 26 September 2026 - 08:05 WIB

Huawei MatePad Air Z Standar dan Enjoy Edition, Ini Perbedaan Spesifikasi dan Harganya

Sabtu, 26 September 2026 - 05:00 WIB

ASUS ExpertBook P3 G1 Resmi di Indonesia, Harga Mulai Rp14,69 Juta

Sabtu, 26 September 2026 - 04:00 WIB

PC Gaming ASUS ROG G1000 Meluncur, Pendinginan Mampu Tangani 1.000 Watt

Sabtu, 26 September 2026 - 02:00 WIB

J5 EV Laris Manis, Jaecoo Buka Peluang Hadirkan Mobil Listrik Baru

Berita Terbaru