KERINCI – Perbaikan ruas jalan di kawasan Renah Pemetik, Kabupaten Kerinci, mulai dilakukan setelah lama dikeluhkan masyarakat akibat kondisi jalan yang rusak, berlumpur, dan sulit dilalui. Namun di tengah proses rehabilitasi yang sedang berjalan, muncul pertanyaan dari warga terkait sumber anggaran yang digunakan untuk membiayai pekerjaan tersebut.
Pantauan di lapangan menunjukkan perbaikan yang dilakukan masih terbatas pada pengerukan badan jalan dan penimbunan material untuk memperkeras permukaan jalan. Kondisi tersebut dinilai belum menjadi solusi permanen mengingat karakteristik tanah di kawasan tersebut yang lunak dan sering tergenang saat musim hujan.
Sejumlah warga menilai perbaikan yang dilakukan memang membantu akses transportasi untuk sementara waktu, terutama bagi petani dan masyarakat yang setiap hari melintasi ruas jalan tersebut. Namun mereka khawatir kondisi jalan akan kembali rusak dalam waktu singkat apabila tidak disertai pembangunan konstruksi yang lebih kuat.
“Kalau hanya ditimbun dan diratakan seperti ini, kemungkinan besar tidak akan bertahan lama. Apalagi saat hujan turun, jalan kembali berlumpur,” ujar salah seorang warga yang ditemui di lokasi.
Selain mempertanyakan kualitas pekerjaan, masyarakat juga mulai menyoroti transparansi sumber pendanaan proyek tersebut. Hingga saat ini belum ada informasi resmi yang menjelaskan apakah perbaikan jalan berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Kerinci, bantuan Pemerintah Provinsi Jambi, program pemerintah pusat, atau bahkan dukungan pihak swasta maupun dana pribadi.
Berdasarkan penelusuran pada Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP) LKPP, belum terlihat adanya paket kegiatan yang secara spesifik mencantumkan rehabilitasi atau perbaikan Jalan Renah Pemetik. Kondisi ini memunculkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat mengenai asal-usul pembiayaan pekerjaan tersebut.
Pengamat tata kelola pembangunan daerah menilai keterbukaan informasi anggaran menjadi hal penting agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat. Setiap pekerjaan infrastruktur yang menggunakan dana publik idealnya diumumkan secara terbuka, mulai dari sumber pendanaan, nilai anggaran, hingga pelaksana kegiatan.
Di sisi lain, warga berharap pemerintah segera memberikan penjelasan resmi terkait status pekerjaan yang sedang berlangsung. Mereka juga meminta agar perbaikan jalan tidak berhenti pada tahap pengerasan semata, melainkan ditingkatkan menjadi pembangunan jalan yang lebih permanen agar mampu menunjang aktivitas ekonomi masyarakat dalam jangka panjang.
Jalan Renah Pemetik sendiri merupakan akses penting bagi warga dan petani setempat. Selain menjadi jalur transportasi harian, ruas tersebut juga berperan dalam mendukung distribusi hasil pertanian yang menjadi salah satu sektor utama perekonomian masyarakat di wilayah tersebut. Karena itu, kejelasan anggaran dan kualitas pembangunan menjadi perhatian besar warga agar manfaat perbaikan benar-benar dapat dirasakan secara berkelanjutan.
FAQ
Mengapa perbaikan Jalan Renah Pemetik menjadi sorotan?
Karena meskipun perbaikan sudah dilakukan, belum ada penjelasan resmi mengenai sumber anggaran yang digunakan untuk membiayai pekerjaan tersebut.
Bentuk perbaikan apa yang dilakukan saat ini?
Perbaikan yang terlihat di lapangan berupa pengerukan badan jalan dan pengerasan menggunakan material timbunan.
Apa keluhan utama masyarakat?
Masyarakat khawatir jalan tidak akan bertahan lama karena kondisi tanah yang lunak dan berlumpur, terutama saat musim hujan.
Apakah kegiatan ini tercantum di SiRUP LKPP?
Berdasarkan penelusuran yang dilakukan media, belum terlihat paket kegiatan yang secara spesifik mencantumkan perbaikan Jalan Renah Pemetik.
Apa harapan warga?
Warga berharap ada transparansi terkait sumber dana serta pembangunan jalan yang lebih permanen agar akses transportasi dan distribusi hasil pertanian menjadi lebih lancar. (Fyo)









